Ketika Ruh Media Mendua

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Dari sejak kelahirannya pada tahun 1615, atas prakarsa Jan Pieterzoon Coen dan menjadi jendral VOC pada tahun 1619, dia kemudian resmi melaunching koran bertuliskan tangan yg kebanyakan untuk kepentingan Hindia Belanda. Berkembang dan menjadi media dgn cetakan mesin Tahun 1688. Dia juga jendral VOC yg membantai ribuan warga Banda yg nyaris tak bersisa.

Perjalannya begitu panjang, sampai zaman otoriter Orba, dimana akhirnya pers di kontrol pemerintah di bawah koordinasi Menteri Penerangan, dan sebelumnya ada 4 koran di bredel, diantaranya Tempo. Baru diera Habibie ruh pers kembali ke raganya dan berkembang, sesuai kaidah kebebasan pers. Sayang belakangan " rada "kebablasan.

 

 

Dimulai aksi nyata TVOne dgn program ILC yg di komandani wartawan senior Karni Ilyas. Mulanya acaranya mengasikkan untuk di tonton. Ditengah perjalanan, jadi gak karu-karuan. Kita mulai sadar bahwa owner TVOne adalah ARB yg terduduk sejak kekalahan PS dalam pilpres 2014. Biasanya pers selalu dikatakan sebagai penyeimbang dan harus netral. Kenetralan TVOne dgn mengumpulkan orang-orang bermulut kasar dan menyerang pribadi-pribadi, mengolok-olok dgn sengaja, membiarkan Rocky Gerung dkk sebagai dosen tetap filsafat TVone dgn ilmu ala iblis yg dinarasikan dgn putaran yg sulit dipahami, kecuali kalimat "dungu" dan sejenisnya yg selalu disemburkanmenyerang pemerintah dan siapa saja yg tidak sepemahaman dgn dirinya. Ini yg disebut kenetralan versi TVOne.

Dalam kegiatan pers ada Etika Pers, adalah filsafat di bidang moral pers, bidang yg mengenal kewajiban-kewajiban pers. Apa yg disebut pers yg baik dan pers yg buruk, pers yg benar dan salah, pers yg tepat dan tidak tepat.

Etika Pers juga mengatur tingkah laku pers, atau dgn kata lain etika pers juga berbicara ttg apa yg seharusnya dilakukan oleh orang-orang yg terlibat dlm kegiatan pers. Sumber etika pers adalah kesadaran moral, yaitu pengetahuan ttg baik dan buruk, benar dan salah, tepat dan tidak tepat, bagi pelaku yg terlibat dlm kegiatan pers.

Pertanyaannya apakah Karni Ilyas mengerti ttg itu, atau dia sdh lupa, atau ada pengertian lain yg kita perlu belajar dari dia. Setau yg saya amati, Karni Ilyas hanya mengatur ritme orang berdebat dgn isi kepala masing-masing. Dengan pongah dan gaya tangan di masukkan ke kantong celananya, dia berjalan memutar dikerajaan ILC yg seolah tak terjamah oleh siapa saja, dan sesukanya menjadi peternakan caci maki. Karni berlindung pada UU kebebasan pers, tapi dia lupa membaca ada moral pers yg seharusnya dia jaga.

Kita lupakan Karni, sekarang ada Kompas Tv dgn Ninuk sebagai pemrednya. Saya dikhabari teman-teman, bahwa Kompas Tv, dgn Rosiana Silalahi mulai mengusili pemerintah. Saya berpikir positif, tidak apa-apa utk Control and Balance. Dan saya sempatkan menonton ujung wawancara Rosiana dgn Sri Mulyani, dimana beberapa pertanyaan memojokkan dia arahkan, untung Sri Mulyani bukan Neno Warisman, apa saja pertanyaan mengenai keuangan dan pembangunan memang makanan sehari-harinya. Sampai disesi akhir, dia menohok Rosaiana, dgn pertanyaan ; Rosaiana belum menjawab pertanyaan saya, dan raut wajah Rosalina bak buah saga merah.

Akhir minggu ini kita dihentakkan dgn hasil survey Litbang Kompas ttg elektabilitas capres, Litbang Kompas adalah salah satu yg kredibel dalam survey men survey. Kenapa mereka tidak hadir dalam release 9 lembaga survey yg semuanya menghadirkan angka kemenangan Jokowi dgn rentang 54-59 %, dan Prabowo 29-34%. Kemudian ada angka survey tandingan dari internal Gerindra dgn angka 54% Prabowo unggul dari Jokowi, seminggu kemudian angka Litbang Kompas keluar dgn 49,7%. Dari yg awam sampai Denny JA menanyakan methode survey yg dilakukan Litbang Kompas dgn beberapa kejanggalan yg semestinya bukan kelas Kompas melakukan kerjaan culas.

Menarik benang merah dari kejadian yg berurutan, memang wajar kita mempertanyakan geliat Kompas yg kurang pas. Bermula dari tiba-tiba Kompas "mengusili" pemerintah dgn pertanyaan yg tak biasa. Kemudian kedekatan Ninuk Mardiana Pambudy sang pemred dgn Bianti kakak Prabowo, dan suami Ninuk sbg orang HKTI versi Prabowo / Gerindra, kemudian ada kelainan angka anomali survey elektabilitas yg seolah melegitimasi angka survey internal Gerindra. Apakah ini sebagai paradoks, kita belum menemukan jawabannya.

Permainan ini mudah dibaca, walau harus ada pembuktiannya. Litbang Kompas yg kredibel bisa dipakai alat penguat akan hal-hal yg tak lazim, sayangnya Kompas akan berhadapan dgn 9 lembaga survey yg tidak abal-abal. Mereka akan menguji methodelogi yg dipakai Kompas. Kalau mereka nekad, maka akan terjadi argumentasi 9 lawan 1. Jadi jgn mengirim Rosiana utk mewawancarai Sri Mulyani, nanti bisa ganti pempers 5 kali.

Akhlak, itu kata kunci dimanapun dia diletakkan, dia akan terpuji atau sebaliknya. Apa saja bisa berubah bila ruh kebenaran sudah dikesampingkan. Prilaku menjadi liar sesuai nalar yg keluar dari dasar pikiran yg lepas dari ujud kebenaran. Apakah sekarang, kelak, dan diujung waktu media masih menjadi dirinya, atau alat yg mendua sesuai kepentingannya, atau besar kecilnya bayaran yg diterima.

Semoga Indonesia akan baik-baik saja, karena masih ada 9 lembaga yg bekerja sesuai ruhnya, sementara dua media yg mulanya kita anggap profesional sekarang sudah menjadi " nakal " dan " binal ".

Kita pernah mendengar kelakar, kalau mau berkuasa maka kuasai media. Apakah ini sdg berlaku di depan mata kita, wallahu a'lam, tapi memang sudah terasa kehadirannya. Hanya satu penangkalnya, rakyat tidak buta kepada media yg bermuka dua.

Media harus ada untuk Indonesia, dan Indonesia harus di jaga oleh media, bukan malah dirusak karena kepentingan golongan yg jauh dari kebenaran.

Indonesia akan jaya dgn independensi media.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Thursday, March 21, 2019 - 22:45
Kategori Rubrik: