Ketuhanan yang Berkebudayaan, Apanya yang Salah?

ilustrasi

Oleh : Mamang Haerudin

Saya membaca salah satu tulisan warganet yang saya yakin merupakan salah seorang perempuan akademisi hebat. Ia menulis tentang isu yang sedang ramai diperbincangkan yakni Ketuhanan yang berkebudayaan. Salah satu gagasan cemerlang yang digulirkan Soekarno untuk konsepsi Pancasila yang kemudian atas konsensus para tokoh bangsa diganti dengan Ketuhanan yang Maha Esa. Tapi setelah saya baca, kok saya merasa tulisannya jauh dari substansi. Saya kebingungan dan nggak mudeng. Bisa jadi saya yang tidak paham atau tulisannya memang sulit dimengerti dan njelimet.

Kalau mau jujur, ketimbang Ketuhanan yang Maha Esa, saya justru lebih memilih konsepsi Ketuhanan yang Berkebudayaan. Apa sebab? Saat kita menyatakan "Tuhan" atau "Ketuhanan" itu sudah include bahwa kita telah mengakui bahwa Tuhan itu Esa, tidak perlu lagi disebutkan Esa-nya. Kalau Tuhan tidak Esa berarti ia bukan Tuhan, tetapi makhluk. Kenapa Tuhan disebut Tuhan karena ia berbeda dengan makhluk, ia Esa, tidak bersaudara dan bersekutu. Nah sementara konsepsi Ketuhanan yang Berkebudayaan adalah konsep kita dalam beribadah kepada Tuhan dan menjalankan agama dengan dilapisi kekuatan budaya.

Lalu apa pentingnya budaya bagi agama? Budaya memerankan sesuatu yang tidak terjangkau agama. Kita mengenal Hablum minallah dan hablum minan naas. Hablum minan naas inilah dimensi budaya. Agar agama sesuai dengan ruhnya, yang harus shalih likulli zamanin wa makanin (kontekstual dengan segala waktu dan tempat). Makanya ada kaidah yang mengatakan bahwa "Al-'Adah muhakkamah": adat/budaya bisa dijadikan hukum. Jadi Ketuhanan yang Berkebudayaan itu sesungguhnya senafas dengan konsepsi Islam Indonesia atau yang oleh PBNU disebut sebagai konsepsi Islam Nusantara. Ekspresi keberislaman yang melibatkan budaya sebagai infrastruktur agama.

Kenapa berketuhanan harus selaras dengan berkebudayaan atau juga bisa sebaliknya, berkebudayaan yang berketuhanan, ini agar ekspresi keberislaman kita tidak keras dan saklek. Dulu saat pertama kali Islam didakwahkan, Nabi Muhammad Saw., mendakwahkan Islam yang bersesuaian dengan budaya Arab setempat. Strategi dakwahnya pun mulai dari yang sembunyi-sembunyi sampai nanti secara terang-terangan. Strategi dakwah dengan pendekatan budaya juga diilhami oleh para Walisongo manakala menyebarkan Islam di tanah Jawa. Jadi konsepsi Ketuhanan yang Berkebudayaan itu apanya yang salah?

Wallaahu a'lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Monday, June 29, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: