Kirain Ulama, Ternyata Bukan

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Sebab cara ngomongnya kayak yang ngarti agama banget. Sedikit-sedikit ayat, sedikit-sedikit hadits. Gimana kita nggak salah sangka. Kayak ulama padahal bukan.

Yang lain juga mirip, cuma beda modus. Kostum dan atributnya itu loh yang keren banget. Sorban muter di kepala, gamis putih panjang, jenggot lebat. Juga mirip ulama padahal bukan.

Yang lain lagi juga kayak ahli syariah banget. Gelarnya itu lho, el-ce cing. Mana tahan. Wajar kalau dituduh menguasai semua hukum agama. Hampir seperti ulama padahal bukan.

Yang lain lagi juga mirip ulama. Jidat hitam, celana cingkrang, jenggot berkibar, sorot mata tajam, sedikit-sedikit sunnah, sedikit-sedikit sunnah. Penampilan udah kayak ulama betulan, padahal bukan.

Lalu bagaimana kita bisa mengenal ulama? Matode apa yang bisa dipakai untuk bedakan ori dan kawe?

Buat yang awam, tetap saja susah membedakannya. Sebab orang awam tahunya ulama itu dari kostum, atribut, sorban, jenggot, cingkrang, dan yang kelihatan mata telanjang.

Orang awam mengenal ulama asalkan pintar ceramah, sering ngisi kajian, banyak nampil di yutub, asalkan viewernya banyak, yang ngelike banyak, subscribernya banyak.

Kita yang awam tahunya ulama kalau sering nongol di tv, atau mukanya sering dipajang di baliho perempatan.

Padahal bukan . . .

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat, Lc.MA

Tuesday, March 26, 2019 - 08:30
Kategori Rubrik: