KH Ma;ruf Amin, Penggali Kitab Kuning

 
Kiai Ma’ruf Amin menamatkan Sekolah Rakyat di awal tahun 1955 kemudian melanjutkan Perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil, Cilegon, Banten. Selama enam bulan, dia belajar tata bahasa Arab dari tingkat dasar, seperti mengaji dan menghafal kitab Awamil. 
 
 
Iip Yahya dalam bukunya, KH Ma’ruf Amin “Santri Kelana Ulama Paripurna” menyebut Ma'ruf selanjutnya menekuni ilmu agama lebih dalam di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Di pesantren ini, dia mengaji kepada para murid  Hadratus Syaikh Hasyim Asyíari, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama. Kiai Hasyim Asyíari adalah kawan kakeknya, Kiai Ramli, saat belajar di Makkah. 
 
 
 
Kiai Ma'ruf diterima di Madrasah Ibtidaiyah yang setara dengan SMP. Dia berjumpa dengan guru favorit pengajar fiqih, Kiai Tahmid. Cara kiai asal Brebes Jawa Tengah itu berbicara dan berargumen sangat dikaguminya.
 
Di bawah bimbingan kiai ahli ushul fiqih ini, Kiai Maíruf antara lain mengaji kitab Al-Iqnaí fi Halli Alfazh Abi Syujaí atau dikenal sebagai Iqnaí. Kitab tebal itu merupakan karya Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad As-Syarbini.  Iqnaí merupakan syarah (uraian) atas kitab Al-Ghayah wat Taqrib karya Abu Syujaí.
 
Di Timur Tengah, seperti Mesir, kitab yang merupakan standar dalam kajian awal fiqih Mazhab Syafiíi ini dikaji di tingkat menengah, Namun Kiai Maíruf sudah menelaahnya saat duduk di bangku Ibtidaiyah. 
 
Kiai Ma'ruf juga belajar kepada Kiai Idris Kamali antara lain Tafsir Al-Baghawi, Al-Khazin, Ibnu Katsir, Al-Itqan fi Ulumil Qurían, dan Shohih Bukhori. Sedangkan kepada Kiai Syansuri Badawi, dia mengaji Jamíul Jawami dan Shohih Muslim.
 
Selain mengambil sanad keilmuan dari para kiai Tebuireng, Kiai Maíruf juga mendalami Ilmu Falak (astronomi) kepada Kiai Mahfudz Anwar di Pesantren Seblak yang tak jauh dari Tebuireng. Dia juga sering sowan untuk tabarrukan kepada Kiai Adlan Aly, tokoh tarekat pengasuh pesantren Cukir, Jombang.
Friday, March 15, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: