by

Khilafah VS Demokrasi

Oleh : Islah Bahrawi

Mengapa sejak lama saya melawan sistem Khilafah? Karena proposal dari sistem ini: wewenang kepala negara berlaku seumur hidup dan kekuasaan hanya dibatasi oleh kematian. Sehingga Khalifah menjadi absolut, trajektori negara berada di ujung telunjuknya.

Jadi jangan heran jika dalam sejarah Khilafah banyak dihiasai brutalitas. Rasa tidak suka rakyat terhadap pemimpinnya, seringkali “diteriakkan” melalui pembunuhan agar terjadi “impeachment” paksa.

Kemudian demokrasi hadir. Membatasi masa jabatan pimpinan negara agar tidak terjadi “abuse of power”. Dalam demokrasi, suksesi kepemimpinan juga diatur dengan dasar meritokrasi, yakni mempertimbangkan kepatutan dan kemampuan. Bukan melalui jalur genetik atau nepotisme seperti halnya dalam kesejarahan Khilafah atau Mamlakah (kerajaan).

Mengapa kemudian saya kecewa kepada Jokowi? Karena dia berperilaku seperti Khalifah. Di saat sedang menjabat presiden, dia memaksakan anaknya menjadi Cawapres berikutnya. Otoritasnya sebagai kepala negara tidak mustahil dipergunakan untuk memuluskan jalan agar anaknya menjadi penguasa setelah dia bergeser. Demokrasi didevaluasi agar kekuasaan tidak menjauh dari telunjuknya.

Tolong dicatat: “anaknya dijadikan Cawapres ketika bapaknya sedang menjabat sebagai presiden!”

Lalu untuk apa selama ini saya – dan beberapa teman – bersuara lantang meneriakkan “Anti Khilafah” jika ternyata ada seorang presiden berkelakuan seperti Khalifah? Seorang Presiden yang dilahirkan secara demokratis berusaha mengawetkan kekuasaan melalui anaknya dengan memanipulasi konstitusi dan membegal moral demokrasi?

Silakan anda berbeda pandangan karena terlanjur memberhalakan Jokowi, tapi buat saya tindakan itu norak dan kampungan! Bapak Presiden yang terhormat itu telah lupa; dari ruang politik apa dilahirkan dan kemana arah jalan pulang …

Sumber : Status Facebook Islah Bahrawi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed