Khalifah dan “Khilafah” Dalam Al Qur’an

Harap diingat bahwa Nabi Dawud adalah Raja Bani Israil. Dalam ayat di atas, Nabi Dawud diperintah untuk memberi keputusan dengan adil. Jadi istilah KHALIFAH di sini artinya PENGUASA (PEMIMPIN).
Inilah spirit ajaran Qur’an: keadilan. Sehingga amanah sebagai khalifah (pemimpin) harus diwujudkan dengan prinsip keadilan. Kata adil dalam al-Qur’an disebut sebanyak 28 kali.
Pada titik ini, tidak satu pun ayat mengenai KHALIFAH bicara mengenai SISTEM PEMERINTAHAN. Tentu ini dapat dipahami karena ada jarak yang jauh antara Nabi Adam dan Nabi Dawud dengan kehadiran Nabi Muhammad SAW.
Istilah Khalifah dalam konteks kepemimpinan umat pasca wafatnya Rasulullah SAW, muncul setelah beliau SAW wafat.
Jadi, sekali lagi menjadi jelas bahwa penggunaan kata khalifah dalam al-Qur’an digunakan merujuk ke Nabi Adam dan Nabi Dawud, bukan merujuk kepada khalifah sepeninggal Nabi Muhammad.
Tidak ditemukan istilah KHILAFAH dalam al-Qur’an. Maka kita sebaiknya jangan mengklaim sebuah istilah seolah ada dalam al-Qur’an padahal tidak ada sama sekali.
Lantas apa bedanya KHALIFAH dengan KHILAFAH?
Khilafah belakangan ini telah menjadi sebuah istilah yang bermakna SISTEM PEMERINTAHAN. “Pemerintahan Khilafah” ini sudah bubar sejak tahun 1924. Karena sudah bubar untuk selanjutnya digantikan oleh negara-bangsa (nation state).
Jadi, istilah khilafah tidak ada dalam al-Qur’an. Istilahnya saja tidak ada, apalagi bentuk dan sistem pemerintahan yang dikoar-koarkan HTI (khilafah ala HTI).
Bisakah seorang menjadi Khalifah tanpa ada Khilafah? Bisa. Kenapa tidak? Bukankah kita semua sebagai anak cucu Nabi Adam adalah pewaris dan pengelola bumi? Ini khalifah dalam pengertian Qur’an, bukan dalam konteks sistem Khilafah ala HTI.
Bisakah pemimpin sekarang kita sebut sebagai Khalifah meskipun tidak ada khilafah? Bisa, mengapa tidak? Bukankah Nabi Dawud menjadi Khalifah padahal beliau Raja Bani Israil? Kata kuncinya, seperti dijelaskan di atas, adalah keadilan. Siapapun pemimpin yang adil, maka bisa dianggap sebagai Khalifah seperti Nabi Dawud.
Bisakah ada khalifah tanpa khilafah? Bisa, mengapa tidak? Bani Umayyah, Abbasiyah dan Utsmani itu berdasarkan kerajaan, diwariskan turun temurun. Ini bertentangan dengan konsep yang dijalankan Khulafaur Rasyidin. Tapi toh namanya juga disebut sebagai Khalifah. Artinya pada titik ini cuma sebutan gelar belaka untuk kepala negara, sementara esensinya sudah hilang.
Jadi jangan dikacaukan antara istilah khalifah dalam al-Qur’an dengan istilah khilafah (sistem pemerintahan) yang tidak ada dalam al-Qur’an.
Bagaimana dengan di kitab fiqh? Pembahasan di kitab fiqh itu dalam konteks kewajiban mengangkat pemimpin (Imam atau khalifah), bukan kewajiban menegakkan sistem khilafah.
Sampai di titik ini kerancuan semakin parah: seolah wajib mendirikan sistem khilafah. Padahal yang wajib itu memilih pemimpin.
 
Sumber : Status Facebook Nun Alqolam

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *