Kisah Nan Sarat Makna "Bumi Manusia"

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Film yang konon katanya kurang greget lantaran pemeran utamanya Iqbaal Ramadhan, lalu soal banyak netizen yang pesimis jika maha karya seorang Pramoedya Ananta Toer bakal berantakan jika dijadikan tayangan layar lebar dengan durasi terbatas.

Saya yang diajak menonton film ini oleh suami yang sudah cukup banyak membaca buku-buku karya Pram, pun tak berharap jauh-jauh. Saya tak menonton film Dylan, jadi saya tak tahu bagaimana sebenarnya kemampuan akting Iqbaal selain membaca komentar pemirsa sekalian bahwa kemungkinannya Iqbaal bukan aktor yang cocok memerankan tokoh Minke.

Tapi seperti kata teman saya yang sudah beberapa kali berkesempatan membuat film, sepuluh menit pertama dari sebuah film adalah yang paling krusial. Kalau di sepuluh menit pertama penonton bisa dicuri perhatiannya, yakinlah seterusnya kau bisa bernapas lega.

Dan sepuluh menit pertama di film ini cukup mulus, meski saya sepakat kalau kumis tipis Minke memang sedikit mengganggu. Selebihnya Iqbaal bisa bermain tanpa kelihatan canggung atau bahkan keteteran. Kurang gagah dan gesit iya tapi cara ia melafalkan bahasa Belanda dengan lugas, pun bagaimana medok Jawanya terlantun secara alami, kerja Iqbaal sudah lebih dari sekadar bagus.

Pemeran lainnya pun, terutama wanita. Nyai Ontosoroh yang diperankan oleh Ine Febriyanti cukup pas memerankan seorang wanita kaya, tegas, cantik sekaligus menyimpan banyak kesedihan. Saya membayangkan hanya aktris Happy Salma yang bisa jadi lawan tangguh yang cukup setara bagi Ine dalam memerankan perempuan Jawa berstatus gundik tetapi tetap berprinsip tegas soal hak dan harga diri.

Annelies Mellema sendiri yang diperankan oleh Mawar de Jongh pun tak kalah memikatnya. Jelita, polos, manja, baik hati, namun tetap memiliki prinsip lebih bangga menjadi seorang pribumi daripada seorang anak berketurunan Belanda. Berlawanan dengan kakak laki-lakinya yang menganggap rendah kaum pribumi bahkan ibu kandungnya sendiri.

Dari beberapa review yang sempat saya baca, sebagian penonton kecewa sebab menganggap film Bumi Manusia menampilkan tak lebih dari sekadar cerita percintaan Minke dan Annelies. Mereka yang masih belum bisa melepaskan Iqbaal Ramadhan yang kadung masyhur berkat film Dylan. Padahal kalau mau dilihat secara utuh, film ini sudah berhasil sedemikian apik dikemas untuk menampilkan hal-hal sekaligus pesan-pesan penting yang ingin disampaikan oleh Pramoedya dalam bukunya.

Istilah "Nyai" misalnya, membuka pemahaman saya lebih jauh tentang betapapun Sanikem alias Nyai Ontosoroh telah beroleh hidup yang layak, status yang disandangnya sebagai gundik dan bukan istri sah tetap menjadi ganjalan baginya untuk hidup secara terhormat. Biar bagaimana ia telah berperan besar mengelola dan memajukan bisnis perkebunan Boerderij Buitenzorg di Wonokromo, Nyai Ontosoroh di kenyataannya tetap diharuskan berjalan merangkak selayaknya pribumi kelas bawah dan tidak diperbolehkan menggunakan bahasa Belanda. Kelak pun di akhir cerita penonton akan disuguhi kenyataan pahit bagaimana ia dan Annelies putrinya dipisahkan dengan sedemikian mudah oleh perkara status sebagai Nyai tersebut.

Cerita perempuan-perempuan di dalam film ini justru lebih menarik perhatian saya ketimbang berkonsentrasi mengkritisi Iqbaal yang memerankan sosok Minke. Ayu Laksmi misalnya, pemeran ibu Minke yang juga sebagai istri Bupati, paling mencuri perhatian saya. Berpostur kurus dengan kebaya dan sanggul, perempuan ini terlihat gemulai dan sabar. Tetapi dari beberapa percakapan, kelapangan jiwa dan kebijaksanaannya tergambar secara utuh. Bagaimana ia mengingatkan Minke tentang tetap menjaga diri dengan baik lalu kelak nanti ia datang seorang diri demi menikahkan anaknya dengan Annelies. Ia membawakan kebaya yang serupa dengan yang akan dikenakannya untuk Nyai Ontosoroh supaya mereka tampil serasi. Ia meminta dipanggil mbakyu saja, menegaskan bahwa ia tak peduli soal status Sanikem yang dulunya dijual oleh bapaknya dengan harga 25 gulden saja atau Nyai Ontosoroh yang tak pernah diperistri secara sah oleh Herman Mellema. Sekadar pribumi biasa atau priyayi, bukan soal baginya.

Dan Annelies si bunga akhir jaman yang jelita tiada terkira tapi digambarkan sebagai pribadi lemah apalagi jika tak ada Minke di sisinya. Justru perempuan muda inilah yang sebenarnya telah menjadi sumber inspirasi dan kebahagiaan Minke pun Nyai Ontosoroh. Annelies pula yang mendorong Minke untuk tetap menyelesaikan sekolahnya demi kelak bisa membuat suatu perubahan bagi kaumnya. Annelies yang memendam trauma diperkosa oleh kakak kandungnya sendiri tak sekadar menjadi pemanis di film ini, walau tak bisa dipungkiri kecantikannya memang sangat mudah menghipnotis. Di akhir cerita, ia justru paling siap menerima keputusan pemerintah Hindia Belanda yang memisahkan dirinya dengan ibu serta suaminya, untuk pergi ke Belanda dan tinggal bersama wali dari ayahnya yang sah.

Annelies yang manis dan semula kerap terlihat lemah, meminta ibunya menikah lagi supaya beliau memiliki anak perempuan yang sepenuhnya berdarah pribumi sebab ia sudah merasa mengecewakan ibunya dengan ketidakmampuannya menjadi seorang perempuan pribumi seutuhnya. Lalu kepada Minke ia berpesan untuk mengingat hal-hal yang baik dan menyenangkan saja tentang mereka berdua.

Saya tak tahu bagaimana pusingnya seorang Salman Aristo harus menyingkat isi novel Pram menjadi naskah film yang nantinya hanya berdurasi kurang lebih 3 jam saja. Bagaimana ia memilih dengan cermat kisah mana yang hendak ia ambil dan ia lepaskan, lalu dengan hati-hati menjalin kembali kepingan-kepingan cerita yang sudah ia pilih menjadi sebuah kisah yang tetap utuh, menarik namun sederhana untuk dipahami. Yang ajaibnya penonton jadi bisa memahami pikiran-pikiran seorang Pramoedya Ananta Toer lelaki hebat di balik semua kisah ini melalui cara sederhana; dengan menonton film ini.

Pun Hanung Bramantyo. Bagaimana ia mengeksekusi naskah cerita tersebut dan memilih serta mengatur pemain-pemain yang mungkin tidak sepenuhnya sempurna tapi juga sudah sangat layak untuk membawakan perannya masing-masing, di tengah keragu-raguan publik akan kemampuannya mengolah sebuah maha karya dari seorang penulis setenar Pramoedya Ananta Toer.

Kerja yang tak terbayangkan beban dan kerumitannya. Tapi sebuah kerja yang akhirnya sangat layak diberi tepukan riuh dan ucapan selamat.

***

Pram diasingkan di Pulau Buru ketika kisah ini lahir di kepalanya. Ia tak punya alat untuk memindahkannya ke atas kertas maka kisah Minke ia ceritakan berulang-ulang tanpa bosan kepada teman-temannya sesama tahanan di Pulau Buru. Pram tak mau terlupa sedikitpun maka bercerita ulang itulah satu-satunya upaya yang bisa membuatnya terus mengingat detail kisah yang sangat ingin ia tuliskan.

Novel Bumi Manusia berhasil dituliskan pada tahun 1975, pernah dicetak ulang sepuluh kali berturut-turut hanya dalam rentang waktu satu tahun (1980-1981).

Buku ini akhirnya dilarang oleh Kejaksaan Agung tahun setelahnya dengan tuduhan mempropagandakan ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme dan Komunisme, walau di dalam buku ini tidak ada disebut sedikit pun tentang ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme atau komunisme.

Yang ada disebut hanyalah Nasionalisme.

***

Mengapa aku ceritakan ini padamu, Ann? Karena aku tak ingin melihat anakku mengulangi pengalaman terkutuk itu. Kau harus kawin secara wajar. Kawin dengan seseorang yang kau sukai dengan semau sendiri. Kau anakku, kau tidak boleh diperlakukan seperti hewan semacam itu. Anakku tak boleh dijual oleh siapa pun dengan harga berapa pun. Mama yang menjaga agar yang demikian takkan terjadi atas dirimu. Aku akan berkelahi untuk harga diri anakku. Ibuku dulu tak mampu mempertahankan aku, maka dia tidak patut jadi ibuku. Bapakku menjual aku sebagai anak kuda, dia pun tidak patut jadi bapakku. Aku tak punya orang tua. [Nyai Ontosoroh kepada Annelies]

(Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer)

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Sunday, August 25, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: