Kisah Mbah Owi Setahun Lalu

ilustrasi
Oleh : Agung Wibawanto
 
Tepat 8 tahun yang lalu (21 September 2012), ada seorang calon pejabat penting DKI Jakarta datang dan mampir untuk sholat Jumat di Masjid Nurul Barkah di Bandara Soeta, Tangerang, Banten. Perawakannya yang kurus sungguh sangat tidak menunjukkan ia seorang pejabat penting. Maka selalu heran, mengapa jika sudah jadi pejabat yg mapan terus badan jadi melar?
Ia masuk ke dalam masjid dari pintu belakang dan ikut berdesakan antri dengan jamaah lainnya. Sama sekali tidak ada kok yang namanya perlakuan khusus untuknya, dan ia tidak meminta itu. Sosok tersebut ceritanya ingin pulang ke Solo setelah dipastikan menjadi Gubernur Terpilih DKI Jakarta 2012-2017. Mungkin saja memang orang masih awam dengan sosok pendatang dari Solo itu.
Ya, dialah Joko Widodo atau kerap disapa Jokowi. Dalam kisah tersebut, hampir tidak ada orang yang mengetahui siapa dia, bahkan jamaah yang duduk di sebelahnya, "Saya tidak sangka kalau disamping saya itu pak Jokowi. Karena, dia datang dari arah belakang dan berebut barisan dengan jamaah lainnya. Jadinya seperti warga biasa saja dan tidak ada keistimewaan," kata Eky, usai sholat Jumat.
Kejadian ini sempat saya abadikan di akun fb saya delapan tahun lalu. Seperti yang sudah saya duga pasti ada komen rada miring dalam postingan tersebut. Dikatakannya bahwa, "Akan lebih baik jika seorang pemimpin itu memimpin sholat," ucapnya. Sebenarnya saya ingin tertawa geli, karena sebelumnya Jokowi difitnah China dan non muslim.
Apalagi sekarang pastilah akan tertawa geli lagi, karena Jokowi tidak hanya mengimami sholat di dalam negeri bahkan di luar negeri. Namun apa? Itu pun tetap disalahkan, "Menjadi imam sholat itu diminta atau mengajukan diri?" Atau, "Mestinya yang menjadi imam adalah orang yang lebih soleh, jangan memaksakan hanya untuk pencitraan".
Siapa yang gak geli coba? Ketika dikatakan bahwa Jokowi menjadi imam karena diminta, maka dikatakan tidak berani mengajukan diri. Jika dikatakan mengajukan diri maka dibilang gak tau diri. Itulah ciri-ciri orang munafik yang selalu menganggap salah kepada orang yang mau berbuat kebaikan. Bagi mereka Jokowi tetap salah dan mereka lah yang benar. Itulah munafik sesungguhnya.
Apakah Jokowi membalas? Tidak. Ia membiarkan saja dan mengatakan, "Berbicara hanya menghasilkan alasan. Bekerja menghasilkan sesuatu". Ketimbang membuat alasan untuk menjawab nyinyiran, baginya lebih produktif mengabaikan dan terus saja bekerja. Ini tipikal orang cerdas yang berbalikan dengan orang munafik tadi.
Entah berapa kali kecerdasan Jokowi diuji dengan beragam kasus yang memojokkannya hingga fitnah yang bertebaran. Ia tangkis satu persatu hingga peluru itu balik kepada yang menembakkan. Tidak secara langsung memang, bahkan terkesan biasa namun sungguh telak (mungkin) efek dari sikap dan pikiran cerdas Jokowi.
Mungkin akan menjadi daftar panjang kasus-kasus atau ujian yang sempat dihadapi Jokowi namun kemudian selesai (baik buat Jokowi namun buruk bagi kaum munafikun). Satu semester terakhir saja, muncul beberapa "skenario" yang ingin menyerang Jokowi, sebut saja kasus diskoordinasi informasi bencana gempa oleh BNPB dan jajarannya.
Sudah jelas ini menjadi domainnya BNPB namun Jokowi menjadi sasaran tembak (kesalahan), hingga Jokowi turun tangan langsung. BNPB selesai dilanjut kisah listrik mati serentak dalam waktu lama di beberapa daerah karena ada kesalahan maintenance. Kembali Jokowi melakukan sidak dan rapat khusus dengan direksi PLN, demi redanya teriakan yang lebay.
Seperti tidak boleh ada jeda, kaum munafikun tetap merekayasa issue lain yang bertujuan "mengganggu" konsentrasi Jokowi hingga ia melakukan sebuah kesalahan fatal. Diutak-atiklah sentimen Papua Merdeka hingga sempat membuat geger. Banyak yang menduga, inilah kasus yang paling berat dan bisa menggoyahkan posisi Jokowi (karena sampai ke persidangan dunia PBB).
Faktanya, issue Papua cepat meredup di dalam maupun luar negeri. Diakhiri sebuah pertemuan manis di Istana Negara antara perwakilan masyarakat Papua (Tetua Adat) dengan Presiden, serta diputuskan membuat istana presiden di Papua (2020). Demi kecintaan dan keberpihakannya kepada Papua, Jokowi menyetujui dibangunnya istana presiden di Papua.
Hampir berbarengan dengan issue Papua yang merebak, pun diperdebatkan dan diskenariokan penolakan Pindah Ibu Kota. Namun sayang, kerangka atau konsep "gangguannya" kurang referensi, Son (mungkin skrg sedang dicari-cari). Waktu pelantikan Presiden pada Oktober nanti terus bergulir. Kaum munafikun makin panik.
Cari cara paling mudah untuk mencegah agenda nasional 20 Oktober. Setidaknya jangan sampai berjalan mulus. Berpikir... Aha, bakar saja lahan hutan. Alibinya, krisis perubahan iklim kemarau panjang. Mudah sekali membayar orang yang mau membakar. Terjadilah kebakaran di beberapa wlayah lalu menimbulkan asap yang mengganggu rakyat bahkan negara tetangga, Malaysia dan Singapura.
Sudah bisa ditebak, muncul lah omongan nyinyir lagi pedas bahkan caci maki, kepada siapa? Bukan ke pemerintah daerah, bukan ke dewan daerah, bukan ke gubernur atau walikota/bupati, bukan! Tapi ke alamat tujuan kesalahan yang tidak pernah berubah, yakni Jokowi. Tapi ngerti gak, Son? Saya kok melihatnya malah seperti menyediakan panggung buat Jokowi tampil menjadi super hero?
Ayolah, kalian ini pingin "mengganggu" Jokowi atau justru sedang membuat frame Jokowi pahlawan? Ia datang dan mengatasi masalah. Atau, ini karena kebodohan kalian sendiri yang tidak menduga Jokowi mau bertindak seheroik itu. Tetbang ke daerah, adakan rapat, beri instruksi, turun langsung ke lokasi kebakaran dan beri penjelasan ke publik melalui media pers.
Jadilah Jokowi (justru) sebagai super hero. Sesuatu yang tidak kah kau bayangkan sebelumnya, Son? Setelah issue asap mereda karena gatot, apa lagi? Oh ya, kebetulan ada rancangan UU produk DPR, yang sepertinya bisa bikin heboh nih, yakni: Revisi UU KPK dan RUU KUHP. Dua produk UU ini dianggap tidak pro rakyat. Tapi sangat pas buat "menjebak" Jokowi.
Karena apapun putusan Jokowi tetap bisa disalahkan. Apapun sikap Jokowi bisa menguntungkan kaum munafikun. Siap untuk menggoreng-goreng, bahkan siap dengan logistik untuk turun ke jalan, apalagi klo bukan demo? Muntahkan amunisi pertama Revisi UU KPK, blaaaar... Jokowi menerima Revisi UU dengan beberapa catatan, dan sekarang sudah sah.
Galang kekuatan, Son. Pertama tunjukkan dirimu menolak revisi (pokoknya berlawanan dengan Jokowi, meski awalnya ikut merevisi, tidak konsisten). Kedua galang suara penolakan bersama masyarakat sipil, dan; Ketiga, turun ke jalan bagi-bagi jas almamater buat rakyat pengangguran menyamar sebagai mahasiswa.
"Dukung KPK! Tolak Pelemahan KPK!" Begitu teriak pendemo, hingga ada juga yang teriak, "Hidup Mata Najwa!" Mungkin dikiranya Mata Najwa adalah nama seorang pendekar Anti Korupsi nomer wahid dan die harder KPK (lihat kaosnya: Jihad Anti Korupsi). Sudah mulai terpapar karena gunakan istilah "Jihad"? Entahlah.
Yang pasti sebagai seorang jurnalis, ia bukan memberitakan tapi menyimpulkan, beropini dan berpihak di medianya. Bahkan ia publikasikan sikapnya itu sebelum ia bahas topik yang sama dalam program tv Catatan Najwa. Buat apa didiskusikan jika host nya sudah berpihak? Akankah muncul obyektivitas? Adakah keindependenan dalam konklusi hasil diskusi?
Yuk, siapkan amunisi keduamu, Son, RUU KUHP, blaaar.... Sebelumnya untuk merespon pengesahan RUU ini, masyarakat sudah melakukan protes dan memberi catatan di beberapa pasal yang dianggap kontroversi. Sampai di sini, perhatikan sasaran tembak mu, Son. Mau tidak mau kamu harus akui sasaran tembakmu bukan kertas target.
Bukan kaleng rombeng, bukan botol oplosan yang baru kamu pakai. Dia manusia bernama Jokowi, yang diberkahi Allah SWT dengan otak dan akal. Dan itu digunakan sehingga cerdas, gak seperti kamu, Son. Perhatikan kecerdasan Jokowi sehingga kamu bisa belajar. Revisi UU KPK disetujui dengan beberapa catatan (inget, Son... dengan beberapa caratan!) dan disahkan.
Sementara RUU KUHP ditunda pengesahannya, dan menginstruksikan Menkumham, Yasona Laoly untuk mencatat semua masukan dari masyarakat. Wow!! Gak papa dia dihujat untuk yang revisi UU KPK tapi menjadi hero bagi RUU KUHP. Coba jika hanya satu yang disodorkan, tentu akan lebih rumit (meski pasti ada saja cara dia untuk keluar dari "tekanan").
Siap untuk melawan atau berhadapan dengan komunitas masyarakat Anti Korupsi? Tentu saja siap, bahkan sudah menyediakan beberapa gebrakan ke depan paska 20 Oktober, tunggu saja. Jokowi memilih mengesahkan Revisi UU KPK karena menganggap lebih urgent. Itu menunjukkan Jokowi ingin segera melakukan "bersih-bersih" di tubuh KPK.
Itu yang membuat takut segelintir pegawai dan pimpinan KPK, Son. Belum puas dengan "jebakan" pengesahan Revisi UU yang sepertinya berhasil, Tiga Pimpinan KPK pun menyatakan menyerahkan mandat kepada Jokowi. Aneh jika Pimpinan KPK tidak tau hukum, karena tidak ada aturan pengembalian mandat, KPK independen bukan mandataris Presiden. Jokowi pun tidak terjebak dengan itu.
Aneh lainnya, ketika di Revisi UU KPK, mereka teriak klo mereka independen bahkan dari Presiden sekalipun, makanya Novel Baswedan merasa berhak dan tidak apa-apa menghina Jokowi dengan mengatakan, "Koruptor berutang budi kepada Jokowi". Tapi kok Pimpinan KPK membuat konferensi pers dengan mengatakan mengembalikan mandat ke Presiden?
Menganggap bawahan presiden tapi tidak menghormati presiden? Menolak Revisi UU KPK dan menolak Ketua Pimpinan KPK yang baru, Firli Bahuri. Ayolah, Son. Kau kemanakan akal sehat yang diberikan Allah SWT kepadamu? Ayoooo, Son... Hari Pelantikan Presiden semakin dekat. Issue apalagi yang ingin kamu rekayasa?
Rakyat sudah tau semua akal bulus mu yang tujuannya tiada lain ingin menggagalkan pelantikan Jokowi sebagai Presiden untuk periode kedua (2019-2024). Dan yang terpenting, sudahkah kamu belajar untuk mengenal siapa dan bagaimana Jokowi? Sehingga kalau mau kasih ujian kasus itu yang betul-betul rumit dan tidak terpecahkan oleh Jokowi.
Apapun, sesungguhnya Jokowi manusia biasa. Maka ketika Najwa mengatakan Jokowi merestui pelemahan KPK kok sepertinya gimana gitu? Dia bukan malaikat tanpa salah, dia bukan Superman tanpa kelemahan, dia bukan juga komedian seperti Komeng yang bisa menyenangkan semua orang. Dia hanya seorang Tukang Kayu yang kemudian diberkati Allah SWT menjadi seorang pemimpin.
Awalnya sebagai Walikota Solo, kemudian Gubernur DKI Jakarta dan kini Presiden RI. Seperti manusia lain dan Najwa juga yang memiliki keinginan memajukan bangsa namun dengan caranya sendiri. Cara yang sama dan tidak berubah sejak masih di Solo maupun di Jakarta, saya percaya itu. Semua gonjang-ganjing yang dianggap benar, faktanya juga tidak kenapa-kenapa setelah diam dengan sendirinya.
Biarkanlah dia bekerja, Son. Usah kau usik lagi. Lihat betapa diam dan sabarnya dia. Tapi jangan pernah coba-coba menunggu orang diam menjadi marah. Selama ini issue-issue negatifmu hanya dianggapnya sebagai teman bermain catur, jadi gak ada gunanya kan, Son? Kamu sudah capek merancang dan bikin gerakan, dengan mudahnya Jokowi mematahkan. (Awib)
*) Tulisan setahun lalu sebagai dokumentasi betapa upaya menggoyang Jokowi itu sudah seperti obsesi saja. Bahkan dari sejak 2012 awal pertama Jokowi dikenal nasional saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, hingga sekarang ini. Semua gagal total, membuat stress lawan politiknya. Namun kewaspadaan harus lebih ditingkatkan. Bak CR7 atau pun Messi, satu-satunya cara menahan mereka adalah men-tackel-nya, fisik, membuat cidera.
 
Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto
Thursday, September 24, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: