Ketika Narasi Dianggap Lebih Baik Ketimbang Kerja

ilustrasi
Oleh : Agung Wibawanto
Ini sudah perdebatan lama, terutama sejak ada sosok bernama ARB saat berlaga di kontestasi pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Bahkan sebelum itu pun (saat ARB menjadi Mendikbud) sudah ramai diperdebatkan. Ya, ARB salah seorang pengusung yang mendewakan kata-kata ataupun narasi. Ia menganggap narasi adalah utama dalam menuangkan ide hingga menjadi sesuatu yang nyata.
Namun tentu tidak semua orang setuju. Setuju jika narasi sesuai dengan kerja nyatanya. Tapi jika narasi sebatas kata-kata yang tidak produktif, tidak menghasilkan sesuatu, maka akan percuma. Sebaliknya ada orang yang tidak terlalu mengandalkan kata-kata untuk merealisasikan ide gagasannya. Justru bagi kalangan seperti ini ada semacam rasa malu jika gagal tapi sudah koar-koar kemana-mana.
Jokowi dan Risma adalah dua diantara mereka yang lebih mengutamakan kerja ketimbang omongan. Ya, bagi mereka, pada akhirnya yang dinilai adalah kerjanya, bukan ucapannya. Jokowi bahkan pernah berkata, "Ucapan hanya menghasilkan alasan, sedangkan bekerja menghasilkan sesuatu," untuk itu ia lebih memilih sedikit berucap dan banyak bekerja. Begitupun dengan Risma. Ia memang tidak pandai mengelola kata, tapi jago mengelola kota.
Bandingkan saja hasil kerja Risma di Surabaya dengan hasil kerja pemimpin daerah yang dianggap jago membuat narasi tapi nol prestasi. Nah, justru disinilah yang ingin saya bahas. Mengapa kini banyak orang yang mengritik orang yang tengah bekerja? Ada yang salah, buruk, atau dianggap salah? Ada, karena semua yang dikerjakan adalah pencitraan. Apapun itu, apakah ada yang merugikan rakyat? Apakah membuat rakyat menderita?
Alasan utama dari kritikan tersebut mengatakan, bukan seperti itu kerja seorang pemimpin. Ups, benar sekali. Konsep pemimpin dan atau penguasa bagi sebagian penyinyir itu adalah orang yang berkuasa penuh, tinggal tunjuk sana-sini, perintah ini-itu, bikin aturan sekuasanya, dan duduk manis saja di kursi empuk. Pemimpin bukan pelayan yang harus bersusah payah mendatangi dan menjabat tangan rakyatnya.
Bukan orang yang turun tangan langsung melakukan sesuatu. Bukan, itu bukan pemimpin!! Percuma punya anak buah kalau juga dilakukan penguasa. Itu konsep pemimpin atau penguasa di kepala orang-orang Pandir itu. Bagi mereka, tidak ada faktor keteladanan, empati dan humanis dalam konsep pemimpin. Jokowi dan Risma sendiri justru ingin menekankan ketiga faktor itu kepada pemimpin lain di bawahnya.
Bagi Risma dan Jokowi, tanpa perlu bernarasi dan bikin aturan, seorang pemimpin atau penguasa harus memiliki faktor keteladanan, empati dan humanis. Jika dirinya sebagai presiden melakukan itu, maka diharapkan para menteri pun melakukan yang sama. Jika dirinya sebagai menteri melakukan itu, maka diharapkan para dirjen dan pelaksana di bawahnya juga melakukan yang sama. Bukan masanya lagi pemimpin adalah boss besar.
Atau kadang Jokowi dan Risma tidak pernah peduli ataupun berpikir sampai ke sana (keteladanan). Mereka hanya bekerja saja sesuai apa yang harus mereka kerjakan berdasar tuntunan hati. Berdampak atau tidak ke pemimpin di bawahnya, bahkan mereka justru dicurigai dan dinyinyiri, mereka tidak peduli. Kerja jalan terus tanpa merubah style mereka. Toh mereka tidak melanggar aturan, tidak merugikan, tidak membuat rakyat menderita.
Saya tanya, rugimu apa sih bung Roy, jika Bu Risma bantu memasak dan membungkus nasi buat pengungsi? Bu Risma tidak butuh publikasi dan pujian dari siapapun. Jokowi dan Risma sudah selesai dengan diri mereka sendiri. Adakah dirimu menjadi sakit-sakitan bung Roy? Apakah rezekimu menjadi terpotong karena kerja Risma? Terakhir, apa pula tugas seorang Roy Suryo untuk keluarga dan bangsanya, menyinyiri pekerjaan Risma? Itukah? Lucu kan?
Menjadi aneh jika orang seperti paling tahu apa yang harus dilakukan orang lain, sementara ia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya? Ya, menjadi nyinyir itu, apakah pekerjaan utama orang-orang seperti Roy Suryo, Fadli Zon dan Hidayat Nur Wahid? Bukankah itu pekerjaannya 'lambe turah' ataupun para buzzer? Mengapa tidak diserahkan ke mereka saja jika cuma mau nyinyir? Kasihan kan para buzzer kehilangan orderan untuk nyinyir karena sudah dilakukan Roy dkk? (Awib)
Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto
Tuesday, January 26, 2021 - 09:45
Kategori Rubrik: