Keyakinan

Oleh: Saefudin Achmad

 

Menurut KBBI, yakin artinya percaya (tahu, mengerti) sungguh-sungguh; (merasa) pasti (tentu, tidak salah lagi). Dalam bahasa Arab, yakin bisa dimaknai suatu kemantapan hati. Bisa juga dimaknai ilmu yang tidak ada keraguan di dalamnya. Dalam fiqih, ada kaidah :
اليقين لا يزال بالشاك 
(keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keraguan).

 

Yakin tidak sekedar percaya, melainkan benar-benar ada kemantapan hati. Keyakinan merupakan sesuatu yang sulit digoyahkan, apalagi hanya sekedar bukti yang masih diragukan kebenarannya. Keyakinan hanya bisa digoyahkan oleh sebuah keyakinan baru yang levelnya setingkat lebih tinggi dibanding keyakinan yang pertama. Jika keyakin baru sma levelnya dengan keyakinan pertama, maka keyakinan pertama tetap tidak akan tergoyahkan.

Keyakinan tempatnya di hati. Oleh sebab itu, akal tak bisa intevensi masalah keyakinan. Meskipun akal menyodorkan bukti-bukti ilmiah dan logis bahwa yang diyakini itu keliru, tak serta merta mampu meruntuhkan keyakinan. Hanya hati yang bisa menggoyahkan keyakinan. Kuncinya, jika bukti-bukti logis dan ilmiah tak mampu menyentuh hati, keyakinan itu tidak akan goyah terlebih keyakinan paripurna (keyakinan terhadap agama dan Tuhan).

Maka kewajiban ummat Islam hanya mengajak, bukan memaksa seluruh ummat manusia untuk masuk Islam. Mau memakai dalil naqli maupun aqli, namanya keyakinan tetap sulit dirubah. Oleh sebab itu, keyakinan itu terkait dengan hidayah Allah. Orang-orang yang awalnya belum muslim, kemudian mengganti keyakinan menjadi seorang muslim, semata-mata hanya karena hidayah Allah. Tanpa hidayah Allah, dalil selogis dan seilmiah apapun tak akan mampu merubah keyakinan.

Dalam konteks yang lain terkait keyakinan, maka menjadi logis dan bisa dimengerti ketika ada orang yang begitu fanatik terhadap golongan, ormas, atau bahkan tokoh tertentu. Fanatik itu muncul karena sebuah keyakinan di hati. Jika tidak sampai yakin, fanatik itu tidak akan muncul. 

Saking fanatiknya, orang tidak akan pernah peduli dengan data dan fakta yang menunjukkan keburukan golongan, ormas, atau tokoh yang dia yakini sebagai suatu kebenaran. Data dan fakta itu hanya akan mempengaruhi akal, tidak sampai menyentuh hati. Cukup rumit. Meskipun sosok yang dia yakini orang hebat dan benar telah membuat kerusakan, dia tetap tidak peduli. Meskipun fakta terpampang di depan mata, hatinya telah tertutup. 

Terkadang merasa percuma saja menjelaskan suatu hal yang kontra dg apa yang diyakini oleh seseorang. Penjelasan selogis dan seilmiah apapun tidak akan mempan. Masih mending jika yang diyakini sesuatu yang benar dan mendatangkan maslahah. Namun jika keyakinan itu salah dan mendatangkan madharat, ini yang perlu disadarkan. 

Usaha tetap harus ada, ditambah rajin berdoa agar Allah memberikan hidayah sehingga keyakinan orang-orang kepada sesuatu yang salah dan keliru bisa berubah. Tidak boleh membiarkan begitu saja orang-orang yang meyakini hal yang keliru

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Monday, January 20, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: