Ketika PS Diminta Ganti Pampers

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Debat capres tadi malam menghadirkan isi debat yg memalukan. Bagaimana tidak, karena kondisinya sangat tidak seimbang. Banyak kekonyolan, blunder, dan kualitas capres sekelas PS yg begitu rendah, memang kadang kita lupa mau jadi presiden dizaman milenial saat ini tidak sama bila dibandingkan saat zaman kompeni baru pergi.

Retorika PS ttg keberpihakan dia kepada orang miskin, dan bicara UUD 45 pasal 33, dia sendiri punya tanah 340 ribu ha dgn izin HGU, sebagai kebun dan tambang. Ini bukan fitnah, ini penguasaan tanah. Yg lain, bgmn dia mau ngurus bisnis milenial, kalau ngertinya cuma jual beli on line, dia tidak paham start up, dia tak paham unicorn, untung tak disebutnya kebun jagung.

 

 

Teman2 tanya ke saya, berapa skor tadi malam kalau diibaratkan main bola. Ya.. PS itu kalahnya bkn 12:0, tapi tiang gawangnya sampai kecabut kena bola yg ditendang Jokowi.

Singkatnya, debat tadi malam makin mempertajam posisi Jokowi, sementara PS makin seperti batu es, meleleh habis dimakan waktu, ini bedanya batu karang yg ditempa ombak dgn es batu yg dikeraskan sesaat, dia tidak kuat karena memang kerangkanya bukan benda padat. Jadinya cuma sesaat, berkelebat, kemudian minggat.

Jujur, kalau kita waras, nonton debat yg digadang-gadang bakal seru, hasilnya membuat malu. Kualitas Indonesia dimata dunia, jadi ketawaan, kecuali Singapura yg makin pucat saja. ada capres ditanya selatan di jawab utara. Ya memimpin harus punya kapasitas, bukan hanya pantas, pakai jas apalagi kalau isi kepala pas-pasan atau malah kosong, hasilnya pasti pepesan kosong, ini yg disebuat prabohong.

Kita, lewati saja kekonyolan lainnya, sekarang makin jelas mana pejuang mana pecundang, suruh saja dia balik kandang daripada hangus terpanggang. Capres yg digadang-dagang hanya goyang-goyang kayak dalang, pertunjukannya hanya bagus ditonton dari layar belakang. Itupun hanya berupa bayang-bayang.

Terima kasih Pak Jokowi, anda makin menunjukkan kelas dan cerdas. Kami makin yakin Tuhan tidak salah mengirim seorang khalifah yg menjalankan perintah, bukan yg banyak membantah. Kalaupun anda dikasi pesaing itu cuma agar anda tidak kelihatan melambung sendiri dan yg lain menjadi iri.

Sekali lagi terima kasih atas sebuah dedikasi yg syarat isi, bukan asal bunyi.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Tuesday, February 19, 2019 - 14:30
Kategori Rubrik: