Kisah "Para Pendekar"

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

(Terbang Menjemput Badai . . . )

Bagi saya yang Orang Jawa 'Kuno', imajinasi tentang typikal 'Pendekar', bukan seperti Avatar, Iron Man, Jackie Chan, atau Jason Bourne. Tapi cuma sosok sederhana dalam cerita silat Jawa 'Naga Sasra Sabuk Inten', Mahesa Jenar.

Tokoh yang berpangkat 'Rangga', acap disebut Rangga Tohjaya, dalam susunan ke-prajuritan Kesultanan Demak Bintoro ini, rela tinggalkan semua nikmat yang diterima di lingkungan istana. Pergi mencari sepasang pusaka yang lenyap dari 'gedong pusaka' kerajaan. Keris Naga Sasra dan Sabuk Inten.

Bertahun mengembara tak tentu arah. Endus kabar berita, lalu songsong kemana saja ke tempat dimana dia perkirakan kedua pusaka tersebut berada.

Sakti mandraguna memang, berbekal ajian 'Sasrabirawa', tapi dibanding 'calon' musuh yang akan dia hadapi, Pasingsingan Sepuh, Bugel Kaliki, Simarodra Tua, dan lain-lain, Rangga Tohjaya tak akan berarti apa-apa. Karena mereka 'sepantaran' dan 'sekelas' gurunya, mendiang Ki Ageng Pengging Sepuh.

Dia sadar akan bahaya itu, namun tak surutkan langkahnya. Negerinya, Demak Bintoro, amat sangat membutuhkannya. Rangga Tohjaya, pria bertubuh sedang namun tegap, selalu ber-baju hijau, dan dikupingnya terselip sekuntum melati, sosok teladan ksatria, Jawa, itu pun pergi menjemput badai . . .

Tergetar hati saya melihat gambar Menlu Retno, Menkes Dokter Terawan, Panglima TNI Agus Tjahyadi, sematkan ban 'Merah Putih' di lengan kanan beberapa 'relawan' yang akan pergi menjemput saudara2nya ke Wuhan. Pusat pusaran 'berita' dan 'derita' virus Corona.

Bagaimana tidak, berita yang muncul kadang simpang-siur. Menenangkan sekejap kemudian berubah jadi menegangkan. Apa pun yang dikabarkan, nyatanya telah 17.000 orang terpapar, lebih 300 orang tewas . . .

Anak Lanang kami di Jerman sana, satu negeri yang jauh, negeri yang telah jauh lebih maju, melaporkan via FB. Bagaimana seorang tukang potong rambut menyergahnya, ketika dia baru masuk ruangan. "Kamu Orang China ya ? Kalau iya saya tak mau memotong rambutmu !"

Dan sekarang ke-42 orang itu berangkat menjemput ke-243 'saudara2'nya di Wuhan sana. Termasuk 5 orang tim 'pendahulu'. Tempat dan tujuan yang pasti dan terukur, tapi tetap saja menggetarkan setiap nyali . . .

Sayang memang, 4 orang bersikeras untuk tinggal disana, 3 orang lagi dinyatakan tidak lolos oleh Pemerintah Beijing. Berdasar acuan operasi WHO, Organisasi Kesehatan Dunia.

Ini operasi yang cukup rumit, mengingat ada WNI yang bermukim sejauh sampai 500 kilo meter dari Wuhan, koordinasi antar negara, pilihan pesawat yang terbatas, dan lain-lain.

Meski begitu dengan tenang Dokter Terawan, MenKes, bergurau menenangkan. Lebih mudah evakuasi WNI Wuhan dari pada tangkal 'hoax' virus Corona.

MenLu, Retno, dengan mimik serius tekankan target waktu 24 jam. Yang kesankan ketepatan perhitungan dan profesionalisme . . .

Captain Destyo Usodo, Captain Suyono Suwito, First Officer Hendra Tjin dan Hendra Widya, telah mendaratkan kembali pesawatnya di Hang Nedim Batam pukul 8.30 WIB. Lalu seluruh penumpang, termasuk mereka ber-empat, berjumlah 285 orang di pindahkan ke Natuna. Untuk menjalani proses karantina

Dalam rombongan terdapat seorang dokter, dan ternyata seorang dokter kandungan RSPAD, ada juga La Ode Roni bersama ke 8 rekannya dari unsur TNI, ada tim Kementrian Kesehatan, Luar Negeri, dan lain-lain.

Mereka bukan tentara, ASN, dan crew pesawat abal2, kelas kaleng rombeng. Jauh kelasnya dari dari seorang ngustat, anggota DPR, politikus setengah ngustat, atau netizen, yang cuma 'nyinyir' dan tebar kecemasan.

Sungguh negeri ini masih sangat menjanjikan. Ada banyak memang para pengkhianat, sejenis Pasingsingan, Simarodra, Lawa Ijo, namun masih banyak menyimpan stok para pendekar. Kita masih punya banyak Mahesa Jenar. Atau mungkin juga Godam, Gundala Putera-Petir.

Para WNI Wuhan pun bukan warga negara abal2. Cuma merintih sedih. Pasang mimik lesu yang bisa mencemaskan keluarga dan saudara2 mereka se-tanah air.

Bersama mereka lakukan senam pagi, ber-cengkarama, menegarkan diri, berkumpul tanpa hirau suku dan agama. Ingin tunjukkan, 'Inilah kami warga negeri para pendekar !'

Salam Bagimu Negeri !

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Tuesday, February 4, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: