Khalid Basalamah Harus Mencabut Fatwa dan Meminta Maaf

ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Siapapun yang masih makan ketika muadzin mengatakan Allahu Akbar adzan subuh, dia harus menghentikan makannya, dan jika dimulutnya masih ada makanan atau minuman harus dimuntahkan. Imam Nawawi dalam Majmu berfatwa;

" ذكرنا أن من طلع الفجر وفي فيه (فمه) طعام فليلفظه ويتم صومه , فإن ابتلعه بعد علمه بالفجر بطل صومه , وهذا لا خلاف فيه , ودليله حديث ابن عمر وعائشة رضي الله عنهم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( إِنَّ بِلالا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ ،فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ ) رواه البخاري ومسلم , وفي الصحيح أحاديث بمعناه

"... barang siapa yang pada saat waktu subuh tiba sedangkan dimulutnya masih ada makanan, maka hendaknya dia memuntahkannya dan berpuasa, jika sudah tahu subuh tapi menelan makanan yang ada dimulutnya maka puasanya batal, dalam masalah ini tidak ada khilaf diantara semua ulama".

Jika tahu muadzin sudah mengucapkan Allah, dan orang yang akan puasa terus menelan makanan yang ada dimulutnya maka puasanya batal sejak awal waktu puasa, dan dia mempunyai dua kewajiban; kewajiban imsak sepanjang hari, menahan makan minum layaknya orang yang puasa, dan kewajiban kedua, dia wajib mengqada puasa itu.

Sebagaimana firman Allah,
( وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ) البقرة/187

Dalam ayat ini kata حَتَّى bermankan intiha al-Ghayah; kalimat setelahnya menenujukan batas akhir dari kalimat sebelumnya, "boleh makan dan minum pada malam hari selama bulan puasa sampai terbit fajar shadiq".

Dengan demikian fajar shodiq, yang sejak jaman Rasulullah saw ditandai dengan adzan kedua yaitu Adzan Abdullah bin Umi Maktum bukan bagian dari malam hari, jadi jika ada orang yang masih menelan makanan atau minuman bukan pada bagian malam hari, baik sebelum maghrib ataupun setelah kata pertama adzan subuh terdengar maka puasanya batal.

Hadis yang disalah pahami oleh Khalid Basalamah adalah hadis berikut,
إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

"Jika kalian mendengar adzan sedangkan piring makan masih ditangan maka jangan diletakan sampai kalian selesai makan".

Hadis ini menurut para ulama, jika hadis riwayat Baihaqi dan al-Hakim ini saheh maka diarahkan pada kondisi adzan pertama, yaitu adzannya Bilal, yaitu adzan waktu Imsak kalau dikita menggunakan sirine atau adzan awal, bukan adzan kedua, yaitu adzannya Umi Maktum.

Saya ulangi lagi, jika ada orang yang sedang makan, tiba-tiba adzan kedua berkumandang, yaitu adzan subuh maka ia harus memuntahkan apa yang ada dimulutnya.

لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول : ( إنَّ بِلالا كَانَ يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ ، فَإِنَّهُ لا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ ) .

Perlu diketahui, jaman sekarang adzan itu hanya salah satu tanda
waktu puasa dimulai, kita bisa mengacu pada jadwal yang dibuat pemerintah, jadi kalau sudah waktu subuh walaupun belum ada yang adzan sudah tidak boleh makan dan minum, tidak perlu menunggu adzan untuk menghentikan makan. Dan lebih amannya, menghentikan makan ketika (sirine) imsak terdengar. karena sukar sekali menghentikan makan atau minum tepat sebelum alif lafadz Allah dalam adzan.

Sekali lagi حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ kata sambung حَتَّى dimaknai oleh ulama sebagai intihaul ghayah, artinya adzan sama sekali bukan bagian dari malam hari yang ditolelir makan dan minum, sementara Khalid Basalamah memakanai حَتَّى sebagai huruf athaf, atau kata sambung yang menyatakan kata setelahnya sebagai bagian sebelumnya, yang artinya adzan subuh sebagai bagian waktu malam yang diperbolehkan makan dan minum, jadi kesimpulannya pasti keliru karena dasar berpikirnya keliru.

Fatwa Khalid Basalamah yang memperbolehkan makan dan minum selama adzan subuh itu keliru, dia keliru memaknai hadis dan keliru memaknai arti kata. Mirip-mirip ustadz yang gak hafal tasrif lah.

Kalau dia tidak merevisi fatwanya dan minta maaf atas kekeliruannya maka dia menanggung dosa semua orang yang batal puasanya karena mengikuti fatwanya. Khalid Basalamah telah berfatwa dengan fatwa yang menyelisihi ijma ulama, tidak ada seorangpun ulama yang berfatwa seperti apa yang dia fatwakan.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Friday, May 8, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: