Ketika Orang Sono Bilang: Kapan Bisa Seperti Indonesia

Oleh: Iqbal Aji Daryono

“Ustadz, kapan berencana balik ke Malaysia?” Usai sebuah kajian, saya pernah bertanya begitu ke Ustadz Azizi Khalid.

Ustadz ganteng ini favorit saya dan istri. Caranya memaparkan materi selalu runtut, gampang dipahami, ilmunya mateng, referensinya kuat dan lengkap, dan “aura”nya itu lho, selalu bikin nyaman audiens. Hehe.

Blio juga jadi khotib tetap di Universitas Western Australia, tempat saya rutin jumatan. Kalau khotbah tentu saja pakai bahasa Inggris, tapi Inggrisnya gampang pula dimengerti karena lidah Melayunya. Selain khotbah, Ustadz Azizi juga kerap diundang ceramah di forum-forum pengajian warga Indonesia di Perth.

“Aduuuh...” Mas Ustadz menjawab gitu sambil tertawa kecil. “Tidak, lah. Malaysia tambah rusak...”

Segera mengalirlah cerita blio. Hampir semuanya mirip sekali dengan apa-apa yang tak bosan dikisahkan oleh Uncle David Ching, teman saya sesama sopir di gudang.

Tak cuma sekali dua kali Uncle ngedumel tentang Malaysia. Tentang Perdana Menteri Najib yang korupnya tak terbayangkan. Tentang cara Najib membungkam lawan-lawan politiknya, baik dengan popor bedil maupun dengan isu ras dan agama. Juga tentang bagaimana polisi yang jadi tokoh kunci pengusutan korupsi Najib dibunuh dengan begitu telanjangnya.

Sore kemarin, kami berjumpa lagi dengan Ustadz Azizi. Kali ini di pengajian keluarga muslim-Indonesia Universitas Murdoch. Usai ngaji, obrolan santai tiba lagi di isu Malaysia.

“Dulu orang Malay selalu bilang, ‘Kapan kita bisa seperti Singapore?’,” kata Ustadz Azizi. “Tapi sekarang itu sudah tidak berlaku. Yang ada orang bertanya, ‘Kapan kita bisa seperti Indonesia?’”

Waks! Kami kaget mendengar kalimat Mas Ustadz. Sampeyan pasti juga kaget.

***
Demikianlah. Yang begini-begini selalu jauh dari bayangan kita.

Kita selalu menengadah melihat ke Malaysia, melongo ngiler seolah mereka serba wah, serba maju, pendidikannya pada tinggi, orangnya pinter-pinter. Padahal coba saja datang ke toko buku mereka di sana. Tak ada lah buku-buku kajian sosial kritis begitu. Adanya buku novel menye-menye, buku-buku agama (itu pun kajian sangat standar), dan buku-buku resep masakan.

Lebih dari itu, ternyata orang-orang Malaysia sangat merindukan hak berbicara, sedangkan idola mereka untuk perkara ini sungguh luar biasa: Indonesia! Hahaha!

Tak cuma Malaysia, sebenarnya. Singapura, apalagi. Kita selalu bermimpi bisa semegah Singgapur. Padahal andai kalian di Singgapur, jangankan berkhayal bisa bikin demo ribuan orang macam FPI kemarin. Aksi damai sepuluh orang saja nyaris mustahil. Satu-satunya tempat buat demo cuma Speaker’s Corner di Hong Lim Park, itu pun harus via perizinan yang rumit, dan materi orasinya disensor dulu dengan sangat ketat oleh aparat.

Itu baru soal demo. Belum soal pemerintahannya. Jangan lupa lho, Singgapur itu kuecil, cuma seluas satu provinsi di Indonesia. Wilayah yang seupil itu pun dikelola dengan tangan besi Lee Kuan Yew, yang berkuasa resmi selama 31 tahun sebagai Perdana Menteri (1959-1990), dan berkuasa de facto sebagai Menteri Senior selama 14 tahun (1990-2004).

Secara riil, total masa kekuasaan Lee jauh lebih lama ketimbang Suharto sekalipun.

***
Yaah begitu dweeh. PR kita memang masih banyak. Amburadulnya tata kelola juga masih bejibun di sana-sini. Tapi kadangkala bersyukur atas prestasi sendiri, menjauhkan diri dari kufur ni'mat, sembari membuang mental inlander kita yang gemar memuja luwar negheri, itu saya kira perlu.

Bukan untuk menjilat penguasa dan semacamnya. Tapi sekadar biar kita nggak gampang sakit jiwa. Hahaha.

 
(Sumber artikel dan foto: Status Facebook Iqbal Aji D)
Sunday, October 16, 2016 - 23:15
Kategori Rubrik: