Kisah “Para Pendekar”

Ini operasi yang cukup rumit, mengingat ada WNI yang bermukim sejauh sampai 500 kilo meter dari Wuhan, koordinasi antar negara, pilihan pesawat yang terbatas, dan lain-lain.

Meski begitu dengan tenang Dokter Terawan, MenKes, bergurau menenangkan. Lebih mudah evakuasi WNI Wuhan dari pada tangkal ‘hoax’ virus Corona.

MenLu, Retno, dengan mimik serius tekankan target waktu 24 jam. Yang kesankan ketepatan perhitungan dan profesionalisme . . .

Captain Destyo Usodo, Captain Suyono Suwito, First Officer Hendra Tjin dan Hendra Widya, telah mendaratkan kembali pesawatnya di Hang Nedim Batam pukul 8.30 WIB. Lalu seluruh penumpang, termasuk mereka ber-empat, berjumlah 285 orang di pindahkan ke Natuna. Untuk menjalani proses karantina

Dalam rombongan terdapat seorang dokter, dan ternyata seorang dokter kandungan RSPAD, ada juga La Ode Roni bersama ke 8 rekannya dari unsur TNI, ada tim Kementrian Kesehatan, Luar Negeri, dan lain-lain.

Mereka bukan tentara, ASN, dan crew pesawat abal2, kelas kaleng rombeng. Jauh kelasnya dari dari seorang ngustat, anggota DPR, politikus setengah ngustat, atau netizen, yang cuma ‘nyinyir’ dan tebar kecemasan.

Sungguh negeri ini masih sangat menjanjikan. Ada banyak memang para pengkhianat, sejenis Pasingsingan, Simarodra, Lawa Ijo, namun masih banyak menyimpan stok para pendekar. Kita masih punya banyak Mahesa Jenar. Atau mungkin juga Godam, Gundala Putera-Petir.

Para WNI Wuhan pun bukan warga negara abal2. Cuma merintih sedih. Pasang mimik lesu yang bisa mencemaskan keluarga dan saudara2 mereka se-tanah air.

Bersama mereka lakukan senam pagi, ber-cengkarama, menegarkan diri, berkumpul tanpa hirau suku dan agama. Ingin tunjukkan, ‘Inilah kami warga negeri para pendekar !’

Salam Bagimu Negeri !

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *