Ketika Saya dan Presiden Jokowi Bernostalgia

Oleh: Luhut Binsar Panjaitan

Satu panggilan telepon dari Presiden membuat saya harus membatalkan semua agenda kerja di hari Selasa, 1 Maret. Padahal seharusnya saya mengikuti Sidang Pleno Tahunan Mahkamah Agung, Rakernas Kementrian Agama, dan serangkaian rapat penting lainnya.

Pukul 6.30 pagi Presiden tiba-tiba meminta saya untuk mendampingi Beliau dalam menggelar rapat Badan Otoritas Pariwisata Danau Toba. Saya segera bergegas mengejar waktu take off pesawat RI 1 pada pukul 8.30 ke Sumut.

Di sela-sela agenda hari itu, kami sempat bernostalgia sedikit seperti saat-saat kampanye Pilres 2014 lalu, di mana kami bersama-sama turun ke jalan. Hari itu kami turun lagi ke jalan-jalan yang sama dengan yang pernah kami lalui dulu, dan bertemu lagi dengan rakyat.

Unbelievable! Saya melihat ribuan rakyat berjejer, berkerumun, dan mengelu-elukan Presiden-nya di pinggir-pinggir jalan sepanjang rute Bandara Silangit sampai ke Medan.

Sambutan warga Sumatera Utara yang bahkan tak berhenti di jam 11 malam, membuat Presiden sampai total 4 kali turun dari mobilnya untuk bersentuhan langsung dengan rakyatnya.

Nostalgia kemudian berlanjut di Institut Teknologi Del (IT Del). Pada November 2013, Pak Jokowi yang saat itu masih menjabat sebagai Gubernur DKI pernah mengunjungi kampus yang saya bangun 15 tahun silam ini di kampung Sitoluama.

Kunjungan sesingkat 30 menit saja di IT Del ternyata cukup menginspirasi Presiden.

Melihat kemajuan IT Del dan pembiayaannya yang tidak mahal untuk 20% anggaran pendidikan nasional, Beliau segera mengangkat telepon dan menginstruksikan Menristekdikti untuk membangun perguruan tinggi serupa di 5 atau lebih provinsi di Indonesia. Karena hal ini sebenarnya pernah disepakati dalam Ratas Kabinet, sebagai solusi untuk mengangkat kualitas pendidikan di daerah.

Saya kira solusi dapat dilahirkan dari pola kerja kepemimpinan seperti ini, di mana pemimpin turun langsung melihat permasalahan di lapangan dengan berbekal background knowledge yang cukup, sehingga eksekusi dapat dilakukan dengan cepat.

Saya berharap keteladanan dari Presiden Jokowi ini dapat terus diikuti oleh semua rakyat Indonesia demi kemajuan Bangsa.

Tanpa pendidikan maka bonus demografi itu tidak akan ada artinya, dan kita hanya akan dijajah di negara kita sendiri karena kita kalah bersaing dengan SDM asing.

 

(Sumber: Fanpage Luhut B Panjaitan)

Thursday, March 3, 2016 - 21:30
Kategori Rubrik: