Kiprah Kaum Perempuan dalam Aksi Terorisme

ilustrasi

Oleh : Vinanda Febriani

Sophia Lvovna Perovskaya, seorang Revolusioner asal Rusia menjadi dalang di balik kudeta “The Emperor of Russia”, Kaisar Alexandr II pada 1 Maret 1881. Sebelumnya tahun 1878 Vera Zasulich menyatakan diri sebagai teroris. Ia melakukan percobaan pembunuhan kepada Gubernur Trepov di St. Petersburg. Dua kasus terorisme tersebut tercatat menjadi bagian dari simbol terorisme perempuan yang terjadi dalam sejarah Revolusi.

Kiprah perempuan dalam kasus terorisme bisa disebut cukup massif dan militan. Komisioner Komnas Perempuan Riri Khariroh sebagaimana dikutip dari beberapa sumber media online, pernah mengatakan bahwa Negara Indonesia berpotensi akan memanen sejumlah teroris dari kaum hawa. Terbukti dari keterlibatan perempuan menjadi bagian dari pelaku bom bunuh diri.

Beberapa tahun terakhir ini, kasus terorisme di Indonesia yang melibatkan kaum perempuan cenderung meningkat. Ini artinya telah terjadi pergeseran peran yang mana sebelumnya perempuan hanya sebagai supportif, kini menjadi pelaku aktif.

Eksploitasi perempuan sebagai pelaku aktif gerakan terorisme ini sangat meresahkan. Perempuan yang dikenal lemah lembut cenderung sulit untuk terdeteksi terlibat dalam gerakan terorisme. Siapa sangka sosok Puji Kuswati, (42 Tahun) yang telah membawa dua anak perempuannya melakukan aksi bom bunuh diri ke Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro Surabaya, pada Minggu, (13/5/2018). Perempuan yang sebelumnya dikenal ramah dan pemalu ini berubah drastis semenjak ia menikah dengan Dita Oepriarto.

Motif Penyebab Teroris Perempuan
1. Motif Ekonomi
Motif ini bisa disebut jarang bahkan nyaris tidak pernah menjadi alasan seseorang dalam melakukan aksi teror. Kendati begitu, motif ekonomi menjadi salah satu penyebab seseorang melakukan serangan kepada pemerintah, meski tidak selalu dalam bentuk bom maupun kekerasan fisik.

2. Motif Ideologi
Sebagaimana kita tahu, ada segelintir kelompok yang gencar mengkampanyekan ideologi anti modernisme, anti nasionalisme dan anti demokrasi. Mereka memiliki ideologi yang diklaimnya paling benar, yakni Khilafah. Mereka jelas menentang Pemerintahan yang sah. Dalam Islam, mereka layak disebut kaum Bughot/Pemberontak Negara. Beberapa contoh diantaranya adalah ISIS, Al-Qaeda, JAD, JI, JAT dan Hizbut Tahrir. Perempuan sangat rentan terseret arus ini. Dan sebagaimana kita tahu, banyak perempuan yang terpancing oleh motif Ideologi.

3. Motif Pernikahan
Ada beberapa perempuan yang sebelumnya tidak radikal baik dalam Ideologi maupun pemikiran. Namun setelah ia dinikahi oleh seorang lelaki yang bertolak belakang pemikiran dan Ideologinya, maka ia cenderung akan mengikuti pemahaman sang Imamnya. Sebagaimana Dita Oepriarton berhasil mengajak Isteri yang sebelum dinikahinya bersifat pemalu, melakukan aksi bom bunuh diri di sebuah Gereja di Surabaya.

Selain itu, dilansir dari The New York Times, banyak hipotesis yang muncul terkait motif para perempuan yang mau bergabung dalam gerakan terorisme. Ada yang mengatakan mereka putus asa, mengalami gangguan jiwa, ditekan oleh laki-laki atas nama agama, dan frustasi karena ketidaksetaraan gender.

Eksploitasi Perempuan Sebagai Pelaku Teror
Di Aljazair, “Kelompok Maghreb” yang berafiliasi dengan gerakan terorisme transisional Al-Qaeda, menggunakan wanita dalam kampanye pengeboman. Lain lagi di Inggris, 2018 lalu seorang wanita bernama Safaa Boular merencanakan serangan terhadap British Museum di London. Setelah diinvestigasi, ternyata perempuan ini adalah salah satu bagian dari sel teroris ISIS di Inggris.

Di Indonesia, 2018 lalu muncul nama Dita Siska Millenia dan Siska Nur Azizah yang menghebohkan publik karena aksi nekatnya hendak menyerang polisi di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok. Keduanya kini divonis 2 Tahun 8 Bulan penjara.

Hasil penelitian pakar terorisme Indonesia, Sidney Jones menyebutkan bahwa terdapat sekitar 40 perempuan Indonesia dan 100 anak di bawah 15 tahun memutuskan bergabung dengan kombatan Jihadis ISIS di Suriah. Selain itu, dalam sebuah investigasi, Tempo pernah menuliskan bahwasanya kelompok teroris yang dipimpin oleh Abu Hamzah kini sedang gencar melibatkan perempuan dalam gerakan terornya.

Dalam wawancara sebuah channel Televisi Nasional kepada seorang mantan kombatan Teroris ISIS di Suriah, ia mengungkapkan bahwa para perempuan yang bergabung dengan ISIS hanya dijadikan sebagai subyek perantara untuk memenuhi hasrat seksual saja. Dan bodohnya banyak perempuan yang percaya dan mengatakan bahwa itu adalah bagian dari Jihad.

Peran-peran para teroris perempuan sebagaimana dicontohkan di atas sebagian besar disebabkan oleh pemahaman dan ideologi yang menyimpang dari aturan beragama maupun bernegara. Perempuan memang mudah untuk didoktrin menjadi bagian dari aktivis terorisme karena kepatuhannya. Namun perempuan juga bisa menjadi pelopor perdamaian dan pembentuk narasi kontra-terorisme sebab kekritisannya.

Seutas Solusi
Oleh karenanya, pemerintah harus selalu melibatkan perempuan dalam berbagai kegiatan yang menyampaikan narasi perdamaian, kontra radikalisme dan kontra terorisme. Serta peran para Ulama, tokoh pemimpin agama, beserta para akademisi untuk selalu menyebarkan ajaran yang damai, kesetaraan gender beserta gerakan anti kekerasan. Karena terorisme berawal dari pemahaman yang salah, kekerasan yang kemudian memeicu sebuah gerakan pemberontakan. Mari bersama cegah dan berantas Terorisme!

*Vinanda Febriani
Penulis adalah Mahasiswa Semester 1 UIN Syarif Hidayatullah Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin yang gencar mengkampanyekan narasi Perdamaian antar umat beragama, kontra-Khilafah HTI, Kontra-Radikalisme dan Kontra-Terorisme.

Sumber : Status Facebook Vinanda Febriani

Tuesday, September 3, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: