Kiai NU Jangan Seperti PKS

Oleh: Sahat Siagian

 

Saya berjanji untuk terus menulis dengan akal sehat dan hati bersih. Karena itu ijinkan saya bicara.

Dalam teori komunikasi di abad dijital, masa tenang Pemilu dimanfaatkan untuk menyelusupkan pesan pamungkas jika situasi terakhir dirasa mengkhawatirkan. Pesan pamungkas berupa positive campaign atau negative campaign.

 

 

Positive campaign adalah gagasan terbaru, yang belum terucap sebelum masa tenang, dan diteruskan dengan gaya broadcasting, masif, sistematis, dan terstruktur. Negative campaign adalah fakta buruk tentang kompetitor.

Dua-duanya sahih, memenuhi asas kepatutan, dan dianggap penting untuk diketahui para pemilih. Tapi, tidak dengan Black Campaign.

Black Campaign adalah serangan dengan materi hoax, bohong, jahat, dan membodohi masyarakat. Itulah yang dikerjakan sebagian kyai NU dengan membroadcast pesan agar tidak memilih Khofiffah karena dikuatirkan mengangkat HTI kembali ke panggung. Asumsinya adalah "HTI berjaya di masa SBY berkuasa."

Itu tolol dan jahat karena berupaya membunuh Khofiffah untuk sebuah kejahatan yang tidak dilakukan bahkan sangat kecil kemungkinannya bakal terjadi di Jatim. Jika asumsi tersebut sahih dan disampaikan sepenuh kejujuran, kenapa para kyai tidak mengajak warga NU di Jateng tidak memilih Ganjar? Jelas SBY dan Demokrat berada di belakang Ganjar. Kenapa pulak para kyai tidak menyuarakan hal serupa kepada warga NU di Jabar? SBY dan Demokrat berada di belakang Dedi Mizwar dan Dedi Mulyadi.

Cara serupa, dengan materi berbeda, dilakukan PKS di Jabar dan Jateng. Sudirman/Ida Fauziyah dan Sudradjat/Ahmad Syaikhu, yang mereka dukung, meraih tambahan suara di menit-menit terakhir. Jumlahnya berkisar belasan hingga duapuluhan persen di atas perkiraan semua polster. Semua. Apa yang mereka lakukan? Sama. Persis. Serupa: membroadcast pesan-pesan jorok ke para pemilih.

Jadi, di mana beda mentalitas sebagian kyai NU, yang kita banggakan itu, dengan PKS? Gak tahu di mana. Gak ada. Persis sama. Lalu apa kebanggaan dan keharuman yang tersisa bagi kita untuk melambung sebagai Islam Nusantara? Nothing. Nada. Etuvum. Rien.

Yang bikin tambah sesak, pesan-pesan jorok tentang Khofiffah ikut diluncurkan teman-teman saya, muncul berulang-ulang di timeline. Saya berduka sangat, tak lagi punya kebanggaan bergaul dengan NU, dan dengan sebagian dari kalian.

Kenapa otak kalian kosong dan tumpul?

Saya tak punya masalah bergaul dan ngopi dengan para pendukung Anies-Sandi, atau dengan PKS, asalkan percakapan yang berlangsung menggunakan akal sehat. Ekspektasi dan proyeksi dikemukakan berbasis asumsi, bukan ngaceng gak jelas. Dan asumsi tersebut terbuka untuk dikuliti. Bergaul dengan setan pun saya bersedia asalkan aturan main tadi disepakati.

Tapi bergaul dengan sekumpulan otak udang berhati busuk sungguh bikin capek, berpotensi menderita gangguan liver.

Saya belum meremove kalian, berharap sisa waktu 10 bulan cukup untuk membuatmu berubah. Tapi kalau tanda-tanda itu tak terlihat, serius, saya akan buang kalian.

Berotak tolol tak apa, asalkan terbuka kepada kebenaran dan seluruh kemungkinan baru.

Berotak goblok, berhati busuk, dan menutup diri kepada kebenaran, itulah kafir sebenar-benarnya. Itu kejahatan yang menjurus ke pemusnahan massal.

 

(Sumber: Facebook Sahat Siagian)

Thursday, June 28, 2018 - 15:45
Kategori Rubrik: