Ketika Nyalak Jadi Meringkik

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Adalah drama " picisan " kebohongan yg dirangkai untuk tujuan " besar ", dan berpotensi mengguncang situasi negara yg akan berujung chaos, serta beribu kemungkinan kearah kehancuran seperti apa yg diperkirakan. Indonesia sedang rentan sejak Jokowi membenahi, rentan karena para biadab yg suka melahab dan melakukan kemungkaran terusik lahannya, ibarat ladang padi, kena fuso mereka, nggak bisa panen seperti biasa. Sehingga begitu bencinya mereka kepada Jokowi, dari kepala sampai ujung kaki, kalau bisa melampiaskan geramnya, mungkin Jokowi bisa di mutilasi, walau para banci ini sebenarnya kurang bernyali, lihat saja dibelakang mereka memaki-maki Jokowi, kalau jumpa salaman saja dengan menunduk, seperti ayam ngantuk, gestur murahan, sok jagoan.

 

 

Sekarang kita lihat para banci ini, unjuk giginya mulai meringis mau nangis. Amien Rais misalnya, saat dipanggil polisi dia mau lari, datang dengan kawalan ratusan pasukan sengkuni, minta Jokowi mencopot Kapolri, lha wong mau dimintai keterangan dan masih jadi saksi saja sudah mau kencing di celana, jauh dibanding Ahok, setiap di panggil dia datang sendiri, sampai di penjarapun dia lakoni. Lagu lama, dia di panggil polisi, ngeroeng mau buka kasus lama korupsi ke KPK, padahal data aliran uang 600 jt masih ada di meja KPK, jangan-jangan malah dia yg dicokot pundaknya, eh sudah diduga dari semula, data yg dibawa cuma lembaran koran kompas, tapi repot ngeladeni orang kurang waras.

Teman se percocotannya Fahri, dari mulai nyalak, sekarang menghiba. Lucu saja liatnya, sejatinya yg lucu bukan saja mereka berdua, semua koloni bani mbacot ini lucu-lucu. Prabowo lebih lucu, lihat saja pidato-pidatonya, mirip stand up comedy, kadang saya mikir, ini orang mau jadi presiden, kok kualitasnya kayak anak-anak. Kenangan lamanya saat jadi tentara terus dibawa-bawa, bersandiwara untuk jalan berkuasa, sekarang ketahuan boongnya, ini bukan cuma masalah malu, bahkan pemilihnyapun jadi ragu, kok calon yg mereka dukung jadi makin dungu, ini akibat kalau sekelilingnya cuma ada kerumunan manusia bernafsu, tapi akalnya beku membatu, sehingga lihat oplas, mati-matian cari jahitannya dimana, tapi itu semua pura-pura, karena mereka ada disana semua, merekalah group sandiwara, ngamen untuk mendukung jagoannya jadi presiden, tapi sekarang yg mereka terima adalah PRESEDEN.

Ibarat anjing didalam pagar, siapa saja yg lewat mereka gonggong, khususnya yg berbau Jokowi, seolah penciumannya hanya mengenal satu jenis bau yg begitu mengganggu. Karena biasa mencium bau yg busuk pada makanannya sehingga hidungnya tak bisa membedakan mana makanan yg baik, mana yg busuk. Yang lewat didepannya adalah orang baik yg sedang mau membuka pagar agar dia sebagai " anjing dalam pagar keburukan " bisa bebas diluar melihat dunia lebih terbuka, tidak cupet mata dan sakit jiwa.

Psikisnya luka karena lama terendam dalam keburukan, bau mulutnya tak sedap karena ada luka didalam, luka menganga dalam hatinya, Sakit jiwa itu memang tidak harus telanjang, tapi secara tak sadar dia menelanjangi dirinya. Tugas kita menyembuhkannya, tapi teraphynya tidak bisa segera, shock teraphy dibutuhkan, apakah dengan saentuhan atau sekaligus dibenturkan. Iya mereka harus dikasi pelajaran, agar tidak terus seperti jaran edan.

KITA LAWAN KEMUNGKARAN DEMI KEBAIKAN, KITA TIDAK LAGI MAU DISEPELEKAN OLEH KAUM PICISAN. KITA SUDAH BULAT MENENTUKAN PILIHAN. #JOKOWILAGI.

Thursday, October 11, 2018 - 23:15
Kategori Rubrik: