Kiat Jonru dan Afi Dua Sejoli Yang Merasa Dibully

Pengguna media sosial Facebook sekarang memang sudah menyakup berbagai kalangan, tidak hanya usia muda saja, yang tua pun sudah mulai merambahnya, artinya penggunanya sudah dari bermacam karakter dan golongan. Lalu Jonru dan Afi ini masuk golongan yang mana? Banyak memang penelitian tentang kepribadian para pengguna Facebook ini, Ketika saya baca di Dailly Mail sebuah penelitian tentang pengguna Facebook dari Brunei Universitu London, ada 4 jenis kepribadian penggunanya. Tentu saja ini bukan patokan kebenaran, karena banyak versi dari berbagai penelitian yang saya baca tentang itu dengan versinya masing-masing. Nah Jonru dan Afi ini bisa saya masukkan dalam jenis orang yang INGIN TAHU dan KREATIF karena memiliki status yang berisi tentang ideologi politik, mereka mengungkapkan apa yang mereka percayai dalam ranah politik. Mereka juga menulis status dari hasil mencari informasi dan membagikannya. Dan PRO KONTRA dalam setiap statusnya adalah bagian dari interaksi para pembacanya yang memang selalu mengikuti apa yang dibagikannya.

Oleh : Stefanus Toni Aka Tante Paku

Bagi masyarakat penggiat sosmed kata PERUNDUNGAN pastilah kurang populer, walau artinya suatu perlakuan yang mengganggu, mengusik terus-menerus dan juga menyusahkan (KBBI Edisi ke-5) tapi tetap tidak paham maksudnya. Tapi begitu diganti dengan kata dari bahasa Inggris BULLY, langsung deh kita akrab dengan kata tersebut.

Bully, membully, dibully sudah menjadi Kata serapan atau biasa disebut dengan kata pungutan atau pinjaman yaitu kata-kata yang berasal dari bahasa asing yang telah terintegrasi ke dalam bahasa Indonesia dan telah diterima luas oleh masyarakat umum.

Bagi facabooker yang aktif membaca tentang politik dalam negeri pasti tahu nama Jonru Ginting yang mengelola fanspage JONRU itu, dan yang terbaru pastilah tahu akun bernama Afi Faradisa yang mendadak ngetop karena keberuntungannya "menulis" ulang di akunnya hingga diundang ke Istana Negara.

Jonru Ginting yang mualaf itu ngetop karena dianggap seorang penebar fitnah, pemecah persatuan dan berbahaya bagi bangsa, namun bila ketahuan tulisannya HOAX dengan segera menghapusnya untuk menghilangkan jejak ketololannya itu.

Sementara Afi Nihaya Faradisa, yang baru lulus SMA itu menulis status berjudul "Agama Warisan" hingga viral luar biasa di berbagai media. Viral karena dianggap bocah yang mempunyai pemahaman tentang agama yang ada di Indonesia ini pada dasarnya hanya warisan dari orangtuanya dianggap brillian dan benar adanya. Namun akhirnya status Afi itu bermasalah saat terbongkar ternyata bukan tulisan originalnya alias copas dari tulisan orang lain.

Walau kasusnya berbeda, Jonru dan Afi sama-sama menuai DIBULLY oleh netizen di berbagai penjuru dunia maya. Keduanya sudah diarak keliling dari kampung ke kampung, dari desa ke desa, dari kota ke kota media sosial. Apakah keduanya KAPOK untuk tidak menulis hal yang dijadikan masalah yang mengakibatkan dibully itu?

Ingin Tahu dan Kreatif

Pengguna media sosial Facebook sekarang memang sudah menyakup berbagai kalangan, tidak hanya usia muda saja, yang tua pun sudah mulai merambahnya, artinya penggunanya sudah dari bermacam karakter dan golongan. Lalu Jonru dan Afi ini masuk golongan yang mana?

Banyak memang penelitian tentang kepribadian para pengguna Facebook ini, Ketika saya baca di Dailly Mail sebuah penelitian tentang pengguna Facebook dari Brunei Universitu London, ada 4 jenis kepribadian penggunanya. Tentu saja ini bukan patokan kebenaran, karena banyak versi dari berbagai penelitian yang saya baca tentang itu dengan versinya masing-masing.

Nah Jonru dan Afi ini bisa saya masukkan dalam jenis orang yang INGIN TAHU dan KREATIF karena memiliki status yang berisi tentang ideologi politik, mereka mengungkapkan apa yang mereka percayai dalam ranah politik. Mereka juga menulis status dari hasil mencari informasi dan membagikannya. Dan PRO KONTRA dalam setiap statusnya adalah bagian dari interaksi para pembacanya yang memang selalu mengikuti apa yang dibagikannya.

Jonru kreatif dalam kebenciannya untuk memojokkan lawan politiknya, Afi kreatif dalam mencari status yang disukainya dan ngetop karena FAKTOR KEBETULAN saja. Kebetulan remaja seusia Afi dianggap mampu memahami sebuah kebenaran tentang agama, sementara remaja lain seusianya lebih suka NARSIS dengan trend kekiniannya.

Ketagihan Dibully

Membully dan dibully memang sudah menjadi kehidupan khas media sosial, setiap hari selalu saja ada yang membully dan dibully, tidak hanya tokoh-tokoh terkenal saja yang menjadi korban atau pelaku, tapi anak kecil pun bisa melakukan hal yang sama, membully atau dibully.

Dibully memang sudah banyak menelan korban, dari yang stres, melakukan tindakan kekerasan pada teman yang membullynya, hingga berakhir dengan bunuh diri. Tapi ada juga yang KETAGIHAN dibully karena ingin terkenal atau sudah kecanduan, kalau sehari saja tidak dibully hidup terasa sepi.

Bagaimana sikap Jonru saat dibully?

Ia menulis, kiatnya hanya dua, JANGAN DILADENI kalau perlu akun pembully itu diblokir dan ucapkan di dalam hati hanya pendapat Allah saja yang benar. 

Begitulah kita Jonru, dalam arti jika pendapatnya Allah yang benar, pendapatnya Jonru dalam setiap postingannya itu bisa dianggap TIDAK BENAR juga, jadi silahkan pakai kiatnya Jonru saat membaca postingannya itu.

Bagaimana sikap Afi saat dibully?

Sebagai rising star di media sosial, pengalaman Afi memang belum banyak, tapi dari SATU postingan saja sudah membuatnya terkenal hingga diundang di banyak tempat untuk diwawancarai atau membagikan pengalamannya. Hingga saat ini Afi belum bisa menuliskan kata hatinya saat dibully dengan sejujurnya.

Tapi dari pengamatan banyak netizen, pro kontra tentang Afi memang luar biasa, dari yang menghujat sebagai PLAGIATOR hingga membuat meme-meme yang menghinanya hingga hari ini masih terjadi. Sementara yang pro membelanya dengan berbagai pengalamannya sebagai anak remaja dan tidak sepantasnya anak seusia itu dibully dengan sedemikian kejinya.

Tapi mana ada aturan dalam MEMBULLY dan DIBULLY?

Aturannya ya tidak ada aturan!
Walau ada UU ITE toh mereka memang tak memperdulikannya, kalau sudah bisa membully ada rasa puas dalam dirinya karena sudah bisa mengungkapkan kekesalannya, kebenciannya, dan atau kenyataannya.

Afi sendiri saat ini memang baru dalam tahap KREATIF MENIRU atau mengcopas tanpa menyebutkan sumbernya secara jelas. Yang terakhir Afi mengunggah video yang dianggap meniru netizen bernama Amanda Todd, gadis remaja korban bully-an yang nasibnya tragis mati bunuh diri. Apa tujuannya Afi dengan meniru Amanda Todd?

Mengungkapkan perasaan hatinya yang senasib dengan Amanda Todd karena sudah dibully dengan keji itu?

Atau sebagai strategi Playing Victim?

Apapun yang sudah dilakukan Afi dengan caranya itu tetaplah menuai kritikan karena kreativitasnya dianggap tidak original. Bahkan yang semula RESPECT bisa jadi muak karena dianggapnya Afi makin ALAY. Namun tetap ada yang mendukung cara yang digunakan Afi itu sebagai ungkapan kejujurannya.

Dua Sejoli

Dari uraian saya di atas bisa jadi Jonru dan Afi kini bisa menikmati gempuran bully yang mendera dirinya. Buktinya Jonru dan Afi tidak TURN OFF pada kolom komentarnya di akunnya atau fanspagenya atau akun-akun sosial media yang ia miliki. Artinya kalau mereka tidak mau dibully pastilah cara itu ( turn off) dipakai, sebab disitulah sumber masalahnya, tapi berhubung mereka mungkin menikmatinya, dan bisa mencari perhatian publik, Jonru dan Afi jadilah dua sejoli yang MERASA DIBULLY dan sama-sama ngetop dalam tlatah yang sama, cuma beda nasib saja. Jonru di pihak haternya Jokowi dan Afi di pihak pendukung Jokowi, ya cuma itu perbedaannya yang menyolok saat ini, entah nanti!

Salam Dung Dung Pret!

Tuesday, July 11, 2017 - 21:30
Kategori Rubrik: