Ketuhanan Yang Berkebudayaan

ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

" marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya menyembah Tuhan dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme agama.” Dan hendaknya negara Indonesia suatu Negara yang ber-Tuhan.

Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam maupun Kristen dengan cara berkeadaban . Apakah cara yang berkeadaban itu ? Ialah hormat menghormati satu sama lain. Nabi Muhammad SAW telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid tentang menghormati agama-agama lain.Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid itu.

Marilah kita didalam Indonesia merdeka yang kita susun ini --sesuai dengan itu—menyatakan bahwa prinsip kelima dari negara kita ialah Ketuhanan yang berkebudayaan.

Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau Saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia merdeka berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa !

( Pidato Sukarno pada 1 Juni 1945 )

Dengan dasar sila itu, Bung Karno menegaskan bahwa persoalan Agama dan Ber Tuhan adalah hak dasar yang harus menjadi keyakinan individu, sekaligus tidak menutup mata dari fakta keberagaman dalam bernegara.

Ber Tuhan tidak otomatis menampik perbedaan, tapi justru mengokohkan sikap terbuka menerima perbedaan sebagai bagian takdir kebangsaan yang dilandasi kesamaan cita-cita untuk menjadikan Indonesia sebagai hamparan taman sari berlabuhnya perahu kemanusiaan, dan keadaban

'ketuhanan yang berkebudayaan' dalam mimpi Sukarno adalah keagamaan yang diperkaya wawasan kebangsaan yang ditambatkan pada tonggak kemajemukan kebudayaan dan keragaman kepercayaan masyarakat di halaman negeri kepulauan. Keagamaan yang berenang di segara kebhinekaan masyarakatnya yang mampu menanggalkan egoisme beragama.

Soekarno yang lahir dari seorang ibu Bali (Hindu), bapak (Islam-Jawa), dan dalam asuhan Sarinah (sosialisme) sadar sesadar-sadarnya bahwa fakta kebangsaan yang majemuk sangat rentan terhadap konflik apabila tidak ada falsafah yang menjadi payung bersamanya.

Ber 'ketuhanan' harus menjangkarkan diri dalam ranah kebudayaan dan keadaban bangsa. Begitu juga kebudayaan semestinya ditancapkan pada haluan nilai-nilai ketuhanan dan keteduhan iman yang sakral dan keramat.

Amin

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Friday, August 2, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: