Ketipu Harta Karun Soekarno

Oleh: Denny Siregar

 

Baca tentang kasus Raja Sejagat dan Sunda Empire, saya jadi pengen cerita dikit..

Kira2 tahun 2000an, seorang teman datang dari Cirebon. Dia cerita banyak tentang harta karun Soekarno yang nilainya belasan ribu triliun rupiah. Harta itu katanya ada di Bank Swiss, lengkap dengan batangan emas yang nilainya juga total ribuan triliun rupiah.

 

Pemegang Dana Abadi Umat itu namanya kalau gak salah, Abdulrahman. Dia membuat yayasan bernama Yayasan Misi Islam Ahlusunnah Waljamaah atau disingkat Yamisa. 

Kalau ini cair, katanya, setiap orang di Indonesia akan dapat minimal 400rb orang/bulan. Khusus anggota yang terdaftar beda. Anggota akan digaji minimal ratusan juta perbulan. 

Saya sebenarnya pengen ketawa. Tapi jiwa jurnalisku terpicu. Kuikuti saja apa yang temanku lakukan dan aku mendaftar jadi angggota, dibawah komando dia. Dengan catatan, saya tidak mau mengeluarkan duit berapapun.

Temanku dengan gagah bilang, "Gua bayarin, nanti tinggal dipotong kalau gaji lu cair.." Dia begitu pede semua akan berjalan lancar. Bayangin, gaji ratusan juta perbulan bok. Sapa yang gak ijo. Kerjanya cuman menyalurkan duit ke tetangga2. Enak amat.

Baru kutahu belakang hari, ternyata untuk menjadi anggota harus bayar 6 jutaan perorang. Temanku sampe berhutang puluhan juta membayari orang2 yang nanti ada dibawahnya, karena dia akan jadi pimpinan.

Dan sempat kuhadiri deklarasi Yamisa di Cirebon, dihadiri ribuan orang dengan mata penuh harapan besar. Lucunya, ada beberapa pejabat setempat yang hadir juga bikin temanku makin merasa jalannya benar.

Pada akhirnya, ZONK ! 

Si Ketua Yayasan yang katanya pegang harta karun itu, ditangkap polisi karena kasus penipuan. Kasus besar yang merugikan banyak orang ratusan miliar rupiah itu, seperti kuduga bodong. Meski dulu banyak media mainstream yang percaya padanya.

Baca berita ditangkapnya Raja dan Ratu Sejagat di Purworejo, juga ada kerajaan Sunda Empire ( Empire teh basa Sunda ? ), juga Swissindo dan banyak model lain, saya jadi ingat kasus Yamisa itu.

Titik temunya ada di harta karun Soekarno. Pola mereka sama, bahwa merekalah pemegang dana abadi umat, yang entah ada dimana itu. Mereka biasanya pegang dokumen fotokopian bahasa inggris sebagai penguat, meski itu juga entah mereka dapat darimana.

Penipuan model begini, yang kemudian sekarang diperbarui dengan model syariah" dan modus berbeda, sebenarnya sudah lama ada. Hanya korbannya sesuai masanya. Jenis korbannya juga sama, yaitu orang yang pengen cepat kaya dengan mudah dan tak perlu bekerja. 

Kenapa di Indonesia marak model beginian ?

Mungkin karena budaya kita yang senang cerita mistis, jadi senang diboongin dengan model mistis juga. Kalau gak harta Soekarno, ya janji ke surga dengan jalur ekspres. 

Kasihan sebenarnya. Temanku sendiri kudengar meninggal karena gak tahan dengan utang jutaan diluar kemampuannya, sekaligus malu karena sudah janji macam2 pada keluarga dan tetangga. 

Jadi, pesan moralnya, kalau pengen cepat kaya mendadak, jual aja cerita tentang harta Soekarno atau tentang surga. Dijamin masih ada yang percaya, karena prinsip orang bodoh itu adalah, "Ketipu satu, tumbuh seribu.."

Seruput harta Soekarnonya.. eh, kopinya..

 

(Sumber: Facebook Denny Siregar)

Monday, January 20, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: