Ketika Mindfulness Makin Hilang...

Oleh: Niken Satyawati
 

Saat kecil banget saya sudah bergaul dengan teman beda agama. Dia adalah anak laki-laki yang usianya sebaya saya, Keluarganya tinggal di samping kiri rumah kami selisih satu rumah. Orangtua kami bersahabat baik. Kami klop karena sama-sama hobi membaca. Kami suka bertukar bacaan. Dia langganan Bobo dan Donal. Setiap ada serial Nina yang keluar, dia beli. Kalau datang majalah baru, kadang saya dikasih kesempatan baca duluan. Saya punya banyak Tintin, Serial Petualangan (Fatty dkk), Lima Sekawan dan Trio Detektif.

Kami main rumah2an, masak2an, naik pohon jambu/talok, mancing dan camping bersama. Saat adik saya kena beling, ayahnya yang menolong. Beliau gendong adik saya yang kakinya terus mengucurkan darah hingga sarung dan kaos putihnya jadi ikut bersimbah darah.

Saat di antara kami ada yg sakit kami saling menengok dan membawakan makanan. Saat hari Minggu, dia ke gereja. Tiga kali seminggu saya pun mengaji. Kami tidak membahas hal-hal yang menyangkut perbedaan. Kalaupun membahas, kami melakukannya dengan sangat hati-hati. Thanks God, sejak kecil saya sudah belajar bertoleransi.

Waktu berlalu, saya rasakan tahun 90-an dimulailah gosok-menggosok isu-isu SARA. Waktu itu masih malu-malu. Namun makin kesini makin hilang mindfulness baik di dunia nyata maupun di medsos ini. Orang2 tak ragu lagi teriak kafir atau hal lain tanpa empati, membahas hal sensitif dengan sangat lugas dan tanpa kehati-hatian lagi.

Sementara di sebuah sudut Facebook, ada pihak yang memanfaatkan itu semua untuk keuntungan mendapatkan like dan share sebanyak-banyaknya. Menggosok sentimen dan mempertentangkan perbedaan seekstrem mungkin menjadi kerjaan sehari-hari yang mendatangkan uang (Dia yg Namanya Tak Boleh Disebut, tahu kan yg saya maksud?)

Tanpa sadar kita semua dirugikan. Tidak hanya satu kelompok tapi seluruh bangsa ini. Bangsa yang dibangun dengan usaha keras leluhur kita untuk mempersatukan berbagai unsur yang ada.

Kita pernah porak poranda karena penjajah berhasil memecah belah bangsa. Kini bukan penjajah, tapi kita sendiri yang mencabik-cabik persatuan dan kesatuan itu.

Walau beda agama, kita tetep bersaudara, saudara dalam kemanusiaan.

Tegakah kita berperang dengan saudara sebangsa?

 

(Sumber: Status Facebook Niken Satyawati)

Tuesday, October 18, 2016 - 22:00
Kategori Rubrik: