Keyakinan Habib Lutfi Bin Ali Yahya Pada Presiden Jokowi

Habib Lutfi dan Jokowi

Oleh : Ahmad Tsauri

Sambil menunggu pengumuman Mentri Agama di televisi, Sabtu (24 Juni 2017) setelah maghrib saya duduk bersama Maulana Habib Luthfi di balkon. Menyimak berbagai hal mulai kilas balik pengajian Ramadhan sampai pertemuan beliau setelah ngisi ceramah nuzul quran di istana negara.

Diantara yang beliau sampaikan, "Pak Jokowi wong lempeng (sangat lurus). Kata beliau, beliau dan Jokowi akrab sejak jadi walikota Solo. Dan beliau juga yang mendukung Jokowi maju menjadi Gubernur DKI.

Jokowi sempat menyampaikan keraguannya waktu itu, tapi Maulana meyakinkan Jakarta butuh orang seperti pak Jokowi.

Saya kagum dengen kecepatan Presiden Jokowi dalam menyelesaikan banyak permasalahan negara, sebagian menjadi problem rutin tahunan, seperti kemacetan dan melambungnya harga-harga. Bulan puasa ini nyaris tidak terjadi. Kecuali kenaikan TDL PLN

Pekalongan sebagai jalur penting bagi pemudik -7 biasanya sudah mulai macet, jalan provinsi maupun alternatif dipadati kendaraa para pemudik, mobil dan ribuan motor. Mudik bagi warga dengan mobilitas tinggi di kota ini menjadi horor. Tapi tidak untuk tahun ini.

Betul Jokowi hanya melanjutkan banyak pembangunan pemerintah sebelumnya, hanya jika Presidennya bukan Jokowi saya tidak yakin jalan-jalan tol yang dibuka untuk pemudik ditahun ini di Jawa maupun luar jawa bisa dilalui pada mudik tahun 2020.

Orang yang lempeng dan lurus itu biasanya kerjanya fokus, tidak sempat mengurusi benci dan dendam kesumat, tidak ada pikiran ngakali atau akal-akalan. Hasilnya sangat efektif dalam bekerja.

Dan Jokowi orang yang hilim, hilim melampaui pemaafan. Bukan hanya mudah memberi maaf tapi juga memaklumi kesalahan yang dilakukan orang kepadanya. Lihat saja Jokowi menerima para pencacinya.

Sikapnya yang rendah hati bukan saja indikator ia memaafkan sikap kurang ajar orang-orang itu tetapi juga memaklumi kekurangan mereka yang kurang dalam 'pemahaman dan pikiran'. Jadi Pak Jokowi memaklumi mereka yang mengira hukum bisa diintervensi.

Mereka mengira mereka penting banget bagi negara ini tanpa malu menawarkan "rekonsiliasi". Agaknya mereka juga tidak sadar bahwa upaya mereka mengganti pancasila dengan khilafah itu bukan kesalahan fatal sehingga penetapan tersangka atas sikap 'bengal' mereka terhadap negara itu mereka anggap "kriminalisasu terhadap ngulama". Ngaku ulama lagi, apa gak ngisin-ngisini.

Orang lempeng itu ya seperti pak Jokowi, bisa memaklumi segala jenis manusia, baik yang polos, lugu, wagu maupun mereka yang gak tahu diri. Jika ingin melihat apa buah berpuasa, "lihatlah pak Jokowi". Kepribadian beliau merupakan prototipe manusia yang lulus di "Akademi Ramadhan" itu.

Jika tidak termasuk yang lugu dan polos, mungkin saya orang yang wagu dan tak tahu diri, untuk itu mumpung masih hari raya saya ucapkan mohon maaf lahir dan batin.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Wednesday, June 28, 2017 - 14:15
Kategori Rubrik: