Ketololan Ternyata Menular

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Beberapa orang ditangkapi dalam dua-tiga hari seusai melancungkan people power atau ajakan menggorok leher Jokowi. Saya tak ingin masuk ke kajian hukum tentang apakah tindakan tersebut berterima atau tidak. Biarlah pengadilan yang menilai.

Yang mau saya sampaikan melalui tulisan ini adalah sebuah peringatan: Anda tak bisa omong bebas dan berpikir tidak ketahuan. Selama Anda pengguna medsos, WA, Line, dan macam-macam layanan sejenis, selama itu pula Anda dengan mudah dilacak.

Cukup 5 menit. Berbekal foto kejadian, teknologi face recognition akan dengan mudah menemukan nama, alamat, pekerjaan, dan data-data pribadi Anda. Serius.

Pk 08:55 pada tanggal 17 April, anggota tim saya berkirim pesan Telegram: "Bang, kalau nggak ada cacat administrasi, kalau gak ada kecurangan, Jokowi bakal meraih 57%.

Percayakah saya? Percaya banget. Sejak 2012 server miliknya sudah merekam percakapan orang berbahasa Indonesia dari FB, Tumblr, dan macam-macam platform socmed lain. Dari situ mesinnya bisa membaca kecenderungan orang di satu kawasan tentang sebuah isyu.

Saya sendiri sedang membangun mesin sejenis untuk gerak kampanye buku saya. Setelah jadi, mesin saya akan tahu bahwa di jalan Iman Bonjol, Jakarta, calon pembeli buku saya ada 32 orang, misalnya. Cukup dengan mengirim tim untuk melakukan canvassing, jumlah tersebut pasti tercapai. Mesin saya gak akan meleset 1 koma pun.

Tapi saya harus punya data lengkap. Karena buku saya terbit dalam 6 bahasa: Indonesia, Inggris, Tamil, Mandarin, Spanyol, dan Prancis, saya harus dilengkapi data-data dari kawasan yang menggunakan bahasa tersebut. Ada datanya?

Ada. Sebuah perusahaan di Tel Aviv menyediakannya. Dengan lobby tertentu, dan setelah memeriksa saya habis-habisan, mereka bersedia menjual data tersebut dengan harga $1.1 juta. Saya langsung melapor ke boss agar dia yang eksekusi pembeliannya.

Selanjutnya, agar updated, mesin saya akan membaca ciapan, posting-posting baru, dari media sosial, yang dikirim dari kawasan 6 bahasa itu. Bisa? Mungkin?

Sangat mungkin. Legit. Legal. Semua posting Anda di medsos bisa dibaca siapa pun, bisa disedot, dan dari situ mesin saya akan menganalisis sekaligus belajar darinya.

Kalau si kunyuk Sahat Siagian tahu mencari dan membeli data, apalagi Polri dan organisasi pemerintah. Mereka lebih ahli daripada saya, networknya lebih luas.

Jadi, berhentilah meracau. Dalam 5 menit setelah foto atau video Anda berkoak-koak, polisi langsung tahu siapa Anda. Selanjutnya adalah urusan administrasi: surat tugas, surat perintah penjemputan, dan lain-lain. 1-2 hari Anda sudah mondok di kantor polisi.

Kalau Anda memang sudah siap dipenjara, sila teruskan. Polri sudah tak segan mengurung Anda.

Dan kalau kerusuhan meledak pasca pengumuman KPU tanggal 22 Mei, mesin saya sudah tahu berapa taksiran jumlah korban yang akan jatuh.

Mau terus menjajal kekuatan negara ini?

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Thursday, May 16, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: