Kicauan Sumbang Burung Cendana

Ilustrasi

Oleh : B Uster Kadrisson

Saya pernah tinggal beberapa tahun di jalan Cendana saat si mbah sedang tengah berjaya. Kalau saya tereak agak kencengan dikit aja, kedengaran deh tuh ke singgasana yang punya kuasa. Tapi siapa juga yang berani teriak kalau alamat ntar bisa masuk penjara. Apa-apa kudu hati-hati ngomongnya karena dinding saja bisa punya telinga.

Siapa saja yang pernah tinggal di daerah sana pada tahu deh permainan keluarga pertama. Semua tanah sekitar kediaman orang tuanya sudah dikapling-kapling sama mereka. Orang-orang digusur dengan seenaknya dan tanah milik keluarga yang sudah puluhan tahun dibeli paksa dengan harga murah. Semua dibikin menjadi rumah anak-anaknya mengelilingi bak benteng sebuah istana.

Kabar-kabarnya ada bunker dan lorong bawah tanah yang bisa tembus kemana-mana. Khawatir kalau sewaktu-waktu ada serangan mendadak atau mungkin juga kudeta. Biasanya orang yang berpikiran buruk terhadap sesuatu adalah karena mereka juga melakukan hal yang sama. Jadi nga heran kalau mereka selalu curiga kepada orang lain karena begitulah cara dia mendapatkan kuasa.

Saat itu saya sudah cukup kritis walaupun disimpan untuk diri pribadi saja. Melihat bisnis anak-anak Cendana yang saling tumpang tindih begitu belibet dan sangat menggurita. Mendengar celoteh dari sana dan sini bagaimana cara licik mereka mendapatkan proyeknya. Sangat menjijikkan bagaikan melihat setumpuk cacing pita.

Sempat berpikir apakah saya masih hidup berumur panjang untuk melihat keluarga ini terjatuh dan porak poranda. Karena saat itu hal ini sepertinya sesuatu yang mustahil karena mereka di atas segalanya. Jangankan cuma mengumpulkan harta benda, hukum juga bisa mereka kangkangi seenaknya. Semua bisa diatur sesuai dengan kehendak sang anak-anak penguasa.

Kuasa Allah yang maha segalanya memang tidak ada habis-habisnya. Belum seumur jagung saya berucap, sudah mulai terlihat tanda-tanda. Saya berdiri di pinggir jalan saat melihat adik-adik mahasiswa long march dari tempat-tempat di mana mereka kuliah. Menuju tempat dewan yang katanya terhormat meminta untuk memecat sang penguasa durjana.

Saya melihat bagaimana mereka kehausan dan sangat kelelahan, satu botol minuman menjadi rebutan. Tak tega menyaksikan saya dekati penjual di pinggir jalan, saya borong dua kerat minuman dan suruh si abang untuk membagi-bagikan. Saya menepi dan cuma melihat dari kejauhan, saat si abang celingak celinguk mencari saya karena mereka bertanya siapa yang menjadi dermawan. Melihat sekarang perjuangan mereka dikhianati oleh si gembul, si mulut congor dan mbah sengkuni, ah.. apa cecunguk ini tidak takut dengan karma yang akan berjalan?

Sekarang para burung-burung di pohon Cendana mencoba kembali berkicau dengan nada-nada yang sumbang. Seolah-olah hidup di jaman bapaknya adalah sesuatu yang nyaman dan pantas untuk dikenang. Mencoba menarik pengikut milenial yang tidak tahu apa-apa dengan mengatakan kalau kembali seperti dulu hidup kita akan senang. Apa mereka mau tahu, kalau dahulu jika berani menentang artinya nyawa akan melayang. Lucunya ada juga kakek-kakek yang ngaku ulama yang juga rindu Orba, emanglah otaknya sudah rada peyang.

Banyak sekali postingan-postingan di sosial media yang memberikan kesaksian-kesaksian. Bagaimana kejamnya rezim sang bapak yang mencoba untuk mengcengkeram. Kebun-kebun petani cengkeh yang menolak untuk ikut serta dirusak dan disiram dengan racun jahanam. Gara-gara putra mahkota ingin mendapatkan hak monopoli untuk bisa beli mainan pesawat dan motor-motoran.

Si tante-tante genit belakangan mulai dandan dan pasang badan. Wara wiri kesana kemari mencoba mendongkrak dan mencari suara buat sang mantan. Disertai dengan janji manis yang diucapkan setiap lima tahunan. 'Yang, kalau kau menang, aku bisa kembali kau sandingkan'.

Terakhir dia berceloteh tentang buruh migran yang sedang sakit di tanah seberang. Seolah-olah dia begitu peduli dengan nasib rakyat jelata kebanyakan. Padahal jaman bapaknya nyawa lebih murah dari pada harga sebungkus kacang. Kayak gitu kok masih ngajak kembali ke jaman Orba yang jelas-jelas perbedaan hidup dengan sekarang sangat timpang.

Lucunya lagi ada mbak-mbak lugu dari seberang bercerita. Kalau saat dia di mall disamperin seorang ibu-ibu yang ngajak untuk photo bersama. Tapi syaratnya harus ngacungkan jari tanda dua. Dia menolak sambil mikir 'Eh, emang elu sapa'.

Sedang si bungsu mencoba membuat partai lain untuk mendulang suara. Partai abal abal kagak jelas entah apa maunya. Dikiranya orang-orang sudah lupa kalau dia seorang pecundang mantan narapidana. Menjadi dalang pembunuhan seorang hakim yang merupakan alat negara.

Ada pepatah lama berkata, sudah gaharu cendana pula. Sudah tahu anak-anak Cendana begitu, masih ada yang mau percaya?

Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Tuesday, November 20, 2018 - 11:45
Kategori Rubrik: