Keuntungan Indonesia Menang Di WHO

ilustrasi
Oleh : Niha Alif
Ternyata UU Minerba yang sekarang digencarkan pemerintah Jokowi merupakan aplikasi dari tahun 2009.
Jokowi memang terkenal berani mengeksekusi meski dihadapkan musuh-musuh kelas kakap. Tambang nikel yang berpuluh tahun diekspor dalam bentuk mentah, kini diolah sendiri dalam negeri. Memang perlu waktu untuk prosesnya. Saat pemerintah kita membuka tangan, justru China yang mau datang berinvestasi dan membangunkan smelter. Tapi, Uni Eropa sudah ketergantungan parah dengan biji nikel kita. Akankah konflik China-Jepang soal bahan baku terulang yang ujungnya Indonesia menang besar?
Sebelumnya keuntungan yang akan didapat Indonesia jika menang melawan Uni Eropa dicuitkan dalam sebuah thread oleh akun @MV_Ilestari.
Judul utasnya adalahnya "Menanti Panen Raya" yang bisa dibaca kseluruhannya di link berikut:
https://bacautas.com/1351401349557047300. Cuitannya yang viral saya retweet dan di.inta salah satu pembaca untuk menuliskan dalam sebuah artikel.
Saya sendiri telah meminta ijin untuk menuliskan rangkumannya dalam bentuk artikel dan nantinya akan ditambah beberapa catatan pendukung dari media-media maisntream dan wikipedia.
Pada awal Januari 2020, Jokowi lewat Luhut telah mencabut ijin ekspor biji nikel. Hal ini yang membuat ketegangan Indonesia dan Uni Eropa berlangsung hingga kini.
Pada waktu itu oposisi yang dulu berkuasa justru tak mendukung langkah pemerintah. Padahal adanya UU untuk mengolah sumber daya alam menjadi barang setengah jadi atau barang jadi kemudian diekspor adalah amanah UU minerba no 4 tahun 2009.
Baru ditangan Jokowi amanah ini dilaksanakan setelah berbagai persiapan diperiode pertamanya.
Tentunya Jokowi tidak serta merta menyetop ijin ekspor tanpa bisa mengolah sendiri. Untuk itu peluang investasi dibuka ke semua negara. Ada perjanjian untuk membangun smelter dan sebagainya.
Tentunya pemerintah juga berharap akan banyak tenaga kerja lokal yang terserap. Sayangnya tangan terbuka Indonesia tidak dilirik Uni Eropa. Mereka masih berpikir mengolah nikel kita di negaranya sendiri. Inilah makanya ketika China masuk, tak ada jalan lain selain kita membuka pintu.
Berkaca dari konflik China-Jepang, ada peluang Indonesia menarik investor dari Uni Eropa jika menang gugatan di WTO.
Pada tahun 2010, berita CNBC memberitakan larangan ekspor mineral tanah jarang (rare earth) dari China ke Jepang.
Seperti pada utas di atas, kebijakan ini memukul industri di Jepang. Inilah kecerdikan China yang akhirnya memaksa pabrik-pabrik di Jepang untuk membuka cabang di negaranya.
Kalau nanti Indonesia bisa menang alwan Uni Eropa soal larangan nikel.
Bukan tidak mungkin, perusahaan mobil ternama mereka masuk ke negara kita. Deretan perusahaan seperti Mercedes Benz, Audi, Volkswagen, Land Rover, Jaguar, BMW, Ferari dan lainnya tinggal menunggu waktu untuk diangkut ke sini.
Hebatnya lagi
Jokowi sudah mempersiapkan UU cipta kerja untuk menampung kemudahan investasi bagi mereka.
Siapa yang diuntungkan kalau perusahaan ternama masuk ke sini?
Jelas rakyat Indonesia.
Karena peluang lapangan kerja akan terbuka lebar.
Seperti halnya China yang menguasai kepemilikan rare earth di atas 90 persen stok di dunia, Indonesia juga pemilik nikel terbesar. Maka tak heran jika setelah mengolah biji nikel sendiri.
Indonesia bangkit dan menjadi eksportir stainless steel terbesar.
Seperti diberitakan viva.com, meski Indonesia salah satu negara yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia dengan total cadangan nikel sebanyak 21 miliar ton, tak satu pun perusahaan smelter yang berdiri dan mengolah nikel tersebut menjadi baja nirkarat.
Malah Indonesia dikenal sebagai eksportir biji nikel bagi perusahan baja seluruh dunia; Uni Eropa, China dan India. Total ekspor biji nikel Indonesia per tahun sebesar 350 juta dolar Amerika.
Sejak pemerintahan Presiden Jokowi, ekspor nikel dilarang melalui Peraturan Menteri ESDM dan mulai berlaku per 1 Januari 2020.
Jauh sebelum terbitnya Permen pelarangan ekspor bijih nikel tersebut, pemerintah Indonesia telah mengundang investor dari berbagai negara untuk berinvestasi di sektor hilir/pengembangan Nikel; baja nirkarat (stainless steel) dan baterai.
Undangan pemerintah Indonesia, disambut baik oleh investor. Saat ini, 11 smelter nikel sudah terbangun dan 25 smelter lainnya dalam proses pembangunan.
Dimulai pada akhir tahun 2015, PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) bekerja sama dengan Tsingshan Holding Group dan Ruipu Technology Group Co., Ltd. sepakat untuk mendirikan PT Indonesia Ruipu Nickel and Chorme Alloy di Kawasan Industri Morowali, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah.
Perusahaan inilah yang membawahi bisnis high-carbon ferrochrome berkapasitas sebesar 600.000 ton per tahun dan pabrik stainless steel cold rolled berkapasitas 700.000 ton.
Dari berbagai informasi diperoleh data, bahwa Kawasan Industri Morowali telah menghasilkan 3,5 juta ton stainless steel per tahunnya.
Angka yang fantastis yang membawa Indonesia sebagai produsen stainless steel terbesar keempat di dunia setelah Cina, Eropa, dan India.
Seiring dengan meningkatnya kapasitas produksi, nilai ekspor stainless steel juga mengalami kenaikan dari 2 miliar dolar AS di tahun 2017 menjadi 3,5 miliar dolar AS di tahun 2018 dan tahun 2019 menurut informasi yang diperoleh mencapai 7,5 miliar.
Tentunya pencapaian Indonesia menghantam industri stainless steel di Eropa, terutama Jerman.
Akan banyak PHK besar-besaran yang melibatkan ribuan hingga puluhan ribu pekerja. Nantinya mereka akan dihadapkan pilihan. Antara berinvestasi ke Indonesia, atau kalah dalam persaingan global dan matinya industri baja.
Jokowi sendiri sudah menyiratkan kegigihannya lewat pesan untuk menyiapkan lawyer terbaik.
Artinya negara kita harus siap menang berapapun harganya. Dan nanti sebagai balasan akan ada banyak pabrik baja hingga otomotif di Uni Eropa yang akan menancapkan kukunya di nusantara. Semoga saja Indonesia masuk jajaran negara maju di kemudian hari.
Terima kasih Jokowi!
Sumber : Status Facebook Niha Alif
Thursday, January 21, 2021 - 09:00
Kategori Rubrik: