Kisah Ibu yang Hamil Terkena Rubella, Anaknya Cacat

Oleh: Niken Satyawati

 

Anak itu, sebut saja "K" adalah anak laki-laki yang cakep. Sepintas seperti tidak ada masalah dengan dirinya. Dia anak salah satu warga di kompleks saya. Anaknya sangat ceria. Hanya saja saat usianya sekitar 4 tahun dia belum bisa bicara. Ternyata dia tidak bisa mendengar.

Surabaya menjadi kota tempat dia dioperasi untuk memasang implant yang membantu membuka katup pendengaran dalam kepalanya. Biaya operasi ini sangat besar. Beruntung orangtuanya dari kalangan berada. Bapaknya pegawai bank BUMN. Ibunya seorang wanita pengusaa.

 

 

Operasi belum menuntaskan masalah pendengaran. Setelah itu dan untuk sepanjang hidupnya dia harus memakai alat bantu dengar. Lalu mulailah dia belajar bicara. Saat mau masuk prasekolah, orangtua K bingung karena tak ada sekolah reguler yang menerimanya karena "K" belum lancar bicara.

Kini usia K sekitar 7 tahun. Sejauh ini anaknya pede walau alat bantu dengar selalu menggantung di kedua daun telinga. Entah kalau sudah dewasa, apakah dia bisa menanggung beban mental bila terpaksa tampil beda di antara kawan-kawannya.

Ibunda "K" saat mengandung tertular Rubella, entah dari siapa. Yang pasti tentu dari orang yg sedang terkena Rubella. Dan kelainan pendengaran ini hanya satu dari beberapa akibat yang lebih fatal bila ibu mengandung tertular Rubella.

Itulah mengapa pemerintah kita mati-matian memerangi penyakit ini, dengan program vaksinasi massal. Vaksinasi massal bertujuan memutus rantai penyebaran penyakit. Namun itu akan sia-sia dengan keberadaan kaum moron yang tak mau divaksin. Bukan hanya Rubella, perang ini dilakukan untuk sejumlah penyakit lainnya. Bila semua ikut program vaksinasi, tak akan terjadi kasus seperti dialami "K" dan ibundanya.

Anda masih merasa tidak bersalah dengan tidak mengikutkan anak dalam program vaksin Rubella?

 

(Sumber: Facebook Niken S)

Sunday, August 5, 2018 - 09:30
Kategori Rubrik: