Ketika Yusril Berambisi dan Mama Dedeh Berfilosofi

Oleh : Ryo Kusumo

Tentu bukan ucapan sembarang dari seorang Mahatma Gandhi ketika berucap: "Those who believe religion and politics are not connected, don't understand either".

Jika diterjemahkan tanpa google translate maka arti bebasnya, bahwa agama dan politik adalah berhubungan, siapa yang tidak percaya maka dia tidak memahami keduanya.

 Hal ini dilatar belakangi kepada perjuangan seorang Gandhi, seorang pengacara yang mengalami tindakan Apertheid di Afrika Selatan lalu kembali ke India dan memperjuangkan kemerdekaan India dari tangan Inggris. Gandi, seorang pejuang aktivis anti maintstream, terus berjuang dengan caranya (Satyagraha) bukan hanya untuk memerdekakan India dari tangan Inggris tapi juga perjuangan dari pemberontakan India Muslim yang menginginkan negara sendiri (Pakistan). Atas perjuangan itulah maka tak heran jika seorang aktivis setengah provokatif seperti Gandhi mampu mengilhami dunia.

Diduga keras terobsesi Gandhi, dengan predikat profesi yang sama, politik agamis secara terang benderang di gaungkan oleh Yusril Ihza Mahendra, seorang pengacara dan politikus yang memiliki power syndrom berlebih. Selama ini politik agamis seperti ngumpet malu-malu tikus. Buktinya, masih banyak dari kita yang berpikir "Ah, kok politik bawa-bawa agama, gak bisa lah". Anda gak percaya? coba cek Facebook anda, cari artikel yang tampak provokatif dan lihat komentar di bawah.

Di sebuah Tablig Akbar, secara cerah bung Yusril mengatakan bahwa "45% warga Jakarta menghendaki pemilih muslim, ini karena mayoritas warga Jakarta adalah muslim". Tidak perlu mencari lembaga survey mana karena kita pun bisa menyebut angka sesuka hati. Tapi yang lebih penting adalah substansi ucapannya.

Bung Yusril, sudah meng-klasifikasikan apa itu politik dan agama, bung Yusril clear menjelaskan tanpa perlu berbusa-busa bahwa politik bergandengan tangan dengan agama, mereka terkoneksi seperti cloud. Jika masih ada pemahaman yang memisahkan ya artinya belum paham. Atau memang sengaja memisahkan supaya dikira anti-primordialis dan pendukung garis keras demokrasi, yang ujung-ujungnya di komentari "Ah, munafik"

Pasti banyak yang mencemooh, pasti, penulis yakin. Karena seperti penulis pernah tulis sebelumnya (disini), bahwa primordialis sudah luntur, tidak laku lagi membawa isu agama, lho kok? nanti dijelaskan dibawah.

Terlepas dari itu, langkah bung Yusril membawa agama dan politik dibenarkan dan dimaklumi. Kenapa? Karena memang begitu sifatnya, langkah bung Yusril adalah langkah yang benar, beliau mengambil tema yang substansial, agama. Siapa yang bisa mengelak?

Tidak ada yang berani (atau mengerti) lalu lantas mengelak, paling banter para bapak-bapak akan tersenyum kecut di atas sajadah sambil ngomong "ah, politik lu.. males ah gua", begitu pula para santriwan-santriwati yang cuma melongo melihat pesona bung Yusril seperti Christiano Ronaldo.

 Tapi ternyata ada satu suara semi-cempreng menggelegar di Tablig Akbar itu, yaitu Mama Dedeh. Tidak ada yang menyangka bahwa ikon mamah-mamah syar'i kekinian itu bisa menjadi tandingan politik agamis ala bung Yusril dalam satu panggung

. Hebatnya, sang Mamah melontarkan pernyataan progresif level metal-rock. Mari kita cermati:

"Rakyat bosan banyak janji. Ada yang doa, ‘kuwakafkan tubuh ini buat rakyat’," katanya. "Pret! Enggak percaya gua."

Memang sudah di klarifikasi, tapi jika melihat klarifikasinya (disini), itu bukan penyanggahan, tetapi penjelasan maksud. Tidak ada yang dikurangi dari ucapan Mama Dedeh di klarifikasi itu, karena memang ada videonya, sayang videonya sudah dihapus.

Meskipun sudah di klarifikasi, tapi pernyataan ini tetap saja mendobrak jaringan politik dan agama yang selama ini terjalin tanpa restu, disaat bung Yusril secara sabar dan tekun hendak meresmikan hubungan itu, eh malah di didobrak oleh Mama Dedeh hanya dalam hitungan menit. Apa enggak sakit?

Substansinya jelas: Rakyat bosan banyak janji. Artinya jelas, gamblang, jernih, sejernih ucapan Mama Dedeh yang entah memang lugu atau sengaja, rakyat sudah bosan dengan hiasan gincu. Rakyat sudah bisa membedakan arti perjuangan Mahatma Gandhi terhadap India dengan bung Yusri terhadap Jakarta.

Gandhi dengan tubuhnya yang kurus tak kenal lelah memperjuangkan kesetaraan ras, memperjuangkan kemerdekaan India, memperjuangkan persatuan Hindu dan Muslim, nyata, jelas, gamblang. Sedangkan bung Yusril, mencoba pendekatan yang sama antar politik dan agama untuk sebuah ambisi, warna angkotnya memang betul tapi sayang arahnya salah. Bung Yusril lupa baca nomor angkot.

Jadi, penulis 'maaf' tertawa sambil terjengkang ketika membaca Mama Dedeh berani berkata seperti itu. Inilah sosok wanita progresif yang harus disetarakan dengan R.A Kartini, ya jelas berlebihan jika di anggap pahlawan, cukup masuk 20 besar wanita berpengaruh di Indonesia.

Ucapan Mama Dedeh, ya itulah yang kita rasakan. Salut penulis dengan gerakan feminisme yang bisa menciptakan tokoh progresif seperti ini. tanpa harus beratus-ratus kali pertemuan. Filosofi Mama Dedeh adalah filosofi "preet", filosofi realitas, dengan gayanya yang apa adanya memberangus habis strategi politik berbalut agama.

Padahal seorang Mama Dedeh adalah ustadzah, seorang muslimah yang berbicara tak lepas dari agama. Namun disaat ini, justru Mama Dedeh berani berkoar tanpa dalil yang mengikat, Mama Dedeh beraksi dengan apa yang dirasakan dengan kenyataan selama ini, dan bisa menghidupkan kembali syaraf otak yang terkunci.

Disinilah ketika penulis menyebut runtuhnya primordialisme adalah beralasan. Sepanjang masa, politik dan agama adalah bergandengan, saling terkait, tapi ya itu, lucunya tidak saling menyapa. Sekali lagi, apa yang dilakukan Yusril sudah benar, membawa politik ketika tablig akbar adalah logis.

 Tapi, helloooo..hari giniii! Pilihan masyarakat bukan hanya sekedar dari baju koko atau kaus mickey mouse bung.** (ak)

Sumber : kompasiana.com

Thursday, April 28, 2016 - 19:00
Kategori Rubrik: