KH Said Agil Shiradj Pernah Ikut Damaikan Sunni-Syiah di Forum Internasional

Oleh: Saefudian Achmad

 

Saat ini siapa yang tidak mengenal KH. Said Aqil Shiradj? Beliau adalah sosok yang cukup kontroversi. Tidak sedikit orang NU yang kurang suka kepadanya karena dinilai kalau ceramah bahasanya kasar, ceplas-ceplos, serta punya pemikiran nyeleneh sehingga dianggap pro syi'ah dan liberal. Tak mudah untuk memahami jalan pemikirannya, apalagi oleh orang awam kebanyakan. Kami warga NU kebanyakan lebih memilih sami'na wa atho'na terhadap pemikiran beliau. Kami yakin yang terpilih menjadi ketua PBNU bukan orang sembarangan.

Bagi kelompok Salafi dan Wahabi, beliau adalah musuh utama. Mereka sangat takut jika mendengar kabar ada sebuah pengajian diisi oleh beliau. Framing dan narasi bahwa beliau orang sesat yang menyesatkan dimunculkan agar umat tidak mau hadir di pengajiannya. Sayangya, mereka tidak pernah mau berdebat dengan beliau. Padahal, beliau siap bergabung dengan kelompok mereka jika sampai kalah debat.

 

Beliau merupakan ulama kelas dunia yang begitu tawadhu karena masih mau menerima undangan ceramah mengisi pengajian dari kampung ke kampung. Padahal beliau sudah sering menjadi pembicara di forum ulama internasioanal. ulama-ulama dunia pun begitu menghormatinya. 

Pada tahun 2010 Syaikh Wahbah Az-Zuhaili (Mufti Syiria, pengarang kitab 'Fiqhul Islam wa Adillatuhu') pernah mengirim surat untuk KH. Said Aqil Shiradj. Dalam surat yang ditulis tangan itu, Syekh Wahbah menyampaikan rasa gembira atas terpilihnya Dr KH Said Aqil Siradj sebagai ketua umum PBNU. Di bawah kepemimpinan Said Aqil, beliau berharap NU menjadi organisasi muslim terbesar yang solid.

Hebatnya, beliau bisa berbicara dengan berbagai macam model bahasa sesuai dengan audiensnya seperti apa. Saat di forum seminar, beliau mampu berbicara dengan ilmiah. Saar mengisi ceramah di kampung, beliau bisa berbicara menggunakan bahasa sederhana yang bisa dipahami oleh masyarakat di kampung. Tidak lupa dengan joke-joke cerdas yang amat disukai oleh mereka.

Beliau adalah pakar sejarah Islam yang hafal ribuan sanad keilmuan para ulama. Jika sudah bercerita soal sejarah, tanpa sadar kita akan dibuat terhenyak karena apa yang diceritakan benar-benar jarang diketahui masyarakat pada umumnya. Penjelaskan soal qadha dan qadar menurut Imam Asy'ari juga mudah dimengerti. Takdir manusia dijelaskan dengan qoul: "istito'atul insan, la qoblal fi'li, la ba'dal fi'li, faqoth 'indal fi'li". 

Contoh: Ketika manusia menginjak semut, bersamaan dengan itu Allah menakdirkan semut itu mati. Berbeda dengan Qodariyah yang menyatakan matinya semut murni kehendak manusia, bukan kehendak Allah. Berbeda juga dengan Jabariyah yang menyatakan menginjak dan semut menjadi mati adalah kehendak Allah, bukan manusia. Secara sederhana, pengikut Imam Asy'ari akan mengatakan 'insya Allah', misal jika menginjak semut maka insya Allah semut itu akan mati. Bersamaan dengan menginjak semut, saat itu Allah menakdirkan semut itu mati.Tidak boleh mengatakan jika saya menginjak semut, maka pasti semut itu mati. 

Beliau juga merupakan salah satu dari 500 orang Islam paling berpengaruh di dunia.Pernah juga berdialog dengan Nabi Palsu, Ahmad Musadeq sampai membuatnya akhirnya bertaubat dan mengakui kesalahan. 

Ada sebuah peristiwa besar yang mungkin belum semuanya tahu, yaitu tentang Kiprah KH. Said Aqil Shiradj dalam sebuah forum seminar Internasional yang diselenggarakan di Qatar pada tahun 2007. Jika tahun 2007 internet dan medsos sudah sepesat seperti sekarang ini, saya yakin orang yang suka mencaci-maki dan menghujat KH. Said Aqil Shiradj akan berpikir ribuan kali untuk melakukannya karena malu melihat kiprah beliau.

Beliau diundang dalam pertemuan Suni-Syiah di Doha, ibukota Qatar, pada 20-22 Januari 2007. Tujuannya adalah untuk mempersempit atau memperkecil sudut pandang Suni-Syiah. Dari ulama sunni yang hadir adalah Syekh Yusuf Qardhawi, Syekh Wahbah Zuhaili dan Syekh Ali Syabuni, tiga ulama dunia yang sangat terkenal. Sedangkan dari Syiah ada Syekh Ali Taskhiri.

Pada pertemuan tersebut, di hari pertama berlangsung cukup panas. Ketiga ulama dari Sunni mensyaratkan bahwa mereka bisa bertemu dengan ulama Syiah apabila pihak Syiah menghentikan caci maki terhadap sabahat. Syekh Yusuf Qardhawi meminta Syekh Ali Taskhiri dan perwakilan dari Iran untukn mengucapkan "Aisyah Radhiya Allohu 'Anha" sebagai bukti bahwa mereka tidak akan mencaci para sahabat.

Hasil dari seminar itu intinya adalah masing-masing pihak menghargai peranan masing-masing dan mengendalikan kalangan ekstrim dari masing-masing mazhab. Syekh Ali Taskhiri mengakui bahwa di kalangan Syiah memang ada juga orang-orang yang ekstrim dan fanatik dan dengan tidak bertanggungjawab mencaci maki sahabat dan Suni. Demikian pula di Suni yang ada kelompok yang ekstrim yang suka mencaci-maki Syiah, seperti kelompok Wahabi.

Pada pertemuan itu, belia diberi kesempatan berbicara dua kali. Beliau mengajak kedua pihak untuk masing-masing menulis buku tentang pengakuan dan penghargaan Suni terhadap Syiah dalam membangun peradaban. Pun juga Syiah, menulis buku tentang peranan Suni dalam membangun peradaban.

Beliau menyakan bahwapertemuan Suni-Syiah sudah lama dilakukan oleh Syekh Syaltut dan Ayatullah Burujerdi. Hasil dari kesepakatan kedua tokoh tersebut adalah bahwa madzhab Ja’fari diajarkan secara resmi di al-Azhar. Bahkan salah satu keberhasilan tersebut adalah diakuinya madzhab Ja’fari sebagai madzhab resmi dalam Islam sebagaimana empat mazhab lainnya. Rektor Al-Azhar saat itu, Dr. Ahmad Thayyib juga mengatakan banyak kaidah hukum yang diambil dari mazhab Ja’fari adalah sah, ketika tidak ditemukan pada empat mazhab. Artinya, mazhab Ja’fari adalah setara dengan empat madzhab lainnya.

Walhasil, melihat kiprah beliau yang sangat luar biasa, saya menjadi miris dan ironis melihat beliau dicaci maki oleh orang yang ilmu dan kiprahnya mungkin belum seujung kukunya beliau. Jika Mbah Hasyim Asy'ari yang hafal hadits-hadits kutubus sittah saja dibid'ahkan oleh orang yang baru hafal satu hadits, maka tak aneh jika KH. Said Aqil Shiradj dicaci maki oleh orang yang bahkan ilmu dan kiprahnya belum seujung kuku beliau.

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Saturday, September 21, 2019 - 23:00
Kategori Rubrik: