Key Opinion Leader

Oleh: Dahono Prasetyo

 

Saya lebih suka menyebut KOL (Key Opinion Leader) daripada buzzer atau influencer. Mereka para KOL yang memiliki standar analisa suatu masalah di atas rata-rata, kemudian menuliskannya di berbagai media yang lalu disebar luaskan oleh para pembacanya.

Seorang KOL ber-follower hingga ratusan ribu punya tanggung jawab akurasi referensi yang dijadikan dasar opininya. Menganalisa suatu kejadian, entah itu bermasalah atau tidak, dari sudut pandang sesuai karakter seorang KOL. 

 

Lalu bagaimana dengan buzzer dan influencer? Keduanya ada di bawah KOL, dengan kata lain seorang KOL punya kelompok buzzer. Kesuksesan seorang KOL terkadang ditentukan dengungan buzzer mem-viralkan opini KOL ke lapak lapak netijen. Dan yang sedang ramai diperdebatkan adalah para "buzzer bayaran". Mereka yang tidak mustahil punya follower seukuran KOL mampu menciptakan "domino effect" yang kadang tidak diduga viralnya oleh seorang KOL.

Seorang buzzer suatu saat bisa menjadi KOL, namun seorang KOL belum tentu bisa menjadi buzzer. Cara membedakannya sederhana saja. Pada saat ada opini bagus tapi muncul dari akun incognito (penyamaran), bisa dipastikan dia seorang buzzer atau sedang menjadi buzzer. 

Jadi kalau buzzer mendapat "imbalan" itu wajar, karena ibarat marketing sebuah produk, bagaimana dia menarik penikmat produk dengan logika rayuan yang jarang bisa ditolak. Persaingan produk pasti ada, lantas siapa yang bisa membayar buzzer, yang pasti bukan dari pihak lawan. Harga seorang buzzer tidak memakai standar UMR-nya. Tapi itupun tak juga membuat dia kaya mendadak dari hasil menggaungkan. Minimalnya dia punya banyak kenalan baru di dunia maya.

Bertolak belakang dengan kelas seorang KOL. Dia jarang mendapat tawaran imbalan atas kerja kreatif otaknya. Para KOL yang biasanya sudah mapan secara dapur dan kartu ATMnya hanya punya kebanggaan saat opininya dijadikan referensi membahas suatu masalah.

Jadi kalau mau dapat saweran, jadilah buzzer atau influencer. Kalau mau dikenang banyak orang cobalah profesi KOL. Berbagi ilmu dan sudut pandang secara intelek di dunia informasi elektronik. Setidaknya itu bisa jadi tambahan pahala selain ibadah.

KOL, buzzer dan influencer yang lahir dari hasil "pengakuan" orang lain, bukan tunjuk tangan menobatkan diri sendiri. Begitu juga saya, silahkan bebas disebut apa yang pasti jangan "penulis". Karena semenjak ada komputer, laptop, gadget saya lebih banyak mengetik, daripada menulis. 

Semoga paham.
Namun jika bingung berlanjut, hubungi online shop terdekat.

 

(Sumber: Facebook Dahono Prasetyo)

Wednesday, October 9, 2019 - 08:00
Kategori Rubrik: