Ketuhanan yang Eggi Sujana

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Dengan cermat kita tahu bahwa empat sila dalam Pancasila menyebutkan nomina yang dibentuk dengan konfiks ke-an: ketuhanan, kemanusiaan, kerakyatan, keadilan. Satu sila lagi juga berkelas nomina, namun dibentuk dengan konfiks per-an: persatuan.

Dalam bukunya, "Tata Bahasa Indonesia", 1991, Gorys Keraf menjejerkan makna kata yang dibentuk dengan konfiks ke-an:

1. Menyatakan tempat atau daerah.
contoh: kerajaan, kedutaan, kelurahan.
2. Menyatakan hal yang disebut kata dasar atau peristiwa yang terjadi.
contoh: kebersihan, ketuhanan, keindahan
3. Menyatakan kena atau menderita sesuatu.
contoh: kehujanan, kepanasan, kedinginan
4. Menyatakan perbuatan yang dilakukan dengan tidak sengaja.
contoh: ketiduran, kelupaan, keguguran
5. Menyatakan terlalu.
contoh: kekecilan, kemurahan, kepahitan.
6. Menyatakan sedikit sifat seperti yang disebut dalam kata dasar atau menyerupai.
contoh: kebarat-baratan, kekanak-kanakan, kehitam-hitaman.

Dari penjelasan tersebut kita bersepakat bahwa nomina dalam ketuhanan, kemanusiaan, kerakyatan, dan keadilan sebentuk dengan penjelasan Keraf di butir 2: menyatakan hal yang disebut kata dasar.

Sila kesatu dan sila kedua seolah membentuk relasi diametral: tuhan dan manusia. Padahal tidak. Seluruh sila bicara tentang manusia. Ketuhanan yang dimaksud sila kesatu tentu bukan Tuhan, melainkan segala tentang Tuhan yang ada dalam jagad raya. Dengan demikian itu juga berarti ketuhanan yang ada dalam manusia dan relasinya.

Keindahan bersifat temporal dan spasial. Keindahan dalam lagu, keindahan dalam tendangan Ronaldo, keindahan dalam puisi Sapardi, adalah keindahan yang berlaku di ruang dan momen tertentu. Sebab, di momen lain kita mengagumi keindahan Mesi ketika menggiring bola, meliak-liuk melewati empat orang pemain. Tendangan Ronaldo dan gocekan Mesi sama-sama indah, namun berbeda.

Demikian juga dengan ketuhanan.

Ketuhananku berbeda dengan ketuhananmu berbeda dengan ketuhanannya. Seperti ketika kita berbeda dalam mengalami keindahan melalui tendangan Ronaldo dan gocekan Mesi, demikian juga kita berbeda dalam menghayati ketuhanan.

Ketuhanan bahkan bisa dialami ketika kita tidak menyebut nama Tuhan, tidak menulis nama Tuhan, tidak berdoa kepada Tuhan, dan tidak memikirkan Tuhan. Seluruh aspek, perihal, sifat Tuhan, dalam rumusan agama samawi ternyata dialami para buddhis dalam praksis samadi, yoga, hening cipta-rasa-karsa.

Tak tersebut nama Tuhan, namun kedamaian dan pendamaian, keluhuran, keheningan, kepasrahan, cinta, belarasa, yang dialami penganut agama samawi ketika berdoa, dialami juga oleh para atheis ketika beryoga.

Dan kita semakin takjub saat mendapati Pancasila membubuhkan Maha Esa kepada Ketuhanan.

Esa berasal dari bahasa Sanskrit. Eka juga. Keduanya berbeda. Mari perhatikan bilangan 1 sampai 10 dalam bahasa Sansekerta.

satu --- ekam
dua --- dve
tiga---threeni
empat---chatvaari
lima---pancha
enam---shaat
tujuh---sapta
delapan---ashta
sembilan---nava
sepuluh---dasha

Eka adalah anggota bilangan sebagaimana dwi, panca, sapta, dasa, yang juga kita kenal dalam bahasa Indonesia. Eka tentu hasil operasi bilangan 2-1 atau 1X1, atau 1+0 atau 5:5.

Esa?

Secara umum esā digunakan sebagai bentuk nominatif tunggal, baik maskulin maupun feminin. Namun dalam beberapa kasus, esā juga digunakan untuk bentuk nominatif jamak. Perhatikan teks berikut yang dikutip dari buku Baghavatam:

yady eṣoparatā devī
māyā vaiśāradī matiḥ
sampanna eveti vidur
mahimni sve mahīyate

Esoparatā adalah kata bentukan dari esā dan paratā.

Paratā padan dengan menyusut, berkurang, hilang, mereda. Penggunaan verba paratā berkonsekuensi esā bukan lagi tunggal. Mana mungkin 'satu' berkurang namun masih eksis? Satu hanya bisa berkurang ketika kita terima sebagai 17/17, atau 10001/10001, atau pecahan lain yang menghasilkan 1.

| "Kalau energi maya menyusut dan mahluk hidup diperkaya penuh dengan pengetahuan oleh kasih karunia Tuhan, maka ia, sekaligus, tercerahkan dengan realisasi diri dan berletak di kemuliaannya sendiri." |

Tak ada satupun dari kita yang membayangkan energi maya dengan angka 1. Meski adagium klasik mengatakan bahwa energi itu tunggal, tak ada negatif atau positif sebagaimana sering secara cengengesan diucapkan Mario Teguh dan penggemarnya, energi kita terima sebagai sekumpulan.

Karenanya, esā adalah "mereka"; juga "dia", lelaki maupun perempuan.

Dengan menerima esā sebagai satu kumpulan maka atribut "maha" menjadi logis. Jika tidak, apa sebetulnya yang mau kita maksudkan dengan mengatakan "maha satu"?

Maka tertegunlah kita, tersimalah kita, takjublah kita, ketika berhadapan dengan sila kesatu itu. Dengan semua ketuhanan (keluhuran, kebajikan, penghayatan atas Tuhan) yang masing-masing kita miliki, kita diperintahkan untuk menjadi sekumpulan--satu kumpulan, dalam kebersatuan yang maha, yang puncak, yang tak bisa diurai lagi oleh siapapun, oleh kekuatan manapun, bahkan iblis sekalipun.

Ketuhanan yang maha esa bukan ketuhanan Egi Sujana. Tapi, ketuhanan Egi Sujana adalah bagian dari ketuhanan yang maha esa.

"Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan bahwa prinsip kelima daripada negara ini ialah ke-Tuhanan yang berkebudayaan, ke-Tuhanan yang berbudi pekerti luhur, ke-Tuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain."

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Friday, October 6, 2017 - 14:15
Kategori Rubrik: