Khilafah, Antara Surga dan Kehancuran

ilustrasi

Oleh : Karto Bugel

Seri : 75 TAHUN MERDEKA

Kibarkan benderamu!!

Patri dalam hatimu makna Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa, Indonesia!

Tetapkanlah dirimu, hanya menjadi satu Indonesia.

Dulu...,ekspresi wajah kagum, sorot mata takjub dan sikap tubuh menunduk bangsa lain memberi hormat, dan kita, membungkukkan badan kita lebih dalam lagi. Kita bangsa yang penuh unggah ungguh.

Bukan tentang kita sebagai bangsa yang besar dan kita berjalan dengan sikap tubuh mengintimidasi dan membuat bangsa lain takut. Bukan karena kita tangguh dan lantas pongah terpancar pada sikap kita. Kita bangsa besar karena budaya agung yang melekat pada seluruh tatanan hidup.

Pernah suatu saat kita jatuh dan marah. Kita bercerita dan menangis dalam duka pilu karena derita 350 tahun dijajah oleh bangsa imperialis tamak tak pernah merasa kenyang. Kita timpakan semua kesalahan pada bangsa penghisap itu.

"Benarkah?"

Belanda (VOC), tak lebih hanya eksekutor. Dia bukan negara, hanya pedagang yang mencoba mencari sumber dagangan karena Ottoman menutup jalan menuju Asia saat itu. Mereka tak lebih hanya bangsa beruntung yang menemukan ladang subur siap panen atas hasil berlimpah kebun bernama Nusantara.

Ibarat seorang pedagang yang sedang mencari sumber kulakan, mereka menemukan peluang mendapat keuntungan berlimpah.

Bayangkanlah kita adalah pedagang itu. Ada tenaga, waktu, jarak dan modal telah kita keluarkan. Puluhan gerobak kosong kita siapkan demi diisi barang kulakan. Berjalan dan terus berjalan kita mecari sumber barang yang kita cari.

Ketika tiba disuatu tempat dan dari kejauhan, teriakan marah bercampur beradunya pedang dan segala senjata terdengar saat rombongan gerobak kita melintas, mundur dan menjauh, atau mendekat lalu mengintip apa yang terjadi, keduanya hanya soal pilihan.

Mundur dan menjauh memang menjadikan kita aman, namun waktu, tenaga dan mendapatkan apa yang kita cari menjadi buyar. Kita terancam bangkrut.

Mendekat dan mengintip apa yang sedang terjadi, membuat posisi kita berbahaya, namun kita tahu ada apa disana.

Saya memilih opsi yang kedua. Dan..,saya mendapat peluang!!

Saya tidak memihak keduanya. Saya modali keduanya untuk terus berkelahi. Dari kelompok A saya dapat barang A atas dukungan saya, dari kelompok B saya dapat barang B atas hal yang sama seperti yang saya lakukan pada A.

Saya justru mendapat keuntungan dari perseteruan dan permusuhan mereka. Yang pada awalnya peristiwa seperti itu adalah kebetulan semata, kini ide membuat perseteruan itu terus berlangsung pada banyak tempat justru menjadi tujuan.

Seperti itulah kira-kira gambaran para imperialis yang pada awalnya adalah tentang mencari sumber dagangan, dan kemudian justru mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih besar, MENGUASAI!!

Setelah Majapahit runtuh, kita terpecah. Kita sibuk berebut kekuasaan. Kita saling memukul dan berusaha membunuh saudara kita. Kita dibuat buta dan mudah marah karena sebab sesuatu yang bukan milik kita. Kita melupakan budaya kita. Kita lupa, siapa kita.

Penetrasi budaya asing yang sedemikian cepat terjadi didalam lingkar kekuasaan dan menyeruak demikian masif saat itu adalah satu dari banyak penyebab keruntuhan Majapahit.

Nusantara demikian cepat runtuh bukan karena sebab intervensi negara yang jauh lebih kuat namun runtuh dari dalam.

Kita bercerita dijajah Belanda selama 350 tahun dan marah. Kita menyalahkan kerajaan Belanda seorang tanpa mengingat VOC yang adalah sekumpulan orang yang bersatu dalam sebuah perusahaan dagang hingga 1799 dan kemudian Dandels yang sebenarnya adalah Perancis dan Raflles Inggris.

Kita lupa bahwa sikap kitalah yang justru membuat mereka demikian mudah berkuasa dan merampok seluruh kekayaan kita.

Kita terpecah dalam ketidak mengertian kita tentang siapa kita sebenarnya. Kita adalah bangsa besar yang hancur hanya karena kita sebagai manusia Indonesia dipisahkan dari budaya kita.

Kita sibuk baku pukul antar kita sendiri karena tak ada lagi perekat persatuan kita.

Beruntung, kesadaran akan hal itu kembali muncul. 28 Oktober 1928 Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa, kita ikrarkan kembali sebagai jawaban para pemuda dari seluruh sudut Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote atas kegelisahan yang menimpa bangsa ini.

Dan puncaknya adalah 17 Agustus 1945 dimana Soekarno-Hatta bersama seluruh komponen rakyat Indonesia memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia.

Luar biasanya, para pemuda dan seluruh komponen masyarakat yang tergabung dalam kesatuan sebuah bangsa itu menyatakan Kemerdekaan Indonesia sama persis seperti ketika imperialis itu menguasai kita.

Para pemuda memproklamirkan Indonesia, saat para imperialis sibuk saling pukul satu dengan yang lain dalam perang dunia ke dua, sama seperti cara mereka menguasai kita yakni saat kita sedang saling pukul dengan saudara kita.

Kita merdeka karena konsep Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Kesadaran seperti itulah yang membuat kita tegak menjadi bangsa besar dan disegani.

75 tahun sudah kita akan merayakan moment besar Kemerdekaan itu. 75 tahun sudah banyak badai dan gelombang pernah menerpa bahtera besar kita bernama Indonesia.

Dulu, Persatuan dan kesatuan dalam ikatan NUSA, BANGSA dan BAHASA INDONESIA, adalah kunci keselamatan dan tegaknya bangsa besar ini.

Sayup-sayup, ditengah gemuruh dan pikuk, lirik lagu Kulihat Ibu Pertiwi terdengar lirih dan gugup. " Ibu pertiwi sedang bersusah hati...,air matanya berlinang, merintih dan berdoa...,.."

Seolah ditepi jurang, terpojok dan meringkuk dalam lemah dan peluh, kita bertahan. Banyak sorot mata memandang bengis dengan mulut rakus bersorak rasis semakin membuat panas suasana. Harapan kita jatuh tersungkur, dinanti bangsa imperialis.

Lima tahun sudah kita diusik teriakan-teriakan dengan bahasa asing. Lima tahun sudah khilafah mereka jadikan senjata, mengaduk rasa benar dan salah kita. Lima tahun itu pula kita dibuat tak berdaya hanya karena kita takut dianggap menghina agama dan kita hampir takluk.

Mereka pintar dan mengerti bagaimana cara masuk dan bersembunyi. Khilafah, adalah cara kita dibuat terjebak pada rasa tak mengerti dan gamang.

Kembali kita terjebak. Sekali lagi, budaya asing digunakan memecah belah kita. Untuk sesaat, sebagian dari saudara kita lupa, siapa kita.

Sama seperti dulu, kita sebagai bangsa sedang dibuat bingung. Pondasi kita sebagai bangsa sedang digerus. Kita sedang dibuat berdiri tanpa dasar yang jelas. Kita sedang diajak lupa siapa kita. Dan sesaat..,kita oleng..

Kita saling cakar. Kita saling menghina dan kita semakin jauh dari apa itu Indonesia.

Haruskah imperialis kembali datang dan memberi apa yang dibutuhkan kedua kelompok yang sedang berseteru itu untuk saling menghancurkan satu dengan yang lain sama seperti kita dahulu kita pernah?

Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa sebagai ikrar para Pemuda pada Oktober 1928 dulu, adalah apa yang kita butuhkan hari ini.

Saya Batak, saya Sunda, saya Papua, saya Bugis, saya Ambon, saya Dayak, saya Minang, saya Flores dan apapun suku saya, saya adalah Indonesia.

Saya Islam, saya Kepercayaan, saya Hindu, saya Kristen, saya Buddha, saya Konghucu, saya Katolik, dan apalun kepercayaan dan agama saya, saya adalah Indonesia.

Bangsa apa yang akan tetap survive seratus hingga duaratus tahun yang akan datang adalah bangsa yang mengerti tentang konsep kemanusiaan dimana budaya adalah sebagai tolok ukurnya. Seharusnya, itu adalah tentang kita.

Bangsa seperti apa yang akan besar dan kaya sehingga konsep keadilan bagi seluruh rakyatnya terpenuhi, adalah tentang sumber daya alam yang terkandung dalam bumi pertiwinya. Seharusnya, itupun tentang kita Indonesia.

Anugerah besar itu kini digantungkan pada kebersamaan kita. Dia akan runtuh, dia akan melesat menjadi berkah, adalah tentang kebersamaan kita.

Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa tahun 1928 pernah menjadi cerita sukses yang mampu mengantarkan kita pada kemerdekaan 17 Agustus 1945. Nusa, Bangsa dan Bahasa yang sama, sejarusnya akan mengantar kita pada kebesaran dan kejayaan kita pada satu Indonesia.

"Percaya?"

Jadilah INDONESIA..!!
.
.
.
RAHAYU
Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Friday, August 7, 2020 - 22:15
Kategori Rubrik: