Khalid Bin Walid, Raisya dan Babanya Raisya

ilustrasi

Oleh : Zico Pratama Putra

Even tentang peristiwa pengepungan Hira ini, meskipun kalah tenar dengan peristiwa ekspedisi Khalid lainnya, memang sangat romantik dan historis. Tak kurang Imam Adz Dzahabi, Ibnu Katsir, dan juga Ibnu Hajar dalam tahdzib, tiga kritikus hadits paling jempolan pada zamannya, sangat takjub dengan keberanian Khalid menenggak racun tersebut. Aksi singkat itu menimbulkan perdebatan ratusan tahun ke belakang tentang "bolehkah kita meniru hal serupa?". Kalo ngga boleh... why? why Khalid???

Berbagai analisa bermunculan, yang ga ingin saya bahas panjang disini. Tapi ada analisa nyentrik dari Mbah Jambrong, bahwa boleh jadi sebetulnya beliau ini mutant. Dia punya self-healing, self-recovery level "non-orang". Bisa tempur 200 perang, kenyang sama gebuk, luka dan tusukan, tapi tetap survive??? Man... He is from other dimension... other planet, beyond this world.

Mbah Jambrong dalam bukunya "The History of Kelirumology" mengajukan teori, mungkin planet beliau dulu itu hancur. Tapi ayahnya pada detik terakhir kehancuran planetnya, berhasil meluncurkan kapsul luar angkasa yang mengarah ke planet bumi. Bayi itu selamat dan dipungut keluarga bangsawan arab. Untuk menyembunyikan identitasnya, kadang cukup pakai kacamata saja seperti dilakukan Clark Kent. Tapi Khalid, dia cukup pakai kopiah. Ga ada yang bisa bedain dia dengan manusia biasa.

Teori ini sungguhpun lemah, tapi yah dari pada ngga ada.. Kita mentok, ga punya penjelasan lebih rasional lagi.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Prajurit: Bang.. beneran itu Neng Raisya udah dijatah buat ane. Ngga bohong, Bang.

Khalid:.......

Khalid menatap kakek itu. Gimana dia harus ngomongnya? Bahwa prajuritnya ingin menikahi dengan anak gadisnya? Masa dalam perjanjian bilateral antar negara bisa masukin klausul kayak gitu. Ditatapnya prajuritnya yang setia ini. Dia sudah bertahun-tahun menyertai Rasul, bahkan Khalid dalam setiap badai kehidupan dan perang. Tapi kakek itu.. Khalid pun sangat respek padanya.

Cukup lumrah zaman dulu itu, wanita jadi "korban" perdamaian. Firaun pernah berdamai dengan Nabi Ibrahim AS, lalu dia serahkan anak gadisnya, Hajar AS, untuk dibawa Nabi Ibrahim. Darinya lahirlah Ismail AS.

Rasulullah SAW pun pernah berdamai dengan Raja Mesir. Gantinya, Raja Kristen Mesir menghadiahkan Maria dan Shireen kepada Nabi SAW.

Khalid ngga mungkin mengecewakan prajuritnya, sekalipun dia ingin sekali menghindar. Gimana sebetulnya ceritanya?

Konon Suatu hari di Madinah, Nabi Muhammad SAW sedang duduk bersama sejumlah sahabat, berbicara tentang ini dan itu. Subjek beralih ke negeri yang asing, dan Nabi mengatakan bahwa segera Muslim akan menaklukkan Hira. Kemudian seorang Muslim, seorang lelaki sederhana, berkata dengan bersemangat, "Wahai Rasulullah! Ketika kita telah menaklukkan Hira, bisakah saya memiliki anak dari Abdul Masih?"

Putri Abdul Masih, adalah seorang princess. Orang-orang Arab telah mendengar tentang dia sebagai seorang wanita cantik yang bikin jantung lelaki manapun berdebar-debar - seorang wanita yang lebih cantik daripada wanita lainnya. Nabi tertawa, lalu dia menjawab, "Dia akan menjadi milikmu"

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Khalid cari jalan buat ngeles.

Khalid: Abang yakin Nabi ngucap begitu?

Prajurit: Wallahi, Bang!

Khalid: Ada saksi ga, Bang?

Prajurit: Ada dong.

Prajurit ini memanggil dua kawannya sebagai saksi yang turut mendengan ucapan Nabi dulu. Kali ini Khalid ngga berkutik. Jarang sekali dia kalah negosiasi. Raisya harus masuk dalam klausul perjanjian.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Keluarga Abdul Masih, babanya Raisya, cukup bingung dengan request ini. Haruskah mereka lepaskan Raisya yang biasa hidup di istana, dipersunting orang dari padang pasir sana? Tapi Raisya adalah anak yang budiman. Ini betul-betul kayak kisah Siti Nurbaya.

"Ayah ngga usah sedih. Aku akan berangkat", ujar Raisya.

Maka Raisya berangkat dengan pakaian pengantin, diantar menuju pasukan Khalid bin Walid. Pasukan Khalid pun bersuka cita dan menyiapkan jamuan untuk prajuritnya yang akhirnya melepas masa lajangnya. What a Band of Brothers!!

Penantian itu akhirnya tiba, janji Nabi SAW akhirnya terbukti. Gadis rambut pirang mata biru. Sudah terbayang di mata prajurit kita ini kebahagiaan memadu kasih dengan seorang puteri raja. "Kalo peperangan ini berakhir someday.. aku mo dirumah aja terus dah, ga keluar-keluar", pikirnya. Raisya pun dibawa ke kamar pengantin ala tentara.

Raisya: Akheee...

Prajurit: Yes, my love. Marhaban, selamat datang..

Prajurit membuka cadar Raisya, tapi dia menyaksikan hal yang tidak pernah terbayang sebelumnya.

Prajurit: Raisya.. is that real you?

Raisya: Iya akhee, ini aku.

Prajurit ini memang pernah bertemu Raisya, tapi itu duluuuu... 60-an tahun lalu.

C G C
Aku masih seperti yang dulu
F G
Menunggumu sampai akhir hidupku
F C F
Kesetiaanku tak luntur hatipun rela berkorban
C G C G
Demi keutuhan kau dan aku

Dunia seakan runtuh, ini betul-betul mustahil. Mungkinkah Raisya dikutuk oleh penyihir jahat, dan kutukan itu baru lepas setelah dapat ciuman tulus seorang pangeran? Tapi itukan kisah Pangeran Kodok!!

Raisya: Apa yang Abang harapin dari seorang nenek berusia 80-an tahun?

Prajurit:....

Raisya: Yaudah Bang, lepasin aja deh akuh. Akuh bisa move-on.

Prajurit ini langsung berpikir kilat. Warga kampungnya cukup kejam. Dia bisa dibully seumur hidup kalo ketauan pergi jauh cuma demi menjemput jodoh seorang nenek. Dia harus nyelamatin "marwah".

Prajurit: No. Kecuali kamu tebus dengan sepuluh ratus dirham.

Raisya: Abang mo hargai aku segitu?!!

Prajurit: Iya, sekoin pun ga boleh kurang.

Raisya menghilang dengan cepat ke ibu-ibu dikampungnya.

Jeung Natasha: Lho koq balik. Katanya baru disunting Pangeran Arab?

Raisya: Duh, bantuin dong. Kolekan 1000 dirham.

Jeung Natasha: Ayo ibu-ibu, kita kolekan nih. Bebasin Jeung Raisya.

Sejurus kemudian, Raisya pun kembali.

Raisya: Ini, Bang. Sila dihitung. Lunas ya. Dadaaaah..

Prajurit: Iya, makasih ya. Tiati di jalan

Raisya kembali ke rumah dengan hati riang. Prajurit pun move-on secepat kilat. Dia kabarin berita ini ke kawan-kawannya senasib seperjuangan.

Prajurit 2: Dikasih berapa, Bang?

Prajurit Raisya: sepuluh ratus dirham?

Prajurit 3: Yaelah bang, nanggung amat. Segitu mah duit kecil.

Prajurit 4: Minta tu 30 ribu dirham bang minimal

Prajurit Raisya: Emang ada duit yang lebih banyak dari sepuluh ratus dirham?

Satu tenda itu cukup riuh mengolok kepolosan Prajurit Raisya ini. Dia betul-betul ngga paham hitung berhitung. Sepuluh ratus (seribu) dirham itu bukan jumlah yang banyak buat ukuran di Iraq mah.

Pada zaman dulu, meskipun uang sudah eksis, tapi transaksi utama manusia masih menggunakan barter. Ngga semua terbiasa dengan angka-angka. Dan ini adalah satu poin besar letak perselisihan dalam fiqh, antara bolehnya berzakat dengan harga barang zakat (uang) ataukah dia wajib harus dengan makanan. Satu kelompok, cukup ngotot dengan hal ini, tanpa peduli konteks keadaan zaman tersebut.

Tapi guru kami, Dr Amir Faisol Fath dalam satu ceramahnya, punya pandangan lain. Dia berdalil dengan kisah ini, betapa para salafus saleh, para pendahulu kita, kurang peduli dengan urusan dunia. Sampai masalah angka saja mereka ga tau. Urusan mereka cuma Islam semata, sisanya ga lebih dari sekadar kebutuhan harian.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kedamaian kembali digelar di kota Hira. Gerbang-gerbang kota dibuka untuk kaum muslimin. Penduduk menyambut mereka dengan suka cita. Ada sebagian kecilnya penduduk yang ternyata keturunan arab minoritas. Mungkin... mereka merasa seperti sodara minoritas keturunan chinnesse di Indo. Gembira sekali mereka menyambut Khalid dan pasukannya arabnya. Yang dianggap "Arab" itu zaman dulu cuma terbatas wilayah Saudi sekarang. Makna Arab diperluas baru setelah Islam masuk.

Misa digelar di gereja kota, melantik kembali para raja ke posisi mereka, sebagai bentuk syukur atas perdamaian ini. Sedangkan Khalid bin Walid ra diluar gereja, memimpin salat jamaah 8 rakaat dengan sekali salam, bersama hampir 10 ribu pasukannya. Semua sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Sang pemberi nikmat.

-------------------------
Referensi:
- Sword of Allah, Khalid bin Walid - Syekh Jenderal Agha Ibrahim Akram.
- Futuhul Buldan, karya pseudo Imam Baladzuri
- Tarikh Tabari
- Imam Ahmad dalam fadhailush shahabah, keutamaan Khalid
- bidayah wa nihayah. Jilid 3 dan jilid 9

Sumber : Status Facebook Zico Pratama Putra

Monday, June 29, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: