Ketika Negara Dimusuhi Sebagian Warganya

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Sejarah panjang Indonesia yg melegenda, dari mulai kerajaan besar di nusantara, penjajahan, kemerdekaan, pemberontak, 32 thn dikuasai penguasa tiran, 10 thn dierami pemimpin yg tak memimpin. Sampai akhirnya diberi karunia oleh sang Pencipta, manusia sederhana yg datang membenahi. Jokowi, berdarah Boyolali, muncul bak wali, sekaligus dicaci maki dan dimusuhi.

Bergerak menapaki karir politik yg semula tidak dia lirik, karena keluarganya tak tertarik, tapi bak ada langit yg menarik, dalam hitungan waktu yg pendek dia menjadi pemimpin negeri ini, padahal lawannya berkompetisi sudah berkali-kali mengikuti kontestasi hasilnya gagal lagi dan lagi, malah sekarang menjadi booster Jokowi, dengan mencaci maki dia ikut melambungkan nama Jokowi. Ibarat main sepak bola dia selalu main-main di kotak finaltynya sendiri, akhirnya selalu melakukan gol bunuh diri.

 

 

Tidak bisa dihindari, pada setiap kompetisi selalu ada pilihan, pembelaan, bahkan kegilaan. Taklit bisa menjadi penyakit, tapi yg terjangkit tdk merasakan sakit, sekelilingnyalah yg merasakan kerusakan.

Indonesia, kalau tidak salah sudah 12 kali melakukan pilpres, walau di zaman orba cuma ada pilpres pura-pura, asal ada. Di zaman itulah ada pemilu yg hasilnya sudah bisa diketahui lebih dahulu, bahkan jauh sebelum pemilu dilaksanakan. Menjadi satu catatan, dalam pilpres belakangan dan yg akan dilaksanakan tahun depan, adalah pilpres yg paling berutal dan amoral yg kita rasakan.

Seiring dgn berkembangnya, medsos, makin memudahkan lawan membuat teror politik yg licik. Ada data tidak dibaca, malah fiksi yg dikalkulasi.

Bukan posisi Jokowi yg kita takuti namun proses dan progress dari pemutarbalikan fakta dan dipaksa diterima oleh warga yg kadang asal terima, hal itu bisa membahayakan negara. Berita bohong, omong kosong, janji bodong, semua dilakukan bak " gonggongan" ditengah keramaian utk menarik perhatian, kemudian mereka berlalu tanpa pernah merasakan ada yg dijanjikan, atau pernah ada yg dibicarakan.

Ada pepatah mengatakan, jangan melihat anjing yg sedang menggonggong, karena dia sedang mencari perhatian.

Masalahnya skrg kita di gonggong anjing gila, kalau kita biarkan bisa dirobek betis kita. Kita bisa lumpuh seketika dan mereka semakin gila, mungkin mereka akan memakan semua organ kita. Jangan ditanya mengapa, karena memang mereka pemangsa, bukan penjaga.

Ibarat virus rabies, jangkitannya sedang meluas kemana-mana. Virus yg sudah lama dierami dalam inkubator sekarang sedang dilepas untuk penularan keudara dgn kelembaban cuaca yg pas. Cuaca perpolitikan dgn nilai kedewasaan yg pas-pasan, malah boleh dikatakan kekanak-kanakan, dan menjijikkan. Mereka ibaratber main dikubangan lumpur sosial yg sangat bau, dan mengajak orang lain dgn mengatakan kubangan itu wangi utk direnangi.

Kita percaya bhw orang baik masih lebih banyak dari yg kesurupan kebohongan, hanya saja, jangan sampai kebohongan yg terus dilesatkan akan menjelma menjadi kebenaran, karena jejalan yg terus-terusan bisa merubah kepribadian dari kebaikan menjadi kebiadaban. Sadar atau tidak, kita sdg terbelah dan orang yg diiming-imingi janji banci bila dibiarkan makin menjadi-jadi.

Jokowi adalah keberlangsungan, jadi ini bukan soal sekedar kalah menang, tapi lebih kepada bagaimana negara dan bangsa ini berkelanjutan dalam koridor kebaikan menuju masa depan yg berpengharapan, bukan membiarkan segerombolan manusia berangasan, gila kekuasaan berkuasa tanpa konsep kebangsaan yg bisa dipertanggung jawabkan. Kita tutup inkubatornya agar virusnya tidak mewabah kemana-mana. Kita sembuhkan yg terjangkit, bila tidak bisa minimal kita jangan tergigit.

Kita harus terus waspada dan terjaga, musuh negeri ini adalah sebagian rakyatnya sendiri. Mereka berinkubasi, berharap mimpi dan keajaiban bahwa pembenarannya menjadi kenyataan.

TIDAK, JANGAN KITA BIARKAN, KARENA PASTI MEMBAHAYAKAN, BAHKAN BISA MEMUSNAHKAN. TUGAS KITA MENJAGA KELANGSUNGAN PERADABAN, BUKAN MEMBIARKAN KEBIADABAN

 

(Sumber: Facebook)

Tuesday, November 6, 2018 - 14:45
Kategori Rubrik: