Keturunan China, Majapahit dan Arab

Oleh: Sunardian Wirodono

 

 Orang Indonesia suka menautkan diri dengan leluhur. Khususnya leluhur yang top. Sakti atau ningrat. Para politikus suka banget gini ini. Sukarno saja, dibilang keturunan Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. 

Banyak banget pendaku (atau pun menabalkan pada tokoh pujaan) sebagai turun Majapahit. Apalagi menjelang pilkada atau pilpres. Bagaimana membuktikan? Bikinlah silsilah sendiri. Mintalah tolong ghost-writer. Mumpung banyak yang rindu-order di masa pandemi ini. 

 

Apalagi Brawijaya V, konon punya isteri seratusan lebih. Ketika Majapahit runtuh, anak-turunnya kedharang-dharang, (tapi) hingga bisa menurunkan Sultan Demak, Adipati Pati, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Mangir, Senopati, dst. Mangkanya kini ada yang suka kampanye poligami. Biar cepet banyak anak, untuk dijadikan follower ataupun buzzer. Kalau ada tudingan buzzer rupiah, kini ada pula buzzer sorga.

Era keturunan Majapahit, kini berganti era keturunan Arab, atau bahkan keturunan Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu’ alaihi wasallam. Bak jamur di musim corona. Ada pula yang ngaku keturunan paling dibanggakan oleh Kanjeng Rasul. Kalau tak percaya, tinggal gebugin. Masuk penjara ‘kan malah tambah pemuja.

Tapi suka ngeklaim keturunan ini dan itu, asal jangan ngaku keturunan China. Hanya Gus Dur yang berani. Beliau ngaku keturunan Dinasti Ming. Mingkem semua orang. Bukankah sebelum bangsa Arab masuk ke wilayah Nusantara setelah abad 6, pada abad-abad sebelumnya sudah didapat jejak peradaban, salah satunya dari bangsa China? Juga sudah ada yang disebut agama seperti Hindu dan Buddha. Dalam transisi Majapahit ke Demak (Mataram Islam), beberapa tokoh berdarah China turut serta sebagai tokoh sentral.

Tak sedikit dari kesenian, pakaian, kuliner, yang sampai hari ini kita kenakan dan cecap, berasal dari peradaban China. Saya nggak nyebut masyarakat Betawi yang nolak Ahok lho. Nanti Babe Ridwan Saidi bisa stroke. Dulu beliaune pernah nulis buku budaya Betawi yang banyak diadopsi dari China, dan baru kemudian Arab serta India, juga Sunda. Politik mah, biasa. Biasa ngeles.

Kalau penguasa kerajaan kita kemudian menautkan dengan Arab, setelah era Majapahit surut, itu politik biasa saja. Sultan Agung pun, untuk mendapat pengakuan dari kerajaan Arab, harus membawa sejumput tanah dari Mekkah. Memakai gelar ‘sultan’ sebagaimana raja-raja di Timur Tengah. Itu mah siasat biasa.

Namun di jaman jejak digital mudah dilacak, mendengar orang bangga sebagai keturunan ini dan itu, nyengir juga kita. Bukan lagi lewat pakaian dan cara ngomong. Tapi masuk ke darah mereka. Terus kenapa? Sakti? Ampuh? Semutu yang didakunya sebagai leluhur? 

Dalam kitab suci dan omongan nabi, manusia dinilai dari amal perbuatannya. Bukan dari statusnya. Mau keturunan kucing, kalau tidak nyuri ikan di meja makan kita, itu baik hati dan tidak sombong namanya. Karena kalau namanya harum, sudah khas milik Ibu Kita Kartini. 

 

(Sumber: Facebook @sunardianwirodono)

 

Monday, June 22, 2020 - 20:15
Kategori Rubrik: