Ketulusan Tigor Silaban

Oleh: Tomi Lebang

 

Bapak bersafari coklat ini adalah Tigor Silaban, 65 tahun. Ia berfoto bersama Kepala Suku Yaniruma di Kabupaten Mappi, yang masyarakatnya masih tinggal di pohon-pohon.

Dokter Tigor Silaban adalah legenda di pedalaman Papua. Begitu lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 37 tahun lalu, ia sudah memantapkan hati untuk tidak membuka praktik di kota. Ia memilih bekerja di pedalaman Papua, langsung di Oksibil, Puncak Jaya di kawasan Jayawijaya. Untuk mencapainya saat itu, hanya bisa dengan berjalan kaki selama seminggu dari Wamena -- dan ia melakukan itu berkali-kali sejak tiba pertama kali.

 

 

Bukan medannya saja yang begitu sulit, daerahnya pun dicap merah: penembakan sporadis masih marak di sana. “Tapi saya sudah berjanji kepada Tuhan. Kalau saya lulus, saya ingin bekerja di pedalaman Papua yang jauh dari Jakarta. Saya ingin menolong orang, dan tidak ingin praktik,” katanya suatu ketika.

Baru beberapa bulan bertugas di Oksibil, ada dokter yang terbunuh. Ia pun diminta pindah, tapi warga setempat marah. Maklum, di Oksibil, ia satu-satunya dokter.

Tigor bekerja hampir 24 jam setiap hari. Pagi di puskesmas, sore berkeliling ke desa-desa, dan malam dia melakukan segala macam operasi: dari menangani persalinan, tulang belakang, sampai operasi mengeluarkan anak panah.

Begitulah. Selama puluhan tahun di pedalaman Papua itu, tak terbilang lagi perjalanan yang ditempuhnya berminggu-minggu lamanya sekali perjalanan, dari kampung ke kampung untuk menggapai rumah penduduk yang sakit.

Sampai hari ini Tigor Silaban masih di Papua. Namanya menjadi legenda di pedalaman. Tidak heran, karena dalam dirinya mengalir darah legenda lain, arsitek kenamaan yang merancang Masjid Istiqlal -- Friedrich Silaban, ayahnya.

 

(Sumber: Facebook)

Wednesday, February 7, 2018 - 23:00
Kategori Rubrik: