Kiost Barang Republik Indonesia

Oleha: Iyyas Subiakto

 

Kita selalu dengar kondisi yg tdk stabil dari transaksi berjalan perdagangan Indonesia dgn dunia. Ada khabar baik pd Juni 2019, neraca kita positif $.200 jt, tapi sd Juni kita sudah defisit $.2,5 milyar, artinya pengulangan jet coaster neraca perdagangan kita selalu terus begitu. Selalu seolah ada rewards saat positif dan panik saat defisit, seperti kelas kulakan pasar tradisional. Kita tdk punya based perdagangan andalan.

Baru² ini Jokowi mau mendorong UMKM, konon ada 62 jt pelaku usaha UMKM di Indonesia, pertanyaannya, seberapa baik kualitasnya dan berapa besar ekspornya. Didalam negeri sy pernah dimintai tolong Fatayat NU kasi seminar UMKM binaan pemprov Jatim, persoalan paling dasar adalah manajemen produksi, permodalan, dan pasar.

 

Kualitas produksi rendah, packaging saja mereka tak mengerti, sy bawa kripik singkong dari Madura, enak, sampai dirumah melempem, plastiknya bocor krn tipis kayak kondom. Pasarnya cuma lokal, akses modal mereka tidak ada. Dan usahanya cenderung individual. Masalahnya rumit.

Saya beberapa kali keluar negeri mampir ke KBRI, Ukraina, Maroko, Taiwan, dll. Atase perdagangannya orang BIN, gmn mau jualan. Di Maroko sy ngobrol sama staff kedutaan, kenapa tdk ada ruang pamer atau gudang penyanggah sbg stock kist produk Indonesia di setiap KBRI sbg barang jualan yg setiap saat bisa dilihat buyer lokal disana, kalau ada demand besar baru dibicarakan teknisnya. Di Maroko sy datang ke pabrik minyak goreng, dia bth 10.000 tons CPO, yg bs lgsg dari Indonesia, karena selama ini dia beli dari Roterdam, itupun CPO Malaysia karena Malaysia punya refinery setengah jadi disana. Lha kita gimana.

Jadi saran saya atase perdagangan kita di isi saja sama orang Glodok, agar bisa jualan, jangan pegawai kemlu yg cuma dasian, pakai jas, KBRI jualan gado-gado kalau pas 17 Agustus, nyanyi-nyanyi, selfie. Atau KBRI suruh cari duit sendiri membiayai operasional dgn cara dikasi insentif dari berapa besar dia bisa jualan. Kita ada produk dari mulai Krupuk, Kreta Api, Pindad, dst. KBRI itu kan beranda Indonesia di dunia, kalau pintunya gak pernah di buka gimana mau ada ventilasi udara.

Itu info pembuka saja, karena persoalannya tidak sesederhana yg kita lihat. Kiranya perlu revolusi mental KBRI, dari pejabat yg biasanya cuma komat kamit, diminta utk komit membuka perdagangan yg jelas nilainya. Mumpung presidennya pedagang segera saja di rancang, nanti keburu ganti TNI, kita nari maumere dan poco-poco lagi.

Hehe, jualan ni yee..

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Tuesday, July 16, 2019 - 08:30
Kategori Rubrik: