Kiamat

ilustrasi

Oleh : Karto Bugel

Kesalah pahaman dapat dengan mudah terjadi di laut China Selatan. Hari ini, hampir seluruh mata dunia sedang menengok kesana. Bukan hal mustahil perang Amerika dan Chinia dimulai dari sana.

Ada ratusan kapal perang disana dengan banyak jenis. Mesin perang mutakhir dunia sedang tumpah ruah seolah pasar, sehingga senggolan yang direncanakan hingga bersifat tak disengaja dapat terjadi.

Paling tidak, tiga kapal induk Amerika dan satu dari Australia sudah berada disana. Bahkan dua kapal induk Inggris HMS Queen Elizabeth, dan kapal Induk HMS Prince of Wales pun turut meramaikan, dan sedang menuju Laut China Selatan.

Tujuh kapal selam Amerika dan banyak kapal perang dalam berbagai jenis tiba-tiba berkumpul dalam satu kawasan. Riuh dan gemuruh mesin perang tercanggih didunia berderu disana dan masing-masing sedang bersiap bagi situasi terburuk.

Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Australia, dan Inggris, sedang membuat China gentar.

Laut China Selatan si gadis sexi yang diperebutkan, paling tidak oleh sepuluh negara Asia dan Asia tenggara, adalah tentang cadangan minyak dan gas alam terbesar didunia hingga jalur laut sangat strategis yang dilalui dua per tiga kapal-kapal didunia dan menghubungkan samudera pasifik dan Samudera Hindia.

China tanpa persetujuan siapapun dan secara sepihak telah menguasai bahkan telah membangun pulau Spartly.

Bukan hanya senjata konvensional tercanggih sedang digelar dilaut China selatan hari ini, senjata nuklir terhebatpun bertebaran disana dalam gendongan kapal-kapal selam maupun diangkut pesawat pembom yang siap mengangkasa dari kapal induk.

"Munkinkah perang dunia ketiga akan terjadi?"

Tak ada satupun negara didunia ini ingin hal itu terjadi, namun siapa yang akan menjamin bahwa tak akan ada kesalahan dari seorang prajurit yang sedang grogi misalnya?

Perang dagang, pandemi global dan klaim sepihak China atas laut China Selatan adalah apa yang membuat semua ini kini menjadi alasan berkumpulnya mesin pembunuh tersebut disana.

Amerika dan sekutunya hadir demi rasa aman beberapa negara kawasan atas kesewenangan China di laut itu. Paling tidak, itulah alasan yang digunakan Amerika. Paling tidak, ada Philipina, Malaysia, Singapore, Brunei hingga Vietnam dan Taiwan mengeluh atas kesewenangan China.

Kesalahan kecil pada situasi seperti adalah bencana global. Peluru pertama, bukan tidak mungkin adalah peluit bagi dimulainya pertandingan.

Peluru itu dapat saja ditembakkan oleh prajurit China terhadap pesawat Amerika yang melintasi pulau Spratly. Baik pilot maupun prajurit yang menembak memiliki klaim benar atas apa yang sedang dia lakukan.

Sang pilot merasa Spratly bukan wilayah China, sementara si prajurit merasa sebaliknya.

Siapa yang tahu cerita tentang puluhan kapal selam yang saat ini hadir disana? Siapa pula yang akan tahu didalam laut itu sesuatu terjadi?

Potensi perang sangat mungkin dimulai dari hal kecil. Dari hal yang tidak disengaja.

"Bagaimana nasib Indonesia?"

Bila benar terjadi, apapun pilihan Indonesia bahkan ketika tidak memilih, bencana besar akan terjadi pada kita. Laut China Selatan terlalu dekat dengan kita, bahkan Natuna, pulau terluar kita di utara, masuk pada wilayah yang sedang mendidih tersebut.

Indonesia yang netral tak menjamin "selamat" dari ekses perang besar itu.

Ketika peluru pertama lepas, entah siapa yang akan mulai, India serta merta akan langsung perang dengan China.

Pakistan mengambil kesempatan ini untuk masuk dan mengeroyok India, dimana India adalah musuh bebuyutan sepanjang masanya. Tiga negara pemilik bom nuklir terlibat perang yang akan sulit dihentikan.

Kepada siapa Rusia berpihak ditengah India dan China, sulit kita menebak. Rusia bersahabat baik dengan India juga dengan China.

Rudal-rudal dari Korea Utara beterbangan menyerang Korea Selatan dan Jepang tanpa sedikitpun peringatan. Korea selatan masuk dalam perang yang tak diinginkannya.

Dalam sesi ini, Rusia tak akan diam, China adalah partner terdekatnya meski keduanya juga bersaing dalam banyak hal.

Tak ada satupun negara Eropa, Amerika dan Australia akan aman dari jangkauan serangan rudal antar benua milik China dan Rusia.

Kawasan teluk membara dalam panas yang tak pernah terjadi sebelumnya. Iran, Turki, Suriah, hingga Mesir dan Israel secara bersama terlibat perang. Israel adalah satu-satunya negara pemilik senjata nuklir di kawasan itu.

Kanada, negara yang selama ini aman karena letak jauhnya di utara, akan menerima kiriman rudal antar benua China.

Afrika sebagai kawasan China berinvestasi turut bergejolak. Tak ada yang akan bisa menebak. Yang jelas diutara, Mesir dan terutama di Libya telah menjadi medan perang dahsyat.

Australia hancur lebur dengan rudal-rudal China sekaligus rudal tak presisi milik Korea Utara yang ngamuk tanpa alasan jelas.

Selandia baru, meski tak pernah secara spesifik turut dalam keriuhan ini, negara ini adalah anggota Persemakmuran. Selandia baru pun larut dalam perang yang tak diinginkan.

Amerika selatan, terutama Argentina mungkin negara terjauh dari dampak itu, namun tak ada yang dapat memastikan tak ada perang disana.

"Indonesia bagaimana? Belum dijawab hoii!!"

Malaysia, Singapore, philipina, Vietnam, Brunei hingga Taiwan tak luput dari hajaran China.

Didalam negeri China, Tibet dan Uighur ambil posisi melawan pemerintahan China yang sah dan memberontak.

Berharap rakyat Indonesia mendapat hiburan kembang api dilangit, Indonesia sebagai negara dengan letak persis ditengah panggung perang terbesar ini akan dilalui rudal-rudal antar benua melintas dilangitnya, hmm.., akan menjadi peristiwa aneh. Pasti akan ada yang sengaja dijatuhkan ditengah kita.

Tak akan ada yang akan membiarkan Indonesia jadi penonton. Bukan hal mustahil negara ini justru akan diserang oleh warganya sendiri pada awalnya. Selalu ada kesempatan dalam kesempitan.

Namun pada akhirnya, negara inipun luluh lantak dan tak berbeda dengan negara-negara diseluruh dunia. Tak ada satupun tempat aman ketika Amerika, Eropa, Rusia, China, Jepang berperang.

Peluru kendali berhulu ledak nuklir akan membuat dunia berbalik pada jaman purba, jaman dimana renik-renik mikroskopik adalah penguasa bumi.

Sekali lagi, mereka dengan sabar, bahkan bila perlu akan membutuhkan waktu jutaan tahun lagi mengisi bumi ini dengan makhluk yang lebih pantas.

Mereka kembali akan akan memulai proses evolusi. Makhluk seperti apa pada jutaan tahun kemudian yang pantas menerima kebaikan bumi, seharusnya bukan seperti manusia seperti saat ini.

Bukan manusia yang sibuk saling menghabisi dan tak pernah berterima kasih pada bumi pertiwinya.

Cegahlah perang itu. Anda, saya, kita semua adalah sesama makhluk yang hidup karena kemurahan tanah yang kita injak. Dari sanalah kita semua berasal, untuk apa kita berebut kelimpahan yang tak akan pernah habis?

Sumber daya alam tak akan pernah habis bila kita bijak. Kerakusan adalah awal semua bencana.

Demikian pula alasan mereka yang saat ini sedang berhadap hadapan di laut China Selatan, selalu tentang kerakusan.
.
.
.
Rahayu
Sumber : Status Facebook Karto Bugel

 

Sunday, August 2, 2020 - 14:00
Kategori Rubrik: