Ketika Nabi Cukup Dibela, tapi Tidak Jadi Panutan

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Kita ini nyaris tanpa hari ngurusi hal-hal sepele yg diblow up kayak niup balon, pecah, udaranya menguap kembali ke udara semula, begitu terus, pengulangan dan pengulangan tanpa perbaikan. Baik menyangkut prilaku maupun akhlak yg bisa ditiru.

Minggu ini ada dua kejadian bak laga keledai yg sama-sama memecahkan jidad dungunya, pengeboman di Poltabes Medan yg merenggut nyawa dan mati konyol. Sukmawati di laporkan ke Polisi karena dia menanyakan kontribusi Nabi Muhammad atas kemerdekaan Indonesia, dibandingkan dengan Soekarno sang proklamator. 

 

Kejadian pengeboman yg jelas dilakukan orang islam hasil doktrin kebencian kepada kebaikan dan membangun eksklusifitas islam yg menganggap dirinya paling islam diantara orang islam sampai memaksakan penampilan diluar norma umum, bahkan standar seragam kerja kantor dilanggar atas nama agama, helm bisa diboncengan kuplok penggantinya dgn alasan kepalanya dilindungi Tuhan, herannya dia gak bilang perutnya diurus Tuhan, jajannya di kasi Tuhan, BBMnya diisi Tuhan, shg dia tak perlu makan, tak usah jajan, dan tak perlu demo kenaikan BBM. Barulah valid kalau yg ngebom itu orang atheis bkn orang islam.

Dua statemen yg sama-sama punya esensi pembelaan atas proses sebuah tujuan dgn bobot yg berbeda. Statemen yg mengatakan bahwa pengebom di Poltabes adalah atheis adalah pengalihan isu dan ngeles kelas sampah dan tidak jentel, untung tidak keluar dari mulut Hanum yg harum bhw itu setingan sama dgn kasus Wiranto. Padahal semua kita tau, semua itu hasil dari sebuah dokrin bagaimana sampai dia berhalusinasi atas sebuah hadiah perjuangan utk dihadiahi bidadari dgn cara membenci sesama manusia dgn menganggap agamanya boleh menjalankan kebencian dgn cara apa saja. Dia lupa Nabi yg ditauladaninya memberi balasan kurma kepada orang yg meludahinya, Nabinya menyuapi seorang Yahudi buta sampai wafatnya, pernah sang Nabi mengajari membuat sumbu bom, membuat sumbu kebencian yg melelahkan itu, jawabnya pasti tidak, itu bukan akhlak Nabi, itu bukan akhlak islam, itu hanya akhlak segelintir muslim yg tdk islami.

Sukmawati bertanya mana yg lebih pahlawan antara Nabi dan Soekarno saat berjuang meraih kemerdekaan. Pertanyaan yg sedikit "kurang" met, harusnya Mbak Sukma nanya mana yg lebih berjasa utk Indonesia Soekarno atau Soeharto, atau Soekarno apa PKS.

Gegara itu ramai orang muslim melaporkan Sukma ke polisi, umat Muhammad ini cinta sekali dgn Nabinya, tapi tidak dgn ajarannya, kalau ngomong tabayun, sampai manyunnn, tapi kalau bertindak banyak yg ngelamun. Banyak sdh korban pikiran culun seperti ini, Meliliana di Tj. Balai gara-gara minta suara azan dikecilkan, dia dipenjara, Ahok, kena fatwa MUI dan editan Buni Yani, masuk penjara, kok jadi kesannya islam Indoesia ini suka sekali sama perkara, gemar lihat kantor polisi sekaligus menganggap polisi musuhnya selalu disambangi bom, included meledakkannya, sembari membunuh orang lain yg tak berdosa.

Sukmawati, sang seniman ini memang selalu punya cara bertanya, dulu baca puisi konde, di laporkan FPI, sekarang dia bicara Nabi digeruduk oleh macam-macam jenis LSM, bahkan partai yg menamakan islam pembela terdepan agama islam.

Sesungguhnya pertanyaan yg mendalam dari Sukma kepada Nabi, apakah umat islam Indonesia masih umatnya, adakah ajarannya pernah liar seperti sekarang yg kita lihat. Bukan soal mana yg lebih pahlawan antara Nabi dan Soekarno, ini bukan masalah pahlawan, ini masalah akhlak beragama dan cara menjalankannya. Islam ibarat rumah besar yg dihuni beragam budaya, sayangnya sekarang sedang berlapis orang muslim menjaga pagarnya, disaat yg sama penghuninya membakar isi rumahnya.

Sukmawati tetesan sukma Soekarno, kekentalan darahnya adalah nasionalis. Soekarno berjuang utk kemerdekaan negerinya. Nabi Muhammad diutus utk menundukkan akhlak jahiliah dan menaikkan taqwa kepada Allah. Ada 2 kutub yg sama-sama diperlukan, walau beda zaman tapi masih relevan, dan ini cuma masalah penyampaian. Kita masih butuh mendengarkan suara motivasi keduanya baik Muhammad maupun Soekarno krn keduanya adalah pahlawan kemanusiaan yg didudukkan Allah dlm ranah zaman yg diperlukan, tdk perlu membandingkan krn tugasnya telah mereka tunaikan, kita penerusnya hanya perlu menghidupkan ajaran kebaikan yg tinggalkan. Pertanyaannya apakah kita sdh menjalankan, jangan-jangan cuma gaya-gayaan.

Jadi, sudahlah, yg merasa beragama gak perlu pakai tindakan serampangan karena itu bkn tindakan Nabi sbg panutan. Yang Nasionalis jg gak perlu kelihatan kinyis-kinyis, karena zamannya sdh milenial, kita pakai saja gaya mereka gaya MILENIALIS, Milenial yg NASIONALIS.

CERAMAH GAK PAKAI SARUNG
MARAH KOK GAK NYAMBUNG.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Sunday, November 17, 2019 - 11:45
Kategori Rubrik: