Khutbahmu Bukan Perniagaan Politik

Ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Menyimak manuver dan himbauan yang mulia bapak Amien Rais, yang mengajak ustadz untuk menyisipkan politik dalam ceramahnya. Sungguh saya tidak bisa menahan diri untuk harus memposting ulang tulisan lama ini.

Semoga kita belajar dari arabian spring dimana perpecahan dimulai saat mereka yg disebut ulama menjadikan mimbar sebagai podium politiknya. Mbah Amien mugi sehat terus

===============================

*Khutbahmu Bukan Perniagaan Politik*

Belakangan ini rasanya sulit menemukan Masjid dengan khutbah yang sejuk di ibu kota. Entahlah, mungkin saya yang kurang gigih mencarinya. Namun di banyak tempat saya menemukan khutbah yang penuh marah, sesekali fitnah dan ajakan menbenci tokoh. Miris

Mari berkaca pada Timur tengah yang hancur pasca gelombang Arabian springs. Kita tahu bagaimana pola penghancuran ini di mulai. Semua di mulai dari masjid. Saat khutbah mulai berbicara politik, saat kritik pemerintah di lancarkan dari menara masjid, saat demonstrasi menentang pemerintah d mulai usai sholat Jum"at. Hanya dalam lima tahun saja, perang telah membuat Syria kehilangan lebih dari enam juta warganya. Ratusan ribu mati sia-sia, lainnya lari mengungsi. Mereka yang masih tinggal di negeri porak-poranda itu pun terpaksa hidup tanpa kelayakan manusia. Dan itu semua di mulai dari Masjid.

Saya teringat di awal masa kampanye DPR dan presiden tahun 2014, mantan ketua Muhammadiyah Syafii Ma'arif di sebuah koran ibukota menulis

"Tuan dan puan bisa bayangkan, jika dalam khutbah Jum’at diselipkan kampanye politik partai tertentu, pastilah masjid berhenti menjadi tempat yang nyaman, diliputi oleh suasana persaudaraan. Perpecahan di akar rumput akan menjadi sulit dihindari, seperti yang dulu pernah berlaku. Jalan yang paling arif menurut saran saya adalah membebaskan semua masjid dari gesekan politik kepentingan sesaat. Jadikan Rumah Allah ini sebagai tempat teduh dan sejuk buat semua orang beriman, terlepas dari apa pun partai yang didukungnya" demikian tulis Buya syafii.

Senada almarhum Nurcholis Majid pernah wanti-wanti agar kita tidak mudah membawa label agama dalam kegiatan duniawi. Alasannya, bila tidak kebetulan dan kegiatan kita terperosok dan gagal, maka nama dan reputasi agama akan ikut terpuruk.

Kondisi ini mengingatkan ku pada sebuah hadist dimana Allah mencela masjid ' Dhirar". Masjid yang difungsikan untuk maksiat dan memecah belah persatuan kaum muslimin. Kaum Nunafik sengaja membangun masjid tersebut untuk merusak persatuan kaum muslimin. Suatu ketika mereka mendatangi Rasulullah dan meminta mahluk mulia ini agar shalat di sana, sekaligus sebagai peresmian masjid tersebut. Namun Allah ta’ala melarang beliau untuk mendekati masjid itu, dan memerintahkan untuk merobohkannya.

"(Di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka akan bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya)” (QS. At-Taubah: 107)"

Hari hari ini saya menyaksikan pola yang sama bagaimana masjid di tarik dalam ranah pertarungan politik, tempat memfitnah dan alat memecah belah . Dalam beberapa kali khutbah Jum'at di masjid dekat rumah ataupun Masjid dekat tempat kerja saya menyaksikan bagaimana sebuah cacian pada Pemerintah, pada Presiden di lontarkan dengan terbuka. Bahkan ajakan untuk tidak memilih kembali Presiden juga di lontarkan terang-terangan.

Bagi saya ini bukan soal Agama, ini adalah soal Politik. Di negeri ini saya bebas beribadah dan mengamalkan ajaran agama Islam, bahkan negara melindungi saya dalam perangkat undang-undang untuk menjalankan ibadah. Lantas bagaimana saya harus percaya bahwa Presiden kita adalah orang yang benci Islam hanya karena lembaga hukum menjalankan proses sebagaimana umumnya orang yang di laporkan berbuat pidana. Apakah karena ia memakai jubah lantas ia bebas dari perbuatan pidana? Saya rasa tidak demikian.

Manusia adalah tempatnya khilaf, dan hukum memberi solusi untuk tegaknya narasi keadilan. Bukankah tuhan mengajak kita berbuat adil?. Keadilan adalah ketika semua manusia tunduk di bawah payung hukum, benar kata orang " Jangan mencari keadilan di muka persidangan. Karena keadilan hakiki adalah milik Tuhan". Tetapi sebagai orang yang hidup sebagai warga negara yang menjadikan hukum sebagai panglima, saya yakin bahwa proses hukum harus berjalan. Hukuman di dalam penjara hanyalah bagian kecil dari cara tuhan mengurangi hukuman kita di akhirat, toh kita adalah korban rekayasa. Ada beragam saluran legal yang di sediakan negara untuk kita tempuh.

Saya tahu ini bukan soal keadilan hukum, ini soal politik. Yang kita sama tahu bahwa politik adalah perniagaan. Dan bukankan di masjid kita tidak boleh berniaga?

“Di rumah-rumah yang di sana Allah telah memerintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, di sana ber-tasbih (menyucikan)-Nya pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hari dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. an-Nur: 36-37).

Di ayat itu Allah menjelaskan bahwa fungsi masjid adalah untuk menegakkan ibadah kepada Allah. Kemudian di ayat kedua, Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar menegakkan peribadatan kepada-Nya, tidaklah menjadi terlalaikan untuk beribadah hanya karena mengurusi perniagaan dan pekerjaannya. Apalagi sampai tega menjadikan masjid sebagai tempat untuk berniaga. Politik adalah soal perniagaan bukan?

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Wednesday, April 25, 2018 - 20:30
Kategori Rubrik: