Khilafah Monarkhi Absolut

ilustrasi

Oleh : Yanti Herlanti Tjahja

Sistem khilafah yang kita sematkan padanya kata “Islamiyyah”, pada hakikatnya tak lebih dari sistem kekuasaan monarki absolut. Ia tidak menampilkan apapun dari Islam kecuali namanya. Dan seruan untuk menghidupkannya lagi, sebenarnya lebih pas disetarakan dengan ambisi nasionalisme Arab untuk mempersatukannya, daripada ambisi untuk menegakkan negara teokratis ala Islam. Jika dasarnya itu, kita dapat menerimanya sebagai seruan politik "Ding an sich". Jika agendanya mengajak persatuan, dasarnya mestilah kepentingan semua. Dan bila ajakannya berupa kampanye untuk saling melengkapi, maka pijakannya haruslah prinsip peradaban yang rasional. Dan bila ia tetap ingin mengambil inspirasi dari masa lalu, hendaklah itu dilakukan lewat analisis cermat terhadap kebenaran sejarah.

Prof. Mahfud tidak mungkin mengada-ada soal tantangan debat mengenai Khilafah, mengingat sistem politik ini selalu dihubungkan dengan konsep teologi dan "Minhajin Nubuwwah" - yang pada dasarnya secara historik membuka rasionalitas kita semua bahwa Khilafah masa lalu selalu berkutat dalam arogansi dinasti, nepotisme dan penyimpangan dari hukum agama Islam itu sendiri. Kita juga tidak mungkin mengatakan bahwa Khilafah adalah solusi dari semua permasalahan entitas negara setelah kita mengetahui sejarah Khilafah hanya didominasi oleh prakrik agitasi kekuasaan, kekerasan, pengkhianatan dan penyimpangan hukum agama - dimana Tuhan sangat tidak mungkin ikut serta dalam persekutuan keji semodel itu.

Khilafah bukan persoalan suka atau tidak suka, bukan pro atau anti, tapi ini persoalan empiris bahwa berbagai petikan kejayaan Islam yang selalu disodorkan kepada kita untuk "memperindahnya", adalah bagian dari peradaban Islam yang memang sedang bergairah luar biasa. Banyak ilmuwan Islam justru berasal dari kalangan Syi'ah yang tersingkir secara politik, lalu lebih berkonsentrasi dalam keilmuan. Sebut saja Al Khawarizmi, Ibnu Sina dan Al Kindi. Artinya, politik kekuasaan kala itu, bukanlah faktor utama yang menjayakan Islam secara intelektual, tapi justru adanya disparitas dan segregasi tafsir.

Silakan umat Islam hidup bersyariah, tapi tidak harus memaksakan kepada orang lain yang berbeda pemahaman. Kita hidup dalam negara yang majemuk, seperti halnya Madinah di era Kanjeng Nabi.
____

Bahaya sentimen agama, sejarah menunjukkan kekuasaan agama yg kemudian meminta memilih warganya jadi muslim atau bayar jizyah tidak kekal hanya meninggalkan dendam. Mereka yg muslim dg paksaan seperti akhirnya balik lagi ke agama mereka tak meninggalkan sisa. Eropa zaman Bani Umayah adalah buktinya.

Sejarah masa lalu yg kelam dalam beragama BUKAN UNTUK DIULANG, DIBANGKITKAN, DITERAPKAN, tapi wajib dihindari. Udah terbukti pola dakwah para wali songo di Indonesia, dakwah damai dengan pendekatan persuasif melalui budaya dan menciptakan budaya baik....itu yg terbukti. Itu yg sampai saat ini dipegang para Nahdiyin.

Sumber : Status Facebook Yanti Herlanti Tjahja

Thursday, July 2, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: