Kisah-Kisah Yang Menyelamatkan Manusia Dari Peperangan

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Beberapa hari lalu seorang teman senior baru bercerita di WAG alumni. tentang perjalanannya ke Tepi Barat dan beberapa daerah di Israel untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah seperti diceritakan dalam kitab suci. Di West Bank (Tepi Barat) dia melihat banyak orang Palestina jualan produk Israel. Dia iseng bertanya
"Mengapa Anda jual produk mereka?"

"Harganya murah dan kualitas bagus." begitu jawab pedagang Palestina sambil tersenyum.
Tentu teman saya itu langsung terkejut. Di negaranya orang begitu percaya bahwa mereka seteru abadi yang bermusuhan dalam setiap aspek kehidupan, setiap saat, setiap waktu. Ternyata hidup ya seperti umumnya manusia hidup, aspek kemanusiaan lebih penting dari soal politik atau agama.

Yang berseteru adalah para politikus, soal kekuasaan. Kadang dibumbui agama, padahal ya soal kekuasaan.
Dalam Catatan Pinggirnya, Goenawan Muhammad pernah berkisah tentang pengungsi Bosnia. Kurang lebih begini.

Pada saat orang-orang Bosnia dibantai para algojo jenderal Ratko Mladic dari Serbia sekitar 1995, banyak pengungsi Bosnia ingin menyelamatkan diri dan keluar dari wilayah Bosnia Herzegovina.
Kalau tidak salah mereka ingin mengungsi ke Swedia menggunakan kereta api. Di perbatasan seorang pengungsi dan keluarganya diselamatkan seseorang yang dia tidak kenal. Modalnya hanya sebuah foto lama. Pengungsi menyimpan foto lama dan orang tadi juga melakukan hal yang sama.

Seseorang yang sekarang tinggal di Israel itu pernah diberitahu ayahnya. Pada saat Perang Dunia dulu sekitar 1944-1945, ketika para Yahudi dibantai tentara Nazi, dia dan keluarganya diselamatkan oleh keluarga muslim Bosnia. Mereka disembunyikan di rumahnya hingga terlewat dari penangkapan oleh tentara Nazi. Foto itu menunjukkan fotonya ketika kecil bersama keluarga itu.

Dari foto itulah orang Yahudi Israel ini menemukan keturunan dari penolongnya dulu.
Maka keluarga pengungsi Bosnia ini diboyong ke Israel untuk diberi tempat tinggal dan biaya hidup serta menikmati hidup di sana.

Kisah kemanusiaan di tengah kemelut politik selalu ada. Dan setiap tindakan baik akan diikuti buahnya pada saat yang tidak terduga. 

Gus Dur pernah melakukan pertemuan dengan Tokoh Yahudi pelopor perdamaian Yitzak Rabin di tengah perasaan anti Israel yang tinggi. Belakangan ia juga dibunuh oleh Yahudi garis keras. Gus Dur berpikir bahwa kaum Yahudi juga manusia, mereka banyak yang menghendaki hidup damai dan rukun, maka harus didekati. Berbeda dengan gambaran yang diceritakan di kitab suci dan diyakini banyak orang bahwa Yahudi itu jahat, menjengkelkan, tidak patut dijadikan teman.

Presiden AS ,Jimmy Carter pernah mempelopori perjanjian damai Camp David antara Mesir dan Israel tahun 1978 antara Anwar Sadat dan Manachem Begin. Presiden Clinton mengusahakannya lagi lewat perjanjian Oslo, 1993 & 1995. Keduanya presiden AS dari Partai Demokrat AS. Beberapa tokoh menyukai perdamaian sebagai salah satu tujuan hidup. Tapi tidak sedikit yang menyuarakan permusuhan dan menggunakannya untuk mencapai kekuasaan.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Friday, February 8, 2019 - 09:15
Kategori Rubrik: