Khilafah dengan Kearifan Lokal

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Selama ini yang kita ketahui merebaknya istilah 'khilafah', sejak ISIS, Islamic State of Iraqi and Syriah, eksis.

Kelompok yang dikomandani Abu Bakr Al-Baghdadi ini bikin heboh Timur Tengah. Klaim keturunan Nabi, sekaligus Khalifah negara (Islam) seluruh dunia.

Sejak itu kelompok ini bikin repot banyak negara, termasuk Indonesia. Di Timur Tengah apalagi. Iraq dan Suriah yang sedang 'status-quo' segera dilahapnya. Para sultan dan emir negeri Teluk pun berang, mana mau tiba2 statusnya terancam cuma turun jadi 'gubernur'. Dibawah khalifah Al Baghdadi . . .

Setelah digempur dari kiri-atas oleh Iran, di 'pandegani' Jendral Qassem Soleimani, dari kanan-bawah digencet Amerika dan sekutu 'Arab'nya, Al Baghdadi, doktor studi Islam ini tewas. Bulan Oktober 2019 lalu . . .

Namun ide khilafah-nya belum pupus. Pasti segera muncul penggantinya. Siapa sih yang ndak kepingin jadi 'raja diraja' dari negeri2 seluruh dunia . . .

Sebenarnya cita2 jadi raja penguasa dunia di jaman modern ini, bukan ide baru. Dulu ada Hitler dengan 'Reich Ketiga'nya. Atau Jepang dengan ide 'Asia Timur Raya'.

Amerika kalau ndak ada Rusia, dan sekarang China, mesti pengen jadi juga. Seperti yang mereka cita2kan. Minimal jadi 'Polisi Dunia'.

Semua harus dibawah kuasa-nya. Baik halus atau kasar. Terang2an atau 'klandesten'. Biasanya ditandai dengan pangkalan militer-nya yang berserak dimana-mana. Indonesia tahun 1960 an pernah mengalami. Soekarno yang dinilai 'bau-bau' komunis, karena dekat dengan Rusia dan China, di dongkel oleh mereka. Diangkatlah Jendral Soeharto . . .

Tapi jangan terlalu kagum dengan mereka, Al Baghdadi, Hitler, Jepang, dan USA. Karena dari sebuah desa, cuma sekelas desa, di Kabupaten Purworejo, muncul 'khilafah' baru. Yang ini penuh nuansa 'kearifan lokal'.

Bau 'lokal' karena sang khalifah, Raja, klaim dirinya sebagai keturunan Majapahit, trah 'wangsa' Sanjaya. Katanya berdasar 'perjanjian' dengan pihak Portugis yang mewakili kerajaan eropa. Waktu itu Majapahit diwakili oleh Dyah Ranawijaya. Penguasa terakhir, kata mereka.

Majapahit pada tahun 1518 dengan Portugis, bikin perjanjian, 'Stadblaad Atlantic'. Kelak setelah 500 tahun kemudian, kekuasaan akan 'dikembalikan' lagi ke penguasa Majapahit.

Karena Prabu Brawijaya atau Dyah Ranawijaya, versi mereka, penguasa majapahit terakhir sudah ndak ada, maka limpahan kuasa yang terima Raja yang sekarang, Sinuhun Totok Santosa Hadiningrat.

Dan nama kerajaannya pun bukan Majapahit lagi, tapi 'Kerajaan Agung Sejagad'. Berpusat di desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Propinsi Jawa Tengah.

'Sinuhun' klaim bahwa negara tidak akan jadi makmur dan sejahtera jika tidak dipimpin oleh seorang Kaisar. Yaitu dia sendiri.

Seperti Al Baghdadi dan USA, 'sinuhun' juga klaim daerah kekuasaan-nya meliputi seluruh negara yang ada di dunia.

Punya kelengkapan perangkat di benua Eropa. PBB diakui sebagai parlemennya untuk seluruh dunia. Termasuk Dewan Keamanannya.

Bahkan 'Pentagon', bangunan segi 5 yang ada di Arlington, Virginia, Amerika, dia yang kuasa, bukan USA, dawuhnya . . .

Donald Trump yang 'sangar' itu, kalau tahu atau dengar klaim 'sinuhun', bisa ndadak tewas. Mati karena ketawa. Setidaknya bunuh diri karena 'minder'.

Kelucuan belum selesai. Di prasasti batu besar terukir dengan huruf Jawa. Yang dibuat oleh orang yang mereka sebut sebagai Empu Wijoyoguno, berdasarkan titah 'sinuhun'.

Ada tulisan 'Bumi Mataram Keraton Agung Sejagad'. Katanya ndak sangkut paut dengan kerajaan Mataram, baik Islam maupun Kuno. Ternyata 'mataram' akronim dari 'mata rantai manusia' . . .

Lazimnya, suatu kerajaan punya nama atau sebutan yang punya arti khusus. Majapahit, misal, konon dari buah 'maja' yang dimakan prajurit ketika 'babad alas', ternyata pahit. Sriwijaya, punya arti 'kemenangan yang gemilang' . . .

Lha ini, pakai akronim kayak nama geng motor. Ganas, misal. Akronim dari Gabungan Anak Setan . . .

Ada lagi, dibatu prasasti selain ada simbol bintang 8, 'surya Mojopait', simbol imperium Majapahit, ada juga gambar 'sperma'. Lambang kehidupan, jelas Empu Wijoyoguno . . .

Namun jangan dianggap remeh, meski nampak lucu dan menggelikan, bahkan meresahkan masyarakat sekitar, ada juga yang percaya.

Ada sekitar 425 orang bersedia jadi 'abdi dalem' atau 'prajurit', atau perangkat lain. Pada hari Minggu, 12 Januari lalu ber-pawai, kirab, dengan percaya diri. Pakai busana warna warni serta asesori. Sinuhun sendiri duduk diatas kuda dengan gagah.

Permaisuri, Kanjeng Ratu Dyah Gitarja pun tak kalah elok. Berbusana kerajaan, duduk diatas punggung kuda, dadah-dadah . . 

Memang, sekali lagi, menjadi Raja, Kaisar, atau Khalifah, godaan yang menggiurkan siapa saja. Apalagi kalau punya 'bawahan' seantero dunia. Dalil dan alasan bisa dicari dari mana saja. Masuk akal atau tidak, ndak penting2 amat juga . . .

Jika khilafah 'islamiyah' muncul lagi dengan klaim berdasar sunah Nabi dan Qur'an, kita bisa cari jawaban 'kontra' dengan mudah. Misal pakai argumen Gus Nadersyah Hosen, lewat buku dan twitter-nya. Ini yang paling saya suka.

Ketua NU Cabang Khusus Ustrali dan Selandia Baru ini bisa sampaikan rentetan Hadits dan ayat Qur'an beserta tafsir keduanya. Dari berbagai macam sumber secara meyakinkan. Mematahkan ide2 kaum khilafis.

Namun hadapi klaim khilafah bernuansa 'kearifan-lokal', Keraton Agung Sejagad, Gus Nader mesti tak akan 'berdaya'. Paling cuma garuk2 kepala . . .

Diatas semua, setidaknya kita boleh bangga, dari sebuah desa di sudut wilayah sebuah Kabupaten, Purworejo, telah ada yang mampu menjawab tantangan kita semua. Maunya yang berbau 'lokal'.

NU boleh saja punya konsep 'Islam Nusantara'. Islam yang 'membumi' Indonesia. Sinuhun Totok Santosa Hadiningrat, ndak mau kalah. Usung tema 'kearifan lokal' juga. Tandingi konsep khilafah Baghdadi dan USA. Keraton Agung Sejagad, yang berpusat di Purworejo . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Wednesday, January 15, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: