Khilafah dan Mata Uang

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Pada waktu khilafah Turki dikuasai oleh bani Ustmani..., mata uang khilafah (Baron) itu jaminannya emas (Gold standard).

Waktu itu orang percaya..., bahwa setiap uang yang dipegang itu identik dengan emas.

Karena kekuasaan khilafah yang begitu luas..., maka mata uang Khilafah tersebut diterima di semua negara di bawah taklukan khilafah Turki.

Namun ada segelintir orang yang tidak percaya kepada khilafah Turki..., yaitu Yahudi Armenia.

Mereka berpikir cerdas..., mereka mempertanyakan tentang bagaimana khilafah bisa hidup bergelimang harta tanpa produktifitas tinggi seperti Inggris..., tetapi tetap makmur.

Apakah benar..., bahwa mata uang khilafah itu dijamin oleh emas..?

Untuk tahu itu tentu tidak mudah..., karena sistem khilafah yang dikawal ulama memaksa semua orang harus percaya.

Apalagi uang khilafah itu diback up dengan fatwa Ulama.

Rabu 26 Agustus 1896..., sekelompok teroris Armenia menyerbu Bank Ustmani di Galata.

Kelompok lainnya..., juga memaksa masuk ke Sublime Porte.

Teroris Dashnak yang masih hidup di Bank Usmani..., menegosiasikan pelarian mereka yang aman dari kota.

Dari peristiwa itulah dunia jadi tahu..., bahwa emas yang katanya sebagai jaminan itu tidak sebesar ceritanya.

Rumorpun meluas...; Khilafah berbohong dan melakukan penipuan sistematis.

Orang tidak lagi percaya kepada mata uang Baron..., uang resmi Khilafah.

Para tentara menolak dibayar dengan mata uang Khilafah..., pedagang menolak menerima mata uang Baron.

Khilafah bangkrut..., dan akhirnya berhutang ke Rusia (Tsar).

Berabad abad Khilafah berkuasa..., tidak ada satupun negara yang bisa menembus benteng Khilafah.

Namun ketika segelintir orang nekat menyerbu ke bank centralnya..., lantas bicara kepada dunia bahwa emas tidak ada sebanyak yang dikatakan..., maka jatuhlah Khilafah.

Jatuh karena moral..., kehilangan kepercayaan/ trust.

Dalam kehidupan apapun..., walau kita hebat agamanya..., dikawal dengan ribuan Ulama dengan faktwa berlapis...; namun sekali anda kehilangan kepercayaan/trust..., maka hancurlah kita.

Apalagi ini soal uang.

Mencetak uang adalah mental terbelakang..., yang di 'create' oleh penguasa..., agar mereka berkuasa dari uang yang mereka ciptakan sendiri di atas narasi ekonomi atau emas.

Tetapi dengan itu..., sebetulnya mereka sedang membangun istana pasir.

Sekali itu dilakukan..., trust hilang..., maka kekuasaannya akan dipertanyakan.

Bukan hanya oleh rakyatnya sendiri..., tetapi juga oleh dunia luar.

Kalau trust sudah hilang..., maka hanya masalah waktu kekuasaan itu akan jadi bahan olok olok sebelum akhirnya tumbang.

Dalam sistem ekonomi yang serba terbuka..., kalau anggaran defisit..., ya berhutang.

Pastikan pengelolaan negara itu transparan..., sesuai dengan prinsip nilai nilai demokrasi.

Memang berhutang itu tidak mudah..., tidak semudah mencetak uang atau merampok.

Tetapi..., dalam hidup ini mana ada uang gampang.

Kalau uang gampang..., tidak perlu ada sekolah..., dan tidak perlu ada polisi..., serta tidak perlu ada DPR.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Monday, May 18, 2020 - 11:45
Kategori Rubrik: