Kisah Hidup Seorang Teroris

ilustrasi
Oleh : Ainur Rofiq Al Amin
Hari ini ada beberapa tamu akrab kami seperjuangan. Mereka berkisah tentang seorang santri dari pondok warga NU di Pasuruan. Santri itu pandai otaknya dan akhirnya dapat beasiswa kuliah di sebuah Perguruan Tinggi di Jember.
Saat awal kuliah di PTN, dia tetap seperti santri, namun pada semester akhir, dia mengkaji gagasan khilafah Hizbut Tahrir. Merasa kurang puas karena khilafahnya hanya kayak angan-angan, lalu dia berselancar di medsos dan bertemu dengan kelompok radikal yang berafiliasi ke ISIS yang khalifahnya telah ada.
Dia bisa berjejaring di medsos lantaran dari seorang napi teroris di pulau Madura yang sedang dipenjara. Si napi teroris yang sedang dipenjara itu bisa main petak umpet dengan penjaga penjara dalam menggunakan HP. Malah dia bisa berbisnis online.
Melalui diskusi online antara si napi dengan si mahasiswi ini, akhirnya menjadikannya semakin tertarik dengan gagasannya. Si napi membantu si mahasiswi untuk masuk jaringan medsos kelompok radikal yang tertutup itu secara lebih dalam lagi. Pergaulan medsos ini membuat dia mulai berubah. Naifnya orangtuanya yang memang termasuk kawula alit tidak tahu perubahan anaknya itu.
Tidak hanya itu, si mahasiswi ini malah berani menikah online dengan si napi teroris. Anehnya, dia menganggap orangtuanya tidak berjalan sesuai dengan syariat Islam, maka wali nikahnya justru teman si napi teroris ini. Para napi teroris ini sudah berbaiat kepada imam mereka sehingga menganggap dirinya mempunyai kuasa untuk menjadi wali nikah atas nama wakil khalifah.
Selanjutnya setelah menikah, si mahasiswi dikontak oleh si napi agar tidak melanjutkan kuliah, dan memang sebetulnya dia telah di DO oleh kampus. Oleh napi teroris, si mahasiswi disuruh mondok di sebuah pondok di Jawa Tengah yang nampaknya "dekat" dengan mereka, dan yang pasti bukan pondok NU.
Saat itulah orang tua mahasiswi bingung karena anaknya tidak pernah pulang, maka dianggap hilang. Lalu lapor ke polres Jember dan selanjutnya Polda Jatim membantu mencarinya.
Mahasiswi ini ditemukan di pondok tersebut di atas, dan akhirnya dia pulang atau "dipaksa pulang" ke rumah orang tuanya. Saat itulah perubahan lebih mencolok terjadi. Pakaian sudah tidak seperti muslimah pada umumnya, dan dia berani menentang orang tuanya.
Beralih ke napi teroris. Si napi setelah menjalani sekian tahun di penjara Madura, kemudian dia dilayar atau dipindah ke penjara Probolinggo. Sesudah menjalani hukuman satu tahun, dia bebas. Bebasnya si napiter hampir berdekatan dengan kembalinya si mahasiswi ke orang tuanya.
Si napi ini bisa berkomunikasi lagi dengan si mahasiswi. Komunikasi ini menjadikan hubungan ideologisnya menguat kembali.
Satu sisi orang tua senang karena anaknya kembali.Tapi di sisi lain, orang tuanya merasa kesulitan menyadarkannya. Untuk itu, mereka meminta ke kiai pengasuh pondok warga NU yang dahulu pertama kali si mahasiswi mondok. Ternyata dia malah mengurung diri di gotakan pondok itu dan tidak mau ngomong, bahkan dengan kiainya juga diam. Karena begitu, akhirnya kiainya menyerahkan kembali kepada orang tua.
Kembali lagi ke rumah bersama orang tua tidak lama, dan cilakanya dia bisa berkomunikasi dengan si napi teroris yang sudah bebas itu. Suatu hari si mahasiswi meminjam sepeda pancal tetangganya dengan pakaian biasa (tidak bercadar sebagaimana yang dia pakai selama ini).
Sesampai di sebuah toko Indomart, sepeda ditinggal, dan dia naik bis ke arah barat mencari si "suami" yang napi teroris itu. Dia menghilang lagi dan menyusahkan orang tuanya lagi.
Lama tak bisa dideteksi keberadaan, baru-baru ini ada informasi si mahasiswi dan si napiter diusir dari kosnya karena beberapa bulan tidak membayar sewa kos. Kabar dari ibu kosnya, si mahaisiwi ini hamil tujuh bulan.
***
Pelajaran yang bisa diambil:
1. Dia membuat kecewa berat orang tua dan kiainya. Ternyata akhirnya hidupnya mengalami kesulitan di saat mau mempunyai bayi. Dalam kondisi demikian, maka mudah saja orang-orang seperti ini mencari jalan pintas yang katanya bisa ke surga dengan melakukan tindakan di luar nalar sehat dan di luar nalar agama yang waras.
2. Faham terorisme, radikaisme dan intoleran ini berbahaya dan bisa mengakibatkan hilangnya masa depan, hilangnya cita-cita dan harapan orang tua, bahkan hilangnya anggota keluarga (baik anak, kakak, adik dan orang tua itu sendiri). Oleh karena itu mari kita bentengi anggota keluarga kita agar supaya terhindar dari pemahaman terorisme, radikalisme dan intoleran.
 
Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin
Thursday, January 21, 2021 - 08:00
Kategori Rubrik: