Khotbah Jumat Ini

 

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Tak ada yang ngelarang orang beribadah. Shalat Jumat berjamaah juga boleh sekiranya bisa dilakukan tanpa "kerumunan". Mongsok nggak boleh?

Di Maroko, para atlit Olympiade tahun ini, tetap berlatih bareng bersama pelatihnya, di rumah masing-masing. Gimana cara? Tentu secara virtual. lewat ponsel masing-masing. Jangan terlalu jadoel, ada banyak pengembangan iptek yang dibuat manusia untuk mempermudah yang sulit, bukan sebaliknya.

 

Namun karena saya belum sanggup ngimami, meski secara virtual, apalagi jamaahnya handal-handal (karena semua berhandal jepit), maka saya milih bagian khutah saja. Ini saya bocorkan khutbah saya tadi:

Hadhirin, sidang majelis yang mengasihi Allah, meski mungkin bukannya Allah tak membalas kasihmu, kecuali mengetahui apakah engkau mengasihi Allah secara tulus-ikhlas, atau bertendens, biar masuk sorga ketemu 77 bidadari? Hanya Allah yang tahu, malaikat pun mungkin tidak. Apalagi Muhammad, yang kemudian hanya berkata, bahwa keikhlasan dan ketulusan itu, tak mudah dinyatakan atau dilihat. Seperti seekor semut hitam yang amat sangat kuecil sekali, dan berada di batu item yang amat sangat bueeessssaaaar sekali tak terkira.

Maka jika ada orang yang bisa menilai, menyebut, menemukan keburukan orang lain, lebih buruk dari dirinya atau di luar dirinya, dialah mungkin yang dikasihi Allah subhanahu' wa ta'alla. Mungkin lho. Mungkin saja begitu. Tapi mungkin juga sebaliknya. Karena siapa yang tahu ukuran-ukuran yang ditentukan Allah secara presisi? Thermometer tidak. Penggaris tidak. Timbangan tidak. Apalagi ilmumu, yang hanya bersandar pada kelenturan lidahmu. Yang hanya bergantung pada kebaikan Karni Ilyas memberi panggung.

Hadirin, rahimmakumullah, sidang jumat yang takut shalat berjamaah. Apakah Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu' allaihi wassallam pernah bertemu Yesus? Bertemu Buddha? Khonghucu, dan lain sebagainya, para manusia baik budi yang diutus tuhan? Entahlah. Saya bukan ahli sejarah. Apalagi karena sejarah yang tak berbohong, seperti tulis Anatole France, tidak asyik. Terus apa hubungannya? Tidak ada. Sekedar nyebut saja. Biar kritikus medsos dapat bahan.

Maka demi mempersingkat waktu, karena waktu adalah uang, dan uang adalah agama umat manusia di dunia ini, seperti kata Voltaire, khutbah harus diakhiri dengan pantun. Karena kalau diakhiri dengan pembacaan naskah lakon Shakespeare, terlalu lama. Bisa jadi jumat depan baru rampung.

Ada udang di balik batu, (cakepppp)!
Ini khutbah tidak bermutu, (emaaaaaangggg)!

 
(Sumber: Facebook Sunardian W)
Friday, April 3, 2020 - 19:45
Kategori Rubrik: