Ketika Medsos Mengungkap Siapa Kamu Sebenarnya

Oleh: Denny Siregar
 

"Hati-hati dengan apa yang kamu pikirkan sekarang.."

Begitu kata temanku seorang manager HRD di sebuah perusahaan besar menceritakan rahasia bagaimana ia mengurus penerimaan pegawai.

"Sebuah perusahaan besar, seperti perusahaan tempatku bekerja, tidak bisa main2 dalam menerima seorang pegawai baru. Banyak kriteria yang harus kami ambil dari seseorang yang ingin menjadi bagian dari keluarga besar."

'Pintar saja tidak cukup.." Katanya sambil menyeruput kopinya di kedai kopi dengan brand terkenal. Untung saja dia yang bayar, kalau tidak saya menolak dengan keras ngopi disana. Bukannya saya tidak punya uang, cuman kebetulan aja lagi sedikit bokek. Dan dia tahu itu. Selalu tahu. Betapa sayangnya aku sama temanku yg satu ini.

"Salah satu poin penting dalam menerima seseorang adalah kejiwaannya. Kejiwaan adalah nilai terbesar dalam penilaian. Orang pintar banyak, tetapi orang dengan kejiwaan matang bisa dihitung jari.."

Kuseruput kopi yang harganya puluhan ribu rupiah itu sedikit sedikit. Sekali seruput sama dengan secangkir kopi tiga rebuan di warkop dalam gang.

"Salah satu cara melihat kejiwaan seorang calon, adalah melihat apa yang selama ini dia pikirkan. Sisi gelap yang ia tampakkan keluar dari hatinya yang terdalam, bisa sangat berbeda dengan apa yang ia tampakkan diluar.

Kami punya tim psikolog khusus untuk melihat bagaimana perilakunya di media sosial. Tim yang bekerja dengan diam dan tanpa ia tahu masuk menjadi temannya, meneliti perilakunya, memainkan emosinya, mempelajari perkembangan kejiwaan dia di tahun2 yang lalu, mengamati seberapa banyak hoax yang dia sebarkan dan terkadang kami yang menciptakan hoax itu hanya sekedar untuk memancingnya.

Perusahaan sebesar kami tidak ingin "membeli kucing dalam karung". Karena itu kami harus yakin bahwa ia benar2 sehat mental, matang serta punya kepribadian yang menyenangkan yang akan membuat suasana kerja menjadi dinamis dan memberi aura positif pada lingkungan kerjanya.

Kamu tahu dari sekian banyak pelamar, model mana yang harus kami buang duluan ?"

Sayang tidak ada tahu isi di kedai kopi ini. Seharusnya manajemen selain membuat penganan dengan nama yang menbuat lidah keriting seperti croissant, juga harus siap dengan yang lidahnya lokal. Kenapa gak mencontoh perusahaan satunya lagi yang jualan burger dan ayam dan sukses memadukannya dengan nasi ?

"Yang kayak gimana yang biasa di buang duluan ?" Tanyaku serius, meski perut kampungku keroncongan.

"Yang suka membahas hal-hal pribadi ke publik, yang selalu mengeluh dan berharap mendapat simpati dengan komen, "yang sabar yaa..", yang selalu mencaci maki, yang sempit dan dangkal cara berfikirnya..

Sialnya... yang kayak gituan yang terbanyak sehingga pilihan kami sempit jadinya.."

Kuseruput lagi kopi mahal ini. Ah, tiga rebu lagi terbuang.

(Sumber: dennysiregar.com)

Sunday, August 14, 2016 - 12:00
Kategori Rubrik: