Kisah Dai Kampung & Marbot yang Umrah berkat Program Gubernur Ahok

Oleh: Niken Satyawati
 

Di Bus Damri yang membawa saya dari Airport Soeta ke Kantor Google Indonesia untuk acara training fact checking di Senayan kemarin, saya berkenalan dengan Pak Suyono. Kami duduk bersebelahan di deretan kiri paling depan. Lalu lintas agak macet karena ada kecelakaan tunggal taksi yang lepas bannya di Tol Kapuk, sehingga perjalanan pun tersendat-sendat. Semula kami saling diam. Namun entah siapa yang memulai akhirnya kami pun mengobrol. Itu dimulai saat dia menunjukkan kawasan Kalijodo—bekas lokalisasi yang kini menjadi taman nan indah, yang terlihat jelas dari jalan.

Beliau memperkenalkan diri sebagai orangtua pensiunan yang kini mengabdi untuk umat, sebagai penceramah agama a.k.a guru ngaji kecil-kecilan di sebuah kampung kawasan Kebayoran Lama, Jakarta. Dai kecil lah istilahnya, jangan bandingkan dengan Aa Gym atau Ustad Felix Siauw yaaa. Istri Pak Yono sudah meninggal dan anak-anaknya sudah hidup mandiri. Sehingga dia kini punya banyak waktu untuk berkontribusi dalam urusan sosial.

 

Dalam penilaian saya yang adalah sosok yang sopan dan berhati-hati dalam pemilihan setiap kata yang diucapkan. Tapi bukan itu yang membuat hati saya kepincut. Ada cerita yang lebih menarik. Pak Suyono cerita, di usianya yang mendekati lanjut, dia mendapat anugerah yang tak terduga, yaitu kesempatan pergi ke rumah Allah di Tanah Suci Mekah, hal yang diidamkan setiap muslim namun tak semua bisa menjalani karena berbagai sebab. Kebanyakan dikarenakan mahalnya biaya transportasi.

Namun alangkah senang hati Pak Yono karena dia masuk daftar 70 marbot (penjaga msjid) dan dai kampung untuk ikut umrah yang dibiayai APBD DKI. Seminggu lagi dia akan bersujud di Tanah Haram, berziarah ke makam Baginda Rasulullah, dan itu semua gratis serta tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Untuk urusan itulah dia hari itu menjalani suntik meningitis di sebuah kantor dekat Airport Soeta.

Sebelumnya Pak Suyono bersama lebih dari 200 guru ngaji kampung lainnya dan para marbot, menjalani screening dulu untuk menentukan layak tidaknya dia mendapat fasilitas umrah gratis itu. Akhirnya dari 200-an yang melamar, 70 orang dipastikan berangkat ke Tanah Suci. Benar-benar kabar gembira di usia senja, yang makin melecut semangat dan ghirahnya dalam beragama. Tak henti-hentinya Pak Suyono mengucap Alhamdulillah, terima kasih kepada Allah SWT atas rezeki tak terduga ini.

Sedikit yang membuat program ibadah umrah untuk para marbot dan dai kampung ini menjadi ganjalan adalah karena ini merupakan program umrah gelombang terakhir dari Gubernur DKI Basuki Tjahaja Poernama (Ahok). Sebelumnya sudah ada beberapa gelombang yang diberangkatkan. Namun sejak kekalahan di Pilkada DKI, ini menjadi program terakhir. Nyesek memang mengetahui yang punya program seperti ini adalah gubernur yang gemilang dalam program-program menata kota Jakarta, namun tak henti-hentinya diserang dengan isu SARA, dan sering disebut  kafir cina, antek komunis/PKI, dan yang terakhir adalah penista agama—gelar-gelar dan tuduhan-tuduhan yang menyesakkan dada dan sebenarnya tidak semua orang sepakat.

Apakah ada gubernur muslim di Indonesia ini yang punya program umrah untuk marbot-marbot? Kalaupun ada itu hal yang wajar karena sesama muslim memuliakan muslim yang lain. Tapi ini gubernur nonmuslim, digelari penista agama pula oleh banyak orang. Tapi dia mempunyai program untuk mempermudah orang-orang kecil namun punya komitmen dalam agama yang tak diyakininya pergi ke Tanah Suci menjalankan ibadah yang tak dijalankannya. Dan menyadari program yang sangat mulia ini segera berakhir, sungguh membuat sedih.

Apapun itu, Barokallah, Pak Yono dan para dai kecil serta marbot di DKI yang mendapatkan kesempatan mengunjungi Tanah Suci. Beribadahlah dengan khusyuk dan doakan di masa yang akan datang, gubernur-gubernur muslim ataupun yang lain juga punya komitmen yang sama bahkan lebih baik lagi dari gubernur kafir yang segera habis masa jabatannya itu.

Saturday, May 6, 2017 - 09:00
Kategori Rubrik: