Ketika Naik TransJakarta Bukan Lagi Pilihan

ilustrasi

Oleh : Desrinda Syahfarin

Sudah sebulan lebih saya bertekad anti naik TransJakarta untuk berangkat/pulang kerja. Okelah kalau buat weekend di luar rush hour, dan nggak buru-buru. Tapi untuk kegiatan rutin, naik TransJakarta pulang-pergi Rawamangun-Thamrin benar-benar penyiksaan secara fisik buat saya.

Dulu tuh ya, ada bus-bus AC P08 atau P16 atau P32 dari Pulogadung atau Rawamangun menuju Blok M atau Lebak Bulus (yang non-AC bus 210). Tanpa masuk jalur busway, bermacet-macet dengan jutaan kendaraan pribadi dan bus-bus lain, bus-bus itu tetap jadi pilihan saya walaupun tarifnya Rp 6,000. Alasannya cuma satu: Bisa diandalkan. Pada pukul 6:45 WIB pasti ada P16/32 yang ngetem di Terminal Rawamangun, pulangnya pukul 17:45 WIB akan ada bus yang sama di Tosari. Selalu dapat bangku untuk duduk nyaman, empuk dan remang-remang (bukan kursi fiberglass yang keras dan lampu terang benderang bikin susah tidur kalau di TransJakarta).

Kalau telat kesiangan, ketinggalan P16/32 langganan dari Terminal Rawamangun, masih ada P08 dari Arion. Kejelasan. Penting sekali buat orang kayak saya yang terlalu lelah untuk buang-buang waktu dan tenaga.

TransJakarta dulu sudah lumayan, sempat beberapa tahun saya rutin pulang pergi kerja menggunakan moda ini (sejak 210 dan P08/16/32 ditiadakan) karena headway yang bagus. Dijamin paling lama 5 menit akan ada bus lewat (selama rush hour), bahkan dijamin 35 menit pasti sampai dari Rawamangun ke Thamrin kalau naik rute Tugas-Grogol atau Tugas-Bundaran Senayan.

Frekuensi yang teratur itu banyak benefitnya, pertama: Nggak akan ada penumpukan penumpang, yang sampai di halte pasti segera naik bus nggak sampai nunggu lama. Halte Tosari itu, tempat saya naik/turun itu, semakin hari semakin nggak nyaman...panjang dan sempit bikin serasa berjejalan di liang lahat.

Kedua: Kepercayaan orang untuk naik bus akan meningkat. To be honest, nggak ada yang bisa saya jadikan alasan buat percaya bus TransJakarta akan segera datang di halte tempat saya menunggu, mendingan naik kendaraan pribadi atau ojek online ketimbang buang-buang waktu.

Dulu ada LCD display di Halte Tosari, ada petugas yang melayani pertanyaan "kapan bus datang" (dan jawabnya selalu "tunggu aja ya Bu"), sekarang nunggu cuma bisa ngandelin aplikasi Trafi, pas busnya datang terlalu penuh jadi nggak bisa naik pula. Segitukah nggak mau mikir dan koordinasi dengan polantas sehingga nggak bisa bikin timing yang bisa diandalkan kayak di Malaysia, Singapura, Australia dll padahal udah punya jalur khusus busway?

Harusnya manajemen tuh bisa menghitung berdasarkan tapping history, berapa banyak penumpang yang masuk check in ke halte tertentu, ke mana tujuannya, dengan MS Excel sederhana bisa dibikin pivot table untuk mengidentifikasi jalur mana yang butuh banyak armada dan kapan saja rentang waktunya.

Dan pake artificial intelligence dikit lah, kayak mesin cuci gitu bisa ngatur berapa banyak air dan berapa lama ngucek berdasarkan berat cucian yang dimasukkan. Ada cctv khan? Kalau lihat di Halte Tosari udah berdesakan kayak Yahudi akan dikirim ke kamp-kamp Nazi, khan dari central control (ada nggak sih?) bisa diidentifikasi bus ke arah mana yang paling banyak dibutuhkan (kelihatan dari gate mana mereka menunggu) lalu kirim armada tambahan untuk mengurangi antrian.

Rekrut dong satu orang aja yang ngerti logistics management (semacam S2 Teknik Industri kayak saya) yang bisa menerapkan analisa kuantitatif terhadap rute-rute untuk mengidentifikasi bottle neck dan menghilangkannya. DMAIC. Define. Measure. Analyze. Improve. Control. Jangan mubazir tuh PSO dari APBD.

MRT tuh bisa, padahal baru. TransJakarta yang udah beroperasi 15 tahun kok nggak bisa mempertahankan headway?

Timing saya pulang kerja naik TransJakarta pernah begini:
17:35 WIB keluar dari kantor
17:40 WIB sampai di Halte Tosari
18:15 WIB berhasil dapat bus, berdiri
18:55 WIB dapat duduk di Pramuka
19:05 WIB turun di Halte Arion
19:15 WIB sampai di rumah

(dapat busnya pun sebenarnya dengan SANGAT memaksa masuk, bodo amat petugasnya melarang, pintunya sampai hampir nggak bisa ditutup...karena saya udah capek, Ferguso!)

Jadi, dari Thamrin ke Rawamangun aja mesti Shalat Maghrib-Isya jama' takhir lho. Gila khan? Kalau naik motor, saya bisa pulang habis Shalat Maghrib dan sampai di rumah sebelum adzan Isya. Mau shalat di mana kalau lagi nunggu di Tosari? Cuma 40-45 menit kalau naik motor, atau 55-60 menit kalau naik mobil, jauh lebih nyaman dari pada nunggu berdiri berjejalan kegerahan selama setengah jam (di halte) lalu berdiri berjejalan selama minimal 40 menit (di dalam bus...kalau beruntung dapat duduk di Pramuka karena pernah juga berdiri all the way sampai Arion), masih harus jalan kaki pula terseok-seok sampai rumah.

(tanya kenapa, Bambang...)

Terakhir naik TransJakarta, karena terlalu capek membayangkan masih harus berdiri selama minimal setengah jam (kalau beruntung dapat duduk di Pramuka) plus jalan kaki lagi, akhirnya dari Halte Tosari saya turun di Halte Taman Suropati. Dari situ langsung naik ojek online, tinggal duduk sampai depan rumah. Secara rupiah (Rp 14,000) memang jauh lebih mahal, tapi tenaga dan waktu (juga kesehatan) saya terlalu berharga buat dibuang-buang kalau tetap melanjutkan perjalanan dengan TransJakarta.

So, adios TransJakarta. Kabari ya kalau udah nggenah melayani kayak dulu lagi, biar saya mau naik kendaraan umum lagi.

Sumber : Status Facebook Desrinda Syahfarin

Sunday, July 21, 2019 - 14:30
Kategori Rubrik: