Khalifah Dan Kekuasaan

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Sedikit baca sejarah kekuasaan di Timur Tengah. Ketika seorang ruler dari dinasti Ummayah ingin mendapat legitimasi atas kekuasaannya, maka muncullah hadist "khulafaur rasyidin". Seolah rasul pernah berkata, akan ada khalifah-2 setelah beliau wafat.

Padahal rasul hingga wafat, tidak pernah berpesan untuk menunjuk pengganti (khalifah). Karena fokus rasul diturunkan adalah untuk pengajaran spiritual dan perbaikan akhlak, bukan membangun kekuasaan politik. Bahwa setelah itu ada kekuasaan yang kebetulan dipegang orang Islam, itu bukan bagian dari sejarah kerosulan. Kekuasaan ya bagaimana menguasai wilayah dan sumberdaya. Agama semacam legitimasi untuk mendapat dukungan. Bayangkan pasukan bergerak tanpa bendera pemersatu, pasti sulit. Prinsip agama adalah menyebarkan kebaikan, menjadi rahmat bagi seluruh alam. Bukan penaklukan dan menguasai.

Pengangkatan khalifah Abubakar adalah kreativitas, untuk kelangsungan tertib sipil. Sampai Ali, khalifah masih dipilih, sejak Muawiyah jadi turun temurun.
Konsep "khulafaur rasyidin" belum dikenal pada masa Nabi. Setelah Nabi wafat, ummat berkreasi membentuk khalifah, dengan menunjuk Abubakar dan seterusnya.

Sampai tiba pada masa dinasti Ummayah, dimana khalifah-2nya lahir setelah Nabi wafat, dan turun temurun dari Muawiyah. Supaya sang khalifah ditaati rakyatnya, diciptakan hadist 'khulafaur rasyidin'. 
Dulu di SMP sejarah Islam membahas khulafaur rasyidin seakan bagian dari ajaran Islam. Sekarang baru jelas, itu kisah kekuasaan.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Monday, August 19, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: